Opini

Sinetron Pengaruhi Pendidikan Bahasa Indonesia

Siedoo, SINETRON singkatan dari sinema elektronik, adalah istilah untuk program drama bersambung produksi Indonesia yang disiarkan stasiun televisi di Indonesia. Dalam bahasa Inggris, sinetron disebut Soap Opera (opera sabun), sedangkan dalam bahasa Spanyol disebut Telenovela, dan di Amerika disebut TV Series.

Pemakaian bahasa dalam sinetron biasanya menggunakan bahasa pasaran. Yaitu, bahasa yang tidak sesuai dengan kaidah Bahasa Indonesia yang benar. Bisa jadi karena tuntutan skenario cerita yang kebanyakan menceritakan kehidupan modern dan mewah.

Sangat jarang sinetron yang berlatarkan kehidupan di pedesaan atau kampung yang masih kental dengan kehidupan berkarakter Indonesia. Misalkan ada, prosentasenya sangat kecil dan itu pun tetap menggunakan bahasa seperti pada sinetron lainnya. Hingga saat ini sinetron yang ditayangkan televisi Indonesia masih berkisar tentang kehidupan mewah, percintaan, perebutan harta, yang lebih mirip dengan cerita-cerita film atau drama India.

Cerita sinetron diawali dengan perkenalan tokoh-tokoh yang memiliki karakter yang khas satu sama lain. Berbagai karakter yang berbeda tersebut menimbulkan konflik yang makin lama makin besar, sehingga sampai pada titik klimaksnya. Akhir dari suatu sinetron dapat bahagia maupun sedih, tergantung dari jalan cerita yang ditentukan oleh penulis skenario.

Pengaruhi Pendidikan Bahasa

Televisi merupakan salah satu media komunikasi audio visual yang tidak pernah terlepas dari kebutuhan manusia. Sekarang ini, televisi bukan lagi menjadi barang yang mewah, melainkan sudah menjadi kebutuhan primer. Manusia selalu membutuhkan, karena mengingat begitu pentingnya televisi dalam kehidupan. Televisi digunakan sebagai hiburan dalam keluarga setelah melaksanakan aktivitas seharian.

Dewasa ini, media televisi mampu menyebarkan berita secara cepat dan memiliki kemampuan mengakses informasi dalam jumlah tak terhingga pada waktu yang bersamaan. Selain dampak positif dari media televisi tersebut, akhir-akhir ini kita sering menyaksikan kosakata baru yang digunakan dalam acara-acara televisi.

Kosakata-kosakata yang seharusnya tidak gunakan. Atau bahkan tidak baku, memenuhi acara-acara televisi yang seharusnya mendidik masyarakat.

Hampir semua saluran televisi menayangkan berbagai macam sinetron. Pemilik saluran televisi berlomba-lomba membuat sinetron semenarik mungkin agar peringkat mereka tinggi. Bahkan, kadang sinetron dibuat hingga berpuluh-puluh seri hingga ratusan seri. Namun, sayangnya penggunaan bahasa yang digunakan kebanyakan mencontohkan hal yang tidak baik.

Selain itu, gaya bahasa dalam sinetron dinilai merusak jati diri bangsa. Selain campur aduk, gaya bahasa sinetron juga dinilai tidak sopan. Hal ini menunjukkan kurangnya penghargaan terhadap kepribadian dan kebudayaan bangsa. Saat ini, remaja dan anak-anak belum merasa gaul kalau belum bisa menyelipkan bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya dalam percakapan.

Penggunaan bahasa dalam sinetron mempengaruhi masyarakat dalam pendidikan bahasa Indonesia. Karena penggunaan Bahasa Indonesia dalam sinetron menunjukkan beberapa faktor. Pertama, didominasi oleh pemakaian ragam bahasa Indonesia tidak baku atau tidak formal. Hal ini dilakukan agar para penonton mudah menerima bahasa yang digunakan para pemerannya.

Kedua, adanya campur kode. Campur kode merupakan suatu gejala ketika penggunaan bahasa yang satu dicampurbaurkan dengan bahasa yang lain. Dalam hal ini campur kode terjadi antara Bahasa Indonesia dengan bahasa asing, seperti bahasa Inggris. Hingga saat ini hampir di setiap aspek kehidupan, kita tak bisa dilepaskan dengan apa yang disebut campur kode.

Faktor ketiga, dalam bahasa sinetron munculnya penggunaan berbagai gaya bahasa atau majas. Seperti majas asosiasi atau perumpamaan, majas sinisme, majas hiperbola, dan lainnya.

Faktor-faktor di atas sangat mempengaruhi pendidikan Bahasa Indonesia dalam masyarakat. Bahasa percakapan keluarga hampir mirip dengan bahasa sinetron. Para orang tua mengajari anak balitanya pun dengan bahasa sinetron atau Bahasa Indonesia tidak baku.

Parahnya lagi mereka menganggap bahwa Bahasa Indonesia itu seperti bahasa dalam sinetron atau bahasa pergaulan saat ini. Bila bahasa percakapan masyarakat ibu kota (Jakarta) dianggap sesuai kaidah Bahasa Indonesia, itu suatu kesalahan. Karena kita tahu di Jakarta penduduknya terdiri dari berbagai suku dengan ragam bahasa daerahnya.

Bila dianggap, bahasa masyarakat Jakarta itu berbahasa Betawi. Itu pun tidak seratus persen benar. Karena banyak Bahasa Betawi yang salah diucapkan atau dituliskan. Contoh untuk mengucap kata sebutan kamu atau aku.

Dalam Bahasa Betawi ditulis lu dan gua yang diucapkan menjadi lu dan gue. Namun, dalam bahasa sinetron menjadi lo/loh dan gue. Begitu pula dalam tulisannya. Sehingga jelas bahasa masyarakat Jakarta kebanyakan bukanlah Bahasa Betawi.

Dengan seringnya menggunakan Bahasa Indonesia tidak baku atau bahasa sinetron dalam mendidik anak, pada akhirnya anak menjadi bingung dalam menerima pelajaran Bahasa Indonesia atau pelajaran lain di sekolahnya. Karena anak tidak terbiasa menggunakan bahasa baku di rumah. Sedangkan di sekolah menggunakan bahasa baku (kecuali sekolah dalam cerita sebuah sinetron).

Anak lebih paham dan akrab dengan kata dengerin, suapin, bego, cemen, atau endes, dari pada kata dengarkan, suapi, bodoh, penakut, atau enak sekali. Istilah bahasa prokem atau bahasa gaul lebih dipahami anak zaman sekarang dibanding bahasa baku menurut kaidah Bahasa Indonesia. Inilah contoh kecil pengaruh bahasa sinetron dalam pendidikan Bahasa Indonesia di masyarakat.

Dari uraian di atas, para orang tua seyogyanya mengajarkan anak berbahasa Indonesia menurut kaidah yang benar. Apabila kurang memahaminya, lebih baik gunakan bahasa ibu atau bahasa daerahnya. Sedangkan untuk berbahasa Indonesia yang baik dan benar, mereka akan memperoleh dari gurunya di sekolahnya kelak.

Hal itu akan lebih baik karena anak akan terbentuk karakternya dengan menggunakan bahasa ibu sehari-hari. Sekaligus mampu berbahasa Indonesia yang baik dan benar karena didikan Bahasa Indonesia di sekolahnya. Jadi, bahasa sinetron bukanlah Bahasa Indonesia baku dan Bahasa Indonesia bukanlah bahasa ibu. Bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan yang mampu menunjukkan jati diri bangsa Indonesia di kancah dunia.

 

*Narwan, S.Pd

Guru SD Negeri Jogomulyo Kecamatan Tempuran

Kabupaten Magelang Provinsi Jawa Tengah

Apa Tanggapan Anda ?