Meytha Pracelia Agatha Siswi Kelas 3A SDN Jogomulyo, Tempuran, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Featured

Sekolah dan Teman Baru Prima (Cerpen)

SMK Muhammadiyah 2 Muntilan

Siedoo, SAAT itu merupakan hari Minggu. Tidak seperti biasanya, pagi itu sepi sekali. Prima duduk di teras depan rumah ditemani si Belang, kucing berbulu belang legam kesayangannya. Belum genap satu minggu Prima beserta keluarganya pindah ke rumah itu. Pekerjaan ayahnya yang menyebabkan mereka sekeluarga meninggalkan kediaman yang lama di Solo, Jawa Tengah.

”Belang, di sini sangat tidak menyenangkan. Aku merasa kesepian, tak punya teman. Aku selalu teringat teman-temanku di Solo,” keluh Prima sambil mengelus-elus si Belang yang duduk di pangkuannya.

Si Belang hanya diam. Ia terkantuk-kantuk di pangkuan Prima, karena mungkin semalaman ia tidak tidur. Tiba-tiba Prima dikejutkan oleh suara dari arah pintu pagar.

”Selamat pagi, tetangga baru, boleh kenalan tidak anak manis?” tanya seorang anak laki-laki bertubuh tambun sebaya Prima.

Dia mengenakan baju bermotif kotak-kotak dan gayanya pun agak kocak. Rambutnya yang dicukur habis alias plontos menambah kesan penampilannya yang selalu menyenangkan.

”Siapa kamu?” balas Prima dengan nada menyelidik.

”Hahaha…jangan sewot begitu anak manis. Aku tidak bermaksud jahat kok. Aku hanya ingin berkawan denganmu, itupun kalau kamu tidak keberatan. Oh ya, boleh tidak aku masuk?” tanyanya penuh harap.

Prima termenung sejenak sambil berpikir. Dia teringat dengan pesan kedua orang tuanya untuk tidak membukakan pintu bagi orang yang belum dikenalnya. Hal ini untuk menjaga kemungkinan kejadian atau hal yang tidak diinginkan, karena Prima beserta keluarganya adalah warga baru di perumahan itu. Tetapi melihat sorot matanya yang kelihatan lugu, akhirnya Prima membukakan pintu pagar rumahnya.

”Hahaha kamu takut ya, sama aku? Jangan takut, aku bukan anak jahat kok. Aku ini anak baik-baik. Jarang lho ada anak sebaik aku ini,” katanya dengan gaya bicara yang setengah bercanda.

Prima mengernyitkan dahi sambil bertanya dengan nada ketus.

”Siapa kamu?”
”Sabar dulu dong. Seharusnya kamu sebagai tetangga baru yang memperkenalkan diri terlebih dahulu,” kata anak laki-laki mirip Bobo Ho itu.

Belum lagi Prima bicara anak laki-laki itu sudah bicara lagi.

”Namamu Prima Kartika, dan biasa dipanggil Prima. Betul tidak? Kamu baru pindah dari Solo seminggu yang lalu. Ayahmu Pak Bintang adalah seorang militer. Ibumu adalah seorang guru SD, sedang kamu kelas III dan sudah dipindahkan ke SD Kartika seminggu lalu, tapi sampai saat ini kamu belum pernah masuk sekolah,” celoteh si Bobo Ho itu.

Prima yang sejak tadi hanya mendengarkan saja menjadi heran. Bobo Ho itu tahu banyak tentang Prima dan keluarganya. Padahal belum ada tamu yang berkunjung ke rumahnya seminggu ini. Prima semakin bingung.

”Belang….jangan diam saja dong. Plis, biacaralah! Aku tidak sedang bicara dengan boneka bukan?” katanya menyindir sambil mendekati si Belang.
”E … iya …. iya. Eh … bukan!”
”Hahaha…!”
Anak tambun itu tertawa terpingkal-pingkal.
“Kamu lucu sekali. Persis deh, seperti anak baru belajar bicara,” katanya sambil menggoda.
”Jangan sembarangan! Enak saja bicara. Tahu dari mana kamu tentang aku, ngarang ya?”

”Kemarin ayah dan ibumu ke rumahku. Itu lho, rumah bercat krem yang kelihatan dari sini. Ayah dan ibumu sengaja datang ke rumahku untuk berkenalan dengan kami sekeluarga. Beliau berdua bercerita banyak tentang dirimu.”

Prima mengangguk-angguk. Kemarin kedua orang tuanya memang telah bersilaturahmi dengan beberapa tetangga sekitar rumah. Prima sendiri tidak mau ikut. Dia pun tidak mau bersekolah dan tiap hari terus merajuk pada kedua orang tuanya untuk kembali ke Solo berkumpul kembali dengan teman-teman lamanya.

Namun orang tuanya terus berusaha memberi pengertian kepada Prima bahwa kepindahan mereka ke Magelang tidak lain karena ayahnya sebagai anggota militer. Ia mendapat tugas di tempat yang baru yaitu di Akademi Militer Magelang.

”Namaku Bima. Tapi teman-teman biasa memanggilku Gendut sesuai dengan badanku yang gemuk ini. Aku sekolah di SD Kartika kelas III.”
”Kamu tidak marah dipanggil seperti itu?” tanya Prima.
”Tidak! Aku malah senang kok, itu tandanya mereka perhatian sama aku.”
”Mengapa kamu tidak masuk sekolah, padahal kata ayahmu kamu sudah didaftarkan ke SD-ku. Mengapa kamu belum juga masuk sekolah?” lanjut Bima dengan nada serius.
”Emm…. Sebenarnya …,” Prima kelihatan ragu untuk berkata.
” ..sebenarnya aku ingin kembali ke Solo berkumpul kembali dengan teman-temanku. Tapi mereka nun jauh di sana. Sementara aku di sini sendirian tak punya teman.”

”Olala, jangan begitu kawan! Kamu di sini tidak sendirian. Coba deh, nanti sore kita ke Taman Kota. Di sana pasti banyak teman sebaya kita. Setiap Minggu sore biasanya kami berkumpul dan bermain di taman itu. Tidak jauh kok dari sini. Kamu mau ‘kan?”
”Ya, aku mau!”
”Baiklah! Kalau begitu, nanti sore sekitar pukul tiga aku jemput kamu dan kita berangkat ke Taman Kota. Nanti di sana kamu kuperkenalkan dengan teman-teman. Sekarang aku pulang dulu, ya?”

Seperti janji yang diucapkan, sore harinya Bima datang menjemput, ”Selamat sore, Bu!” sapa Bima pada Ibu Prima yang sedang menyirami tanaman hias di halaman rumah. Tampak Prima juga asyik membantu beliau.

”Sore!”
”Bu, saya mau mengajak Prima ke Taman Kota. Boleh ‘kan?”

”Boleh, boleh… Sekalian biar Prima bisa berkenalan dengan anak-anak di sini,” jawab ibu si Prima.

”Kalau begitu, ayo Prima kita pergi sekarang!”.

Setelah berpamitan mereka berdua berjalan beriringan menuju Taman Kota. Sesampainya di taman, tampak anak-anak sedang bermain, ada pula yang duduk-duduk saja di taman. Satu persatu Bima memperkenalkan Prima pada teman-temannya yang berada di situ.

Mula-mula Prima merasa malu dan takut untuk berbicara. Tapi akhirnya dia mau mengobrol dengan teman-teman barunya dan kelihatan semakin akrab.

Ketika mereka pulang, raut wajah Prima kelihatan berseri-seri pertanda dia sangat gembira saat itu.

”Senang bukan kalau mau bermain dengan teman-teman di sini? Makanya jangan kuper dong. Sekarang terserah kamu, mau ngumpet terus di rumah silakan, mau berkawan dengan kami yang kami harapkan!” kata Bima menggoda.

”Kamu benar, Bim. Ternyata teman-teman di sini sangat baik dan mau bersahabat denganku,” sahut Prima dengan senyum ramahnya.

”Makanya, jadi anak itu harus gaul….gicu loh!,” jawab Bima dengan bahasa gaul sambil bercanda.

Dalam perjalanan pulang, di antara gurauan-gurauan Bima yang kocak, di sepanjang trotoar senja itu, Prima berjanji dalam hati bahwa besok pagi dia akan mulai masuk sekolah. Itu untuk memulai lembaran baru di tempat yang serba baru. Prima mendapat pelajaran baru, ternyata anak-anak di mana pun baik. Asal kita juga berbuat baik kepada mereka.

Magelang, Februari 2018

*Meytha Pracelia Agatha
Siswi Kelas 3A SDN Jogomulyo, Tempuran, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah 56161

Apa Tanggapan Anda ?