Opini

Pengaruh Menghafal Al-Quran dalam Meningkatkan Daya Ingat Siswa

Siedoo, Menghafal Al-Quran merupakan suatu proses mengingat, dimana seluruh materi ayat berupa rincian lainnya seperti fonetik, waqaf, dan lain-lain. Dengan menghafal Al-Quran, seseorang dipermudah dalam memahami dan mengingat isi-isi Al-Quran dan juga menjaga keotentikannya serta dapat menjadi sebuah amal ibadah.

Menghafal Al-Quran juga mempunyai manfaat dalam akademis. Pertama Al-Quran merupakan pengetahuan dasar bagi mereka para penuntut ilmu atau thalabal ‘ilmi. Apabila ia menghafal Al-Quran, maka akan memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap studinya. Sebab Al-Quran merupakan sumber pengetahuan.

Selain sebagai sumber pengetahuan, Al-Quran juga menjelaskan secara menyeluruh berbagai macam disiplin ilmu pengetahuan. Baik itu material maupun immaterial. Hal ini dijelaskan Dr. Jarman Arroisi dalam tulisannya yang berjudul Spiritual Healing dalam Tradisi Sufi.

Kedua, orang yang menghafal Al-Quran pasti akan meningkatkan kecerdasan akalnya dalam mengingat sesuatu. Sehingga dalam masalah hafalan pelajaran para penghafal Al-Quran rentan cepat dalam menghafal dibandingkan mereka selain penghafal Al-Quran.

Seringkali para penghafal Al-Quran dikenal karena memiliki kecerdasan yang tinggi. Baik itu kecerdasan emosional, intelektual apalagi spiritual.

Otak yang sering digunakan untuk menghafal ayat-ayat Al-Quran akan terlatih untuk mengingat. Kegiatan pembelajaran di kelas tidak lepas dari kegiatan memahami dan menghafal. Setiap mata pelajaran hampir di setiap kompetensi dasarnya ada kegiatan menghafal.

Tentunya kemampuan menghafal setiap anak akan berbeda. Bakat dan minat juga menjadi hal yang utama. Tapi pengaruh dari luar sebuah kebiasaan juga dapat mempengaruhi bagaimana menghafal sesuatu dapat berkembang baik.

Salah satu sekolah umum berbasis pondok, SMP Muhammadiyah Salam, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah di bawah naungan Pondok Pesantren Tarbiyatul Mukmin. Sekolah yang saya tempati untuk mengajar sekarang ini, peserta didik yang pada awalnya sebagian besar dengan tingkat kemampuan dan prestasi yang masih kurang.

Baca Juga :  Perlu Dipahami Guru, Berikut Tiga Tahap Gerakan Literasi Sekolah

Untuk menunjang pembelajaran, pondok punya kurikulum yang berdiri sendiri. Dalam pembelajaran di pondok yang meliputi Nahwu, Sharaff, Fiqih, Imla, Khot, Mahfudhat, Muthola’ah, Bahasa Arab, Muhadloroh, Tahsin dan menghafal Al -  Quran (Tahfidzul Quran).

Semua pembelajaran itu syarat dengan menghafal, metode menghafal Al - Quran adalah salah satu brand di sekolah kami. Kegiatan menghafal Al - Quran adalah target dari santri yang juga sebagai peserta didik agar dapat lulus. Menghafal Al - Quran dengan diawali menghafal surat-surat pendek sampai surat-surat panjang dalam Al - Quran.

Semakin sering membaca Al - Quran ternyata juga peningkatan otak dalam mencerna informasi. Anak santri dengan kewajiban menghafal surat- surat pendek dalam Al - Quran, sehingga mau tidak mau harus melaksanakan karena itu tuntutan dan kewajiban. Dari tidak biasa mereka menjadi bisa, karena terbiasa menghafal terus menjadikan mereka enggan untuk diam.

Dari sinilah niat suka terhadap literasi terbentuk. Anak-anak mulai senang membaca, apapun bacaannya. Nah dari sinilah awal membentuk kebiasaan membaca buku pelajaran. Mereka menyadari dengan terbiasa membaca akan lebih dapat memahami sesuatu dengan baik

Metode menghafal Al - Quran efektif untuk membentuk kebiasaan membaca. Metode ini diterapkan di sekolah kami sangatlah pas “Ya Sekolah ya Ngaji”. Input anak-anak yang belum bisa ngaji dituntut untuk bisa ngaji, tidak sekedar ngaji tapi menjadi penghafal Al - Quran.

Anak-anak dengan tingkat pemahaman Al - Quran yang baik akan terbukti mampu meningkatkan daya ingat pada mata pelajaran, baik umum maupun ciri khusus. Terlebih lagi mereka dapat menunjukkan peringkat yang baik di kelasnya. (*)

 

 

*Arina Kusumawati, S.Pd.
Guru SMP Muhammadiyah Salam, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah

Apa Tanggapan Anda ?