Opini

Fenomena Stres Akademik dan Solusinya

TEMANGGUNG - Hamidulloh Ibda, Wakil Ketua I Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Temanggung, Jawa Tengah memotret fenomena stres akademik akibat Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang berkepanjangan selama masa pandemic covid-19. Ia menegaskan bahwa, tidak hanya dirinya sendiri, namun hampir semua pendidik diyakini mengalami stres akademik berkepanjangan.

"Di dalam esai sudah saya tulis, saya kira tidak hanya saya yang mengalami stres akademik. Akan tetapi para dosen di perguruan tinggi lain juga demikian," kata dia.

Hasil temuannya itu ia tuangkan dalam sebuah karya tulis, esay. Menurut dia, mahasiswa dalam satu semester mengambil 22-24 SKS mata kuliah. Jika 1 SKS atau 1 jam KBM dilakukan secara daring selama 50 menit, maka 1 minggu mahasiswa melakukan PJJ selama 18-20 jam.

"Apalagi ini sudah berjalan 1 tahun lebih. Mereka belajar dengan moda PTM saja tidak semuanya paham materi perkuliahan dan masih ada fenomena stres akademik. Lalu, bagaimana jika PJJ seratus persen dalam waktu 18-20 jam tersebut,” beber penulis buku Dosen Penggerak Literasi tersebut.

Dalam tulisan itu, ia memberikan solusi atas fenomena stres akademik. Merujuk pada Caesaria, Ibda menemukan data sejak awal pandemi covid-19, 87,7 persen mahasiswa di Bangladesh mengalami kecemasan ringan sampai berat.

Di Prancis terdapat 60,2 persen mahasiswa mendera kecemasan tinggi, 88 persen mahasiswa Fakultas Kedokteran UPN Veteran mendera kecemasan berat dan kecemasan sedang sebanyak 12 persen. Akibat PJJ, 250 dari 262 mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta lebih dari 12 kali mengalami tingkat stres tinggi.

“Mahasiswa di kampus saya pun sama. Dampak stres ringan dan berat terjadi pada mahasiswa di delapan kelas yang saya ampu. Analisis saya, dampak itu terjadi pada stres ringan sampai stres berat," ungkapnya.

Baca Juga :  Membangun Karakter Siswa, Guru Dapat Lakukan 7 Hal Berikut

Buktinya mereka abai pada tugas perkuliahan, sering pusing, kehilangan arah, tidak aktif bahkan absen ketika PJJ. Hanya 65 persen saja yang ikut ketika ia menerapkan platform Zoom Meeting.

Mereka juga ditemukan banyak yang terkendala membayar SPP. Setelah ditelisik, ternyata bukan karena masalah tidak punya dana.

"Setelah dilakukan home visit kok ternyata mereka sudah diberi uang oleh orang tua, namun memang tidak dibayarkan. Rata-rata demikian yang ditemukan tim home visit kemarin,” ungkap Ibda.

Melalui esai bertajuk "Memutus Mata Rantai Stres Akademik", dosen Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) STAINU Temanggung ini dinobatkan sebagai Juara 2 dalam Lomba Esai Populer Tingkat Nasional tahun 2021. Kegiatan ini digelar Prodi Bimbingan dan Konseling Pendidikan Islam (BKPI) dengan Prodi Tadris IPA Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Syarif Kasim Riau yang diumumkan via Zoom Meeting dan Youtube pada Kamis (6/5/2021).

Atas fenomena itu, dalam esai tersebut Ibda menawarkan sebuah solusi dari fenomena stres akademik dengan resiliensi akademik. Resiliensi akademik intinya kemampuan individu untuk bertahan, bangkit, dan menyesuaikan diri dengan kondisi yang sulit dan penuh tekanan dalam bidang akademik.

"Resiliensi akademik menjadi jawaban atas fenomena stres akademik,” tegas Koordinator Gerakan Literasi Ma’arif (GLM) tersebut.

Solusi Stres Akademik

Dari konsep itu, Ibda menawarkan sejumlah solusi atas stres akademik. Pertama, pendekatan personal untuk mengembalikan kemampuan personal, harga diri, dan rasa percaya diri. Kedua, pendekatan dengan keluarga dan teman dekat mahasiswa.

Ketiga, membuat koordinator kelas, organisasi kemahasiswaan (DEMA, SEMA, dan UKM), serta membuat orang tua asuh yang terdiri atas guru-guru mereka saat SMA. Keempat, menerapkan sentuhan rohani lewat beberapa kegiatan keagamaan.

Baca Juga :  Nuzulul Quran dan Ilmu Pengetahuan

"Beberapa langkah ini sudah dilakukan dan hasilnya sangat signifikan,” beber dia.

Sementara itu, diakhir sesi acara pertemuan online, secara simbolis diberikan Piala Kejuaraan yang disampaikan Wakil Dekan Bidang Administrasi Umum, Perencanaan, dan Keuangan FTK UIN Suska Riau Dr. Rohani, M.Pd. Ia berpesan, bahwa fenomena hari ini harus tetap menuntut pendidik kreatif.

“Selamat untuk para juara. Pendidik harus menyesuaikan dengan fenomena yang ada. Jadi kalau namanya status kita pendidik, inovasi dan kemampuan apapun yang kita miliki,” pesannya.

Selain Hamidulloh Ibda yang dinobatkan sebagai Juara 2, untuk kategori pendidik yang mendapatkan juara yaitu Afdhal Kusumanegara dosen Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau sebagai Juara 1 dan Sumarni guru SMPN 45 Pekanbaru sebagai Juara 3. Selain mendapatkan piala, peserta mendapatkan sertifikat dan uang tunai.

Kegiatan tersebut terlaksana sejak awal April 2021. Untuk pendaftaran dilaksanakan 15–30 April 2021, penilaian 1–2 Mei 2021, dan pengumuman 6 Mei 2021 yang menobatkan 3 Juara pada masing-masing kategori, yaitu kategori siswa, mahasiswa, dan pendidik.

Kegiatan perlombaan bertajuk “Pengalaman Belajar-Mengajar Jarak Jauh di Masa Pandemi Covid 19” ini diikuti ratusan peserta dari seluruh Indonesia. Dewan Juri pada lomba ini terdiri atas Dekan FTK UIN Suska Riau Dr. H. Muhammad Syaifuddin, M.Ag., Ketua Prodi TIPA Susilawati, M.Pd., dan Ketua Prodi BKPI Dr. Amirah Diniaty, M.Pd. Kons. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?