Siedoo.com - Menteri Kesehatan RI Ir Budi Gunadi Sadikin CHFC CLU meninjau langsung alat deteksi Covid-19 i-nose c-19 karya guru besar ITS Surabaya, Jawa Timur. | foto : Humas ITS
Nasional

Menkes Tinjau Langsung Alat Deteksi Covid Melalui Ketiak

SURABAYA – Menteri Kesehatan (Menkes) RI Ir Budi Gunadi Sadikin CHFC CLU menyebutkan target vaksinasi sejumlah 38 juta orang atau 76 juta suntikan di Indonesia. Jumlah itu direncanakan selesai pada akhir Juni 2021 mendatang.

Salah satu yang diutamakan ialah para lansia karena orang-orang dalam rentang usia ini memiliki fatality rate yang tinggi, sehingga lebih berisiko terhadap Covid-19. Dengan jumlah lansia di Indonesia yang mencapai 21 juta orang, Menkes menyatakan perlunya dukungan masyarakat. Menurutnya, vaksinasi ini harus menjadi gerakan dengan merangkum modal sosial rakyat.

“Mudah-mudahan bisa menjadi contoh untuk teman-teman di daerah lain yang memiliki akses agar lansia dapat segera divaksin,” katanya.

Menkes meninjau langsung alat inovasi skrining Covid-19, i-nose c-19, yang dikembangkan oleh guru besar Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Jawa Timur Prof Drs Ec Ir Riyanarto Sarno MSc PhD. Alat skrining Covid-19 termutakhir ini dipamerkan dalam helatan Vaksinasi Masyarakat Lansia di Hotel Novotel Samator, Surabaya, Jawa Timur.

Selain Menkes, acara yang juga memberikan vaksinasi Covid-19 untuk para lanjut usia (lansia) dari sivitas akademika ITS tersebut, dihadiri pula Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa. Perhelatan ini merupakan kerja sama dari Kementerian Kesehatan RI dan Samator Group yang digelar selama dua hari, dengan menyediakan kuota 2.500 orang lansia untuk divaksin perharinya.

Pada acara tersebut, alat skrining i-nose c-19 ITS turut mendapat kesempatan untuk ditinjau langsung dan diujicobakan di depan Menkes. Menkes juga mengucapkan rasa terima kasihnya pada semua yang terlibat dalam penyelenggaraan vaksinasi ini.

Rektor ITS Prof Dr Ir Mochamad Ashari MEng yang turut mendampingi menuturkan bahwa, i-nose c-19 ini merupakan salah satu produk inovasi kecerdasan buatan untuk kesehatan. Hal tersebut sesuai dengan topik inovasi ITS yang dicanangkan di tahun 2021 ini.

Baca Juga :  Revolusi Industri 4.0, Timbul Tenggelamnya Sebuah Pekerjaan

“Untuk produk (penanganan) Covid-19 ini nantinya harus melalui uji yang sudah ditentukan oleh Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan (BPFK) atau Kementerian Perindustrian. Nanti begitu ada ijin edar, maka bisa digunakan masyarakat luas,” jelasnya.

Dalam kegiatan ini, ITS sebagai garda terdepan pendidikan di Surabaya pun mendapat kuota vaksinasi bagi sejumlah lansia yang merupakan pimpinan dan sivitas akademikanya. Di antaranya adalah para mantan rektor ITS seperti Prof Dr Ir Mohammad Nuh DEA (sekarang Ketua Majelis Wali Amanat ITS) dan Prof Ir Joni Hermana MScES PhD yang sudah terlihat divaksin di hari pertama.

“Ada 36 orang dengan ditambah keluarganya 27 orang, sehingga ada 63 orang dari ITS yang divaksin di acara ini,” sebut Ashari.

Cara Kerja i-nose c-19

Sementara itu, melalui tinjauan langsung tersebut, Prof Drs Ec Ir Riyanarto Sarno MSc PhD atau yang akrab disapa Ryan mengenalkan cara kerja alat deteksi Covid-19 buatannya dan tim dengan harapan dapat menambah motivasi serta peluang kolaborasi.

Dipaparkan Ryan bahwa i-nose c-19 ini lebih aman jika dibandingkan alat deteksi Covid-19 lainnya. Hal ini karena i-nose c-19 menggunakan sampel dari bau keringat ketiak (axillary sweat odor) yang tidak berisiko mengandung virus.

“Selain itu, alat (i-nose c-19, red) ini nanti juga lebih murah untuk operasionalnya, Rp 10.000 bisa ini,” ungkap guru besar Teknik Informatika ITS ini mengenai keunggulan alat buatannya.

Alat yang mencapai tahap uji profiling sampel PCR ini diungkapkan Riyanarto juga mendapat banyak dukungan dari sejumlah rumah sakit dengan memberi data-data PCR. “Semoga dengan banyaknya pihak yang mendukung, i-nose c-19 ini dapat lebih cepat untuk uji edar,” imbuhnya penuh harap. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?