Opini

Memaksimalkan Perkembangan Bahasa Anak dengan Memanfaatkan Gawai

Siedoo, Pada masa pandemi seperti saat ini, antara anak bahkan balita dan teknologi gawai memang sudah tidak bisa dipisahkan. Gawai seakan sudah menjadi sahabat setia yang paling menarik bagi anak-anak.

Ketika dilarang oleh orang tua agar tidak bermain gawai, anak akan marah bahkan ada pula yang menangis hingga mengamuk. Hal ini tentu saja menjadi masalah besar yang tidak bisa dibiarkan saja oleh orang tua.

Ada nasihat bijak dari Ali bin Abu Thalib Ra bahwa "Didiklah anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup bukan di zamanmu". Berkiblat dari nasihat tersebut, melarang anak dengan keras agar anak tidak bermain gawai, tentu bukan solusi yang efektif.

Hal tersebut karena dilarang seperti apapun, anak-anak pasti akan tetap bermain gawai, apalagi yang sudah kecanduan. Orang tua harus sangat bijak, sabar, dan telaten dalam mendampingi atau mengawasi anak-anak ketika sedang bermain gawai.

Anak-anak maupun balita sedang pada tahap proses pertumbuhan, baik secara fisik maupun kecerdasannya. Kita tahu bahwa kecerdasan anak tidak sekadar prestasi akademik saja. Tetapi mampu berkomunikasi dengan baik, mampu menyelesaikan persoalan sehari-hari dan menunjukkan kemampuan yang gemilang dalam bidang tertentu juga menunjukkan kecerdasannya.

Menurut Howard Gardner dalam Multiple Intellegence, berikut ini 8 kecerdasan yang dimiliki oleh anak.

  1. Linguistic intelligence, kemampuan untuk menganalisis informasi yang berhubungan dengan bahasa.
  2. Logical-mathematical intelligence, kemampuan untuk berhitung dan menyelesaikan masalah secara abstrak.
  3. Spatial intelligence, kemampuan untuk mengenali bentuk dan gambar spasial.
  4. Musical intelligence, kemampuan untuk menghasilkan, mengingat dan membaca pola dari suara.
  5. Bodily-kinesthetic intelligence, kemampuan untuk menggunakan tubuh untuk membuat sesuatu.
  6. Naturalistic intelligence, kemampuan untuk dapat membedakan berbagai macam jenis binatang dan tanaman dan beberapa cuaca.
  7. Interpersonal intelligence, kemampuan untuk memahami motivasi, keinginan, dan kondisi emosi orang lain.
  8. Intrapersonal intelligence, kemampuan untuk memahami motivasi, keinginan, dan kondisi emosi diri sendiri

Dari 8 kecerdasan tersebut salah satu kecerdasan yang dapat kita maksimalkan adalah lingusituk intelligence atau kecerdasan linguistik. Kecerdasan linguistik tersebut dapat kita latih dengan memanfaatkan teknologi gawai. Konten-konten video di channel Youtube khusus anak, bisa kita gunakan untuk mengajarkan bahasa pada anak.

Dalam hal ini, ketika anak sedang bermain gawai maupun sedang menonton video di channel Youtube harus didampingi oleh orang tua. Orang tua harus berperan aktif, misal dengan mengajak bicara anak tentang video yang sedang ditonton agar anak tidak diam saja.

Anak diminta sambil menceritakan kembali sesuai video atau gambar yang dilihat. Jika anak melakukan kesalahan misal kurang tepat dalam menceritakan kembali sesuai video atau gambar yang dilihat tersebut, orang tua jangan langsung menyalahkan atau bahkan memarahi. Tugas orang tualah yang membimbing anak agar dapat memahami isi video dengan benar.

Tanpa disadari dengan menonton video atau gambar tersebut anak sedang belajar. Setelah anak menyaksikan video dan merekam kosakata di memori otaknya, ajaklah anak bermain di luar rumah.

Kaitkan antara apa yang anak tonton di video dengan peristiwa atau sesuatu yang dia lihat di kehidupan nyata. Hal ini agar anak memahami dengan benar antara apa yang dia lihat di video dan di dunia nyata.

Selalu pancing anak agar menceritakan kembali dengan kosakata-kosakata yang ia dapat dari menonton video. Lakukan kegiatan tersebut setiap hari agar kecerdasan linguistiknya semakin terasah.

Melalui penelitian berjudul Children's Language Acquisition with Islamic Animated Video Media "Nussa" on Two-Year-Old Kid (Qualitative Study on Nareshwara) Arsanti (2020) berhasil membuktikan bahwa, perkembangan bahasa anak dapat ditingkatkan melalui video-video di channel Youtube.

Arsanti melakukan penelitian tersebut terhadap anaknya sendiri bernama Nareshwara, yang saat itu berusia kurang dari dua tahun. Dengan selalu mendampingi anaknya ketika sedang menyaksikan video berjudul Nussa di chanel Yotube.

Video Nussa tersebut merupakan video tentang anak yang menceritakan kehidupan sehari-harinya dengan sisipan nilai-nilai ajaran agama Islam. Setelah menonton video Nussa tersebut, Nareshwara selalu diajak berkomunikasi untuk menceritakan kembali apa yang dia tonton.

Diusia kurang dari dua tahun, Nareshwara sudah bisa memahami dan mengucapkan kosakata Islam yang dia dapatkan dari menonton video Nussa. Kosakata tersebut yaitu,

1) Allahu Akbar, 2) adzan, 3) salat, 4) wudu, 5) berdoa, 6) asalamualaikum, 7) bismillahirrohmanirrahim, 8) alhamdulillah, 9) masya Allah, dan 10) aamiin

Walaupun belum dapat diucapkan secara sempurna. Hal tersebut karena organ bicara Nasreshwara masih berkembang sesuai usianya. Untuk mengajarkan bahasa anak tidak harus dipaksa duduk dan belajar di meja, tetapi bisa kita lakukan sambil bermain dengan sesuatu yang anak sukai.

Dalam hal ini saya sebagai penulis dan peneliti, hanya memanfaatkan secara bijak penggunaan gawai pada anak untuk membantu memaksimalkan perkembangan bahasanya. Tentu dalam pelaksanaannya tetap harus dengan pengawasan orang tua dan pembatasan waktu. (*)

 

 

*Meilan Arsanti, M. Pd.
Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Islam Sultan Agung (Unissula), Semarang, Jawa Tengah

 

Apa Tanggapan Anda ?