Daerah

Dompet Dhuafa Dampingi Anak Korban Bencana Mamuju

MAMUJU - Tim Disaster Management Centre (DMC) Dompet Dhuafa kembali menunjukkan aksi peduli sosial di lokasi bencana alam. Sejumlah relawan mendampingi para penyintas dalam kegiatan Taman Ceria di Pos Pengungsian, Dusun Pala'da, Desa Takandeang, Kecamatan Tappalang, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat.

Dompet Dhuafa menggulirkan layanan psikososial berupa PFA (Psychological First Aid) atau bantuan psikologis tahap awal bagi para penyintas bencana yang mengalami peristiwa kritis. Aksi tersebut diberikan kepada seluruh kelompok rentan penyintas gempa bumi Sulbar yang membutuhkan dukungan dari anak-anak hingga dewasa.

Pada fase awal, aksi PFA Dompet Dhuafa fokus diberikan kepada anak-anak. Kegiatan seperti mewarnai, dongeng, hingga mendirikan Taman Ceria di pos pengungsian Dusun Pala'da, Desa Takandeang, Kecamatan Tappalang, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat.

Situasi terkini hampir satu bulan pasca gempa di sana, sebagian besar wilayah sudah semakin kondusif. Akan tetapi beberapa kali gempa kecil yang terjadi di malam hari masih cukup membuat panik penyintas.

“PFA berupaya mendampingi penyintas pada dukungan psikis dan spiritual. Setiap harinya Tim PFA mobile ke berbagai desa di wilayah Majene dan Mamuju untuk memberikan layanan ini, sembari assesment atas indikasi lanjutan pada penyintas," kata Ustaz Aris Alwi, Penanggung Jawab Lapangan Tim PFA Religi Dompet Dhuafa.

Beberapa anak mengaku mengalami mimpi buruk dan ketakutan akan adanya peristiwa serupa yang lebih besar lagi. "Namun Alhamdulillah, kebanyakan kami tidak menemukan anak yang terindikasi trauma kelanjutan,” jelasnya.

Aksi PFA di beberapa titik pengungsian Sulbar, bergulir sambil mendistribusikan bantuan logistik darurat setelahnya. Diantaranya sembako, perlengkapan bayi, tenda, matras, selimut, kerudung hingga distribusi kitab suci Al-Quran.

“Salah satu yang saya paling ingat itu anak-anak di pengungsian Desa Sulai, Majene, ternyata senang sekali ketika tim respon DMC dan DD Volunteer Sulawesi Selatan mengadakan kegiatan PFA, bermain dan bernyanyi bersama. Sehingga anak-anak mendapat jeda dan mengurangi jenuh dan stress dalam kondisi ini,” imbuh Tri, salah satu Tim PFA DDV Sulsel.

Baca Juga :  Tingkatkan Minat Baca, Warga Kelurahan Ini Bangun Rumah Bermain
Relawan mendampingi para penyintas dalam kegiatan Taman Ceria di Pos Pengungsian, Dusun Pala'da, Desa Takandeang, Kecamatan Tappalang, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat. | foto : Dok Dompet Dhuafa

Untuk diketahui, Dompet Dhuafa adalah lembaga Filantropi Islam yang berkhidmat dalam pemberdayaan kaum Dhuafa dengan pendekatan budaya melalui kegiatan filantropis (welas asih) dan wirausaha sosial. Selama 27 tahun lebih, Dompet Dhuafa telah memberikan kontribusi layanan bagi perkembangan umat dalam bidang sosial, kesehatan, ekonomi, dan kebencanaan serta CSR.

Sementara itu, gempa M=6,2 SR yang mengguncang wilayah Majene dan Mamuju, Sulawesi Barat, 15 Januari 2021 lalu cukup memberikan dampak di sana. Terhitung sejak 6 Februari 2021, status tanggap darurat gempa bumi Sulbar telah berakhir dan menjadi transisi darurat menuju pemulihan.

Selain kerusakan bangunan dan korban jiwa, para penyintas sebanyak 92.075 orang pun masih mengungsi dan berupaya bangkit hingga kemarin (Rabu, 10/2/2021). Beberapa kali gempa kecil susulan masih terjadi, cukup membuat warga panik akan terulangnya peristiwa serupa.

Sejumlah Tim Disaster Management Centre (DMC) Dompet Dhuafa masih berada di Sulbar pada respon gempa tersebut sejak fase awal tanggap darurat. Selain bantuan respon SAR, layanan medis, distribusi logistik, pemasangan tandon penampungan air bersih, instalasi MCK, dan dapur umum termasuk darling, mereka juga menghadirkan layanan PFA.

"Sebab, salah satu dampak negatif dari bencana adalah stress. Jika tidak terantisipasi dengan baik dan dibiarkan berlarut-larut, akan mendatangkan ketidakstabilan emosi yang parah. Seperti depresi atau trauma setelah peristiwa kritis," kata Eka, Koordinator TIM SAR DMC pada respon gempa Sulawesi Barat. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?