Daerah

Tingkatkan Kemampuan Sumber Daya Ilmiah Masyarakat melalui Penelitian

MAGELANG - Upaya penelitian di Kota Magelang, Jawa Tengah diharapkan bisa memberikan solusi terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat. Seperti hasil dari seleksi Riset Unggulan Daerah (RUD) 2018 lalu, karyanya digunakan langsung Dinas Pertanian Kota Magelang.

Karya itu untuk mengatasai monyet ekor panjang di Gunung Tidar. Fokus penelitiannya tentang populasi kepadatan/tingkah laku daya dukung habitat dan konflik dengan manusia dari Drh. Tauhid dan tim dari Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta.

Riset yang bermanfaat seperti itu juga diharapkan bisa muncul di seleksi RUD 2019 ini. Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kota Magelang menyelenggarakan seleksi Riset Unggulan Daerah 2019. Kegiatan rutin yang dimulai sejak 2010 silam ini untuk mewadahi para peneliti dalam melakukan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dan penerapan teknologi daerah.

Total dana penelitian yang akan digelontorkan untuk RUD 2019 maksimal Rp 40 juta, yang akan dibagi untuk dua RUD terbaik. Hadiah tersebut berupa dana yang selanjutnya dipakai untuk membiayai proses penelitian. RUD terbuka tidak hanya untuk peneliti dari Kota Magelang tapi juga luar daerah.

"Yang jadi penilaian utama diantaranya keseuaian tema, yakni tentang permasalahan Kota Magelang, syarat administrasi dan juga latar belakang peneliti," kata Kepala Balitbang Kota Magelang Arif Barata Sakti.

Adapun jadwal pelaksanaan telah dimulai dari kegiatan sosialisasi  18 Maret 2019, seleksi proposal 10 Mei 2019, pengumuman calon pemenang 24 Mei 2019, penetapan pemenang 28 Mei 2019, pelaksanaan penelitian dari 3 Juni - Agustus 2019 sampai proses pencairan dana 31 September 2019.

Untuk RUD 2019 ini, Balitbang menentukan dua tema/fokus penelitian, yakni tentang pengaruh aktivitas masyarakat terhadap pencemaran air tanah di Kota Magelang. Terutama terhadap pencemaran Bakteri E. Coli dan Salmonela. Fokus kedua tentang pengembangan pengelolaan persampahan metod Black Soldier Fly (BSF) di Pasar Gotong Royong.

Kegiatan RUD terbuka bagi peneliti, baik individu maupun kelompok untuk melakukan penelitian dan meningkatkan kemampuan sumber daya ilmiah masyarakat.

"Melalui kegiatan ini, kita juga mendorong partisipasi masyarakat dalam menyelesaikan masalah-masalah pembangunan daerah yang sangat mendesak. Serta membangun jaringan kerjasama antara peneliti dengan pemerintah daerah," terang Arif.

Hasil-hasil dari penelitian yang dilakukan nantinya akan menjadi bahan acuan dan pertimbangan pemerintah dalam mengambil suatu kebijakan. Sehingga pemerintah, dalam hal ini OPD, ketika  melakukan langkah ada pedoman yang bisa dipertanggungjawabkan secara akademis.

"Semua (proposal) akan diseleksi oleh tim juri dari Kemenristekdikti, Bappeda, Disperindag, Dispertan dan akademisi UGM," jelasnya.  (Siedoo) 

Apa Tanggapan Anda ?