Kegiatan

Ajarkan Orang Tua Menjadi Teman di Tengah Pembelajaran Jarak Jauh

JAKARTA- Pembelajaran Jarak Jauh sudah berjalan berbulan-bulan, hal ini cenderung membuat anak bosan, jenuh bahkan menemui tingkat stres. Ditambah kurang dukungan dari peran orang terdekat seperti orang tua, kakak maupun saudaranya.

Di kota-kota besar yang saat ini dihadapi para anak-anak ialah peran orang tua dalam menjaga maupun mendampingi saat pembelajaran jarak jauh. Sebagian di kota besar seperti Jakarta, Bandung bahkan Surabaya, orang tua sibuk untuk bekerja bahkan anak belajar di rumah turut menjadi beban orang tua selama pandemi ini.

Menurut Jenehara Nasution yang juga influencer, peran orang tua sangat penting dalam memecah kebosanan anak-anak selama belajar di rumah.

“Bahkan saya sering ajak anak-anak untuk jalan-jalan dahulu dalam mengurangi rasa bosan,” katanya dalam acara Parent Talk online, Jumat (9/10/2020).

Di sisi lain Rina Fatimah sebagai Direktur SMART Edunesia Dompet Dhuafa (DD) mengatakan, di Dompet Dhuafa sendiri ada tiga sekolah formal yang kami kelola. Yakni Smart Ekselensia, Sekolah Al Syukro, dan Sekolah Semen Cibinong.

Selama Program Pembelajaran Jarak Jauh dari bulan Maret, tantangan pemahaman digital hal yang harus dijalanani oleh para guru-guru untuk memulai pembelajaran online. Di awal-awal guru di berikan pelatihan terkait tool-tool tersebut, kemapuan belajar guru pun menjadi pembeda.

“Kita juga menyiapkan learning community diantara guru. Penyesuaian metode, meteri maupun kurikulum pembelajaran harus dilakukan oleh para guru ke murid,” katanya.

Pembelajaran jarak jauh tidak hanya berdampak pada sosok guru-guru, namun juga anak-anak secara psikologi yang belum siap menerima metode ini. Di waktu yang bersamaan Seto Mulyadi sebagai Psikolog Anak mengatakan, menganjurkan jangan belajar jarak jauh, belajar jarak dekat dengan ayah dan bunda. Belajar di rumah, materi belajar dari guru disampaikan ke orang tua lalu ke anak dengan gaya masing-masing.

“Yang penting kompetensinya jadi inti dari kurikulum itu terpegang dengan lima inti. Etika, estetika, ilmu pengetahuan, tekhnologi, nasionalisme dan kesehatan. Itu yang disampaikan dengan cara ramah anak, kreatif hingga penuh persahabatan,” ujar Kak Seto.

Selanjutnya Kak Seto mengatakan dunia anak adalah dunia bermain, melalui bermain anak belajar, dari etika, estetika, ilmu pengetahuan dan teknologi hingga kesehatan. Semua harus siap menjadi guru sehingga siap menjadi sahabat anak. Kurikulum harus disesuaikan, bahwa kondisi saat ini tidak usah mengejar target kurikulum.

“Pemahaman sehat tidak hanya sehat fisik, maupun sehat jiwa. Marilah anak-anak diperlakukan sebagai teman. Demi kepentingan terbaik bagi anak bukan kepentingan orang tua, jiwa anak ini harus di jaga,” lanjut Seto Mulyadi.

Ddikatanna, data dari YLBHI hingga KPAI angka kekerasan pada anak meningkat. Baik kekerasan psikologi, kekerasan fisik maupun seksual, ini justru dilakukan oleh orang-orang terdekat.

“Ini harus diperlukan kewaspadaan kita semua demi masa depan anak. Maka itu kita harus menjaga kesehatan jiwa atau mental kita,” tambah Seto Mulyadi.

Tips-tips bagi wanita yang pekerja, bahkan single parent dengan rasa syukur, ketika dari bangun tataplah wajah ibu, dan senyum didepan kaca. Senyum adalah kekuatan dalam membangun energi positif.

“Menjaga kesehatan dengan senyum, dengan hidup Gembira. Yaitu: Gerak dengan berolahraga, Emosi dikontrol dengan komunikasi bersama. Makan bergizi di tengah pandemi ini, jangan lupa Bersyukur, Istirahat berkualitas seperti tidur berkualitas, isitrahat ngomel, maupun sifat negatif-negatif, Rukun dalam keluarga, Aktif berkarya,” lanjut Seto Mulyadi.

Memang harus intensif secara komunikasi baik secara tatap muka dengan protokol kesehatan maupun dengan layar dengan mempertemukan rekan-rekan sekolahnya, hal ini untuk mengurangi rasa canggung anak-anak ketika nanti masuk sekolah kembali.

“Jadi yang penting adalah pemahaman belajar, anak senang belajar,” ujar Kak Seto. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?