Advertorial Opini

Perlukah Keterlibatan Stakeholder Dalam PJJ di Masa Pandemi Covid-19?

Siedoo, Tidak bisa dimungkiri lagi meskipun di masa pandemi Covid-19, para pelajar dan mahasiswa tidak diperbolehkan diam tanpa kegiatan menunggu selesainya masa pandemi ini. Pemerintah melalui Kemendikbud berupaya untuk menerapkan strategi dalam upaya kegiatan belajar mengajar tetap harus bisa berjalan. Walaupun dengan daring (online) atau yang lebih akrab dengan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

Beberapa kebijakan pemerintah seperti pemberian kuota paket data kepada para siswa akan terbantu dalam kelancaran PJJ. Juga membentuk kerjasama dengan menggandeng PT Microsoft Indonesia dalam memfasilitasi sistem jaringan internet yang dipakai.

Kemudian  mengadakan program guru penggerak, program guru belajar serta mengadakan webinar-webinar terkait dengan pendidikan di negeri ini. Artinya sudah banyak dana pemerintah untuk dialokasikan demi mempersiapkan generasi di masa datang.

Pada kesempatan ini, penulis yang juga salah satu guru di SMK Negeri 1 Magelang akan memberikan masukan ataupun saran berdasarkan data yang ditemukan di lapangan. Semoga hal ini akan menjadi evaluasi demi kelancaran dan keberhasilan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

Alhamdulillah, pada awalnya, PJJ berjalan dengan baik, artinya di atas 95% para siswa aktif menjawab salam ketika guru mengucapkan salam di awal PJJ. Namun setelah berjalan 2 (dua) bulan ketika guru mulai ingin tahu seberapa dalam kompetensi yang sudah dikuasai siswa.

Nampak siswa sudah mulai pasif atau tidak merespon apa yang ditanyakan guru. Padahal pembelajaran itu dikatakan berhasil ketika ada komunikasi antara guru dengan para siswanya. Seperti disebutkan Listyarti (2012:16) “Mendidik tidak hanya memberikan atau menstranfer pengetahuan, melainkan mencakup proses menerima pengetahuan, mengolahnya, menganalisisnya, mendiskusikannya, dan mengatakannya kembali”.

Kepasifan para siswa ini yang menjadi masalah, dan bagaimana solusinya? Namun sebelum mencari bagaimana solusinya, penulis berikan data keatifan siswa melalui Microsoft 365, khususnya pada fitur Forms.

Untuk melihat gambaran ini, penulis meng-share link Forms yang berkonten absensi terhadap beberapa  kelas di SMK Negeri 1 Magelang. Adapun  hasil dan ulasan dari kuesioner yang penulis sertakan saat menuliskan daftar hadir (absensi) di bulan Juli 2020, tepatnya tanggal 28 Juli 2020 dan 30 Juli 2020 dari salah satu kelas, adalah sebagai berikut:

Tabel 1

Tanggapan terhadap pembelajaran online (PJJ) dari sejumlah 29 siswa yang menulis daftar hadir di tanggal 28 Juli 2020, yang tidak setuju PJJ: 7 siswa (24,1% ). Yang mengatakan biasa-biasa saja 21 siswa (72,4%), dan yang sangat setuju 1 siswa (3,5%) seperti ditunjukkan pada tabel di bawah ini.

Selanjutnya pada daftar hadir (absensi) PJJ tanggal 30 Juli 2020, dari 25 siswa yang mengisi presensi yang tidak setuju PJJ: 5 siswa (20 % ). Yang mengatakan biasa-biasa saja 19 siswa (76 %) dan yang sangat setuju 1 siswa (4 %) seperti ditunjukkan pada Tabel2  di bawah ini:

Tabel 2

Selain dari data tanggapan terhadap PJJ, banyak siswa yang tidak aktif dalam pembelajaran. Hal ini bisa dipantau dari presensi tanggal 30 September 2020 yang diberikan beberapa menit sebelum pembelajaran berakhir.

Tabel 3 di bawah ini menunjukkan pembelajaran jam ke-5 hingga ke-6 (10.00 – 11.20), bahwa yang melakukan absensi pukul 11.19 - 11.23 (warna hijau) sebanyak 8 siswa (26 %). Kemudian yang melakukan absensi 11.26 - 11.29 (warna kuning) sebanyak 5 siswa (16%) dan yang melakukan absensi pukul 11.31 - 14.25 (warna merah) sebanyak 8 siswa (26 %). Sedangkan sisanya 10 siswa (32 %) tidak melakukan presensi. Hal ini berarti cuma 8 siswa atau 26 % (warna hijau) yang selalu monitor dan mengikuti PJJ.

Tabel 3

Dari uraian di atas dapat disimpulkan, bahwa sangat perlu adanya stakeholder yang peduli terhadap PJJ, yaitu:

  • Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) tidak bisa hanya dijalankan hanya Guru dengan siswa, mestinya harus ada mediator dari sekolah demi terciptanya PJJ secara optimal.
  • Walaupun pemerintah melalui sekolah telah memberikan bantuan kuota internet, peran guru maupun orang tua siswa harus bisa bekerja sama saling dukung dan sinergis demi terlaksananya pembelajaran secara optimal.
  • Perlu adanya tim teknis yang bisa memonitor penggunaan bantuan kuota internet, sehingga penggunaannya bisa efektif dan efisien.
  • Perlunya Tim yang dapat membantu mengatasi kendala-kendala teknis maupun non teknis. Sehingga PJJ dapat dijalankan sedemikian hasilnya dan kualitasnya tidak terlalu kalah dibandingkan dengan pembelajaran offline (tatap muka). (*)

 Drs. Harda Pantjana, M.Si
Guru Matematika SMK Negeri 1 Magelang
Jawa Tengah

Apa Tanggapan Anda ?