Para siswa diberikan materi tentang adab terhadap Alquran dalam kegiatan masa pengenalan lingkungan sekolah. foto : Siedoo

Advertorial Daerah

Nuansa Adab dan Ilmu Menyelimuti Masa Pengenalan Sekolah


MAGELANG – Masa pengenalan lingkungan sekolah menjadi momen serentak dalam dunia pendidikan saat ini. Berbagai cara dan konsep dilakukan sekolah agar memberikan kesan pertama yang bagus kepada para siswa barunya.

Salah satunya dilakukan SMP IT Ihsanul Fikri Pabelan Mungkid, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah yang berkategori boarding school. Sekolah memberikan materi mengenai adab dalam MPLSA (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah dan Asrama).

Awalnya, siswa diantar orang tua dan langsung menempati asrama. Kemudian tidak diperbolehkan berkomunikasi dengan orang tua selama sebulan lamanya.

Saat masa pengenalan lingkungan dalam sekolah tersebut, para siswa diwajibkan untuk tinggal di asrama. Kegiatan tersebut dimulai pukul 03.00 – 21.30 WIB dan berlangsung selama dua minggu.

Konsep pada tahun ini yaitu beradab, berilmu, raih asah dengan bahagia. Sekolah mengkondisikan suasana dengan bahagia, agar siswa kerasan (betah). Siswa yang berasal dari SD yang bermacam-macam ini memiliki adab yang berbeda.

"Misalnya masih ada yang makan sambil jalan, me-bully temannya, sholatnya belum tertib dan bangunnya siang. Jadi, kita samakan persepsinya dengan adab yang islami,” kata Koordinator Lapangan MPLSA (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah dan Asrama) SMP IT Ihsanul Fikri Pabelan Mungkid Sunarno, S.S.

Selain adab, juga diberikan berbagai ilmu, karena keduanya memiliki hubungan erat yang tidak bisa dipisahkan. Harapannya dengan adab dan ilmu, para siswa didorong untuk meraih cita-cita.

Pada kesempatan itu, salah satu materi yang diberikan ialah adab dengan Alquran. Guru menjelaskan pada siswa bagaimana bersikap dan memperlakukan Alquran, seperti harus berwudlu dulu, ditempatkan di rak khusus dan pedampingan agar membaca Alquran dengan tepat.

Selain itu, disela kegiatan pada jam istirahat, digunakan sebagai pembiasaan adab dan ibadah. Yang intinya perilaku siswa diamati oleh guru. Jika ada yang tidak sesuai, maka guru langsung mengingatkan.

“Secara umum kegiatan ini berjalan lancar dan anak-anak nyaman. Namun, yang namanya kendala juga ada. Misalnya ada anak yang belum bisa beradaptasi, seperti susah untuk dibangunkan tidur dan sifatnya masih terlalu kekanak-kanakan,” jelasnya.

Solusi yang dilakukan pihak sekolah terkait masalah tersebut, ialah guru melakukan pendampingan. Jika ada masalah yang tidak bisa ditangani oleh pihak sekolah, maka akan segera dikomunikasikan kepada orang tua.

“Misalnya lebih dari sepekan anak masih saja seperti itu. Maka pihak sekolah akan menghubungi orang tua dan berdialog. Biasanya ada solusi setelah itu,” tutur guru IPS tersebut.

Setelah kegiatan tersebut usai, maka KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) akan mulai aktif, berjalan normal. Jika sudah genap satu bulan, diadakan temu kangen antara siswa dengan orang tua di sekolah. Sistem pengenalan lingkungan sekolah ini diharapkan mampu memberikan rasa aman kepada siswa, sehingga mereka bisa merasa nyaman. (Siedoo) 

Apa Tanggapan Anda ?