Tokoh

Dr. Satria Terlibat Pengembangan Vaksin Tuberkulosis di Uni Eropa

Siedoo, Sejak menempuh pelatihan penelitian di Groningen, Belanda pada tahun 2012, Dr. H. Satria Arief Prabowo, M.D., Ph.D mulai terlibat dalam tim pengembangan vaksin Tuberkulosis. Penelitian tersebut dia teruskan selama menempuh program doktoral di London School of Hygiene and Tropical Medicine, Inggris.

Dr. Satria juga mendapatkan penghargaan dari MURI sebagai lulusan doktor bidang Ilmu Kedokteran termuda di Indonesia pada tahun 2019. Dia tertarik mengembangkan vaksin mengingat Tuberkulosis (TB) banyak dikenal sebagai penyakit rakyat di Indonesia. Padahal, TB merupakan penyakit yang sangat mempengaruhi produktivitas hidup penderitanya, sehingga semakin menambah garis kemiskinan penderita yang mayoritas berasal dari kelompok sosial-ekonomi rendah.

Ketertarikannya itu pun dibuktikan selama menempuh pendidikan dokter di FK UNAIR, Dr. Satria banyak menjumpai dan menangani penderita TB anak maupun dewasa.

“Saya kemudian mulai mencari penyebab masih tingginya kasus TB. Rupanya vaksinasi BCG yang ada saat ini belum begitu efektif untuk mencegah TB pada orang dewasa, sehingga dibutuhkan vaksin baru yang lebih efektif,” ucapnya di laman unair.ac.id (25/6/2020.

Di lain sisi, pengobatan TB memakan waktu yang panjang sampai enam bulan sehingga menyulitkan kesembuhan penderitanya dan memicu munculnya penyakit lebih lanjut. Untuk itu, penelitian Satria ketika menempuh studi doktoral bertujuan untuk menjawab dua permasalahan tersebut.

Perpendek masa terapi TB

Melalui konsorsium riset yang didanai oleh Uni Eropa, proyek Satria bertujuan untuk mengembangkan vaksinasi terapeutik bagi penderita TB. Pendekatan tersebut cukup unik sebab vaksinasi yang umumnya diberikan untuk mencegah penyakit, dapat pula diberikan pada penderita yang sudah sakit untuk membangkitkan sistem kekebalan tubuh. Selain itu, vaksinasi tersebut potensial untuk memperpendek masa pengobatan penderita TB.

“Target kami terapi TB dapat diperpendek dari 6 bulan menjadi 1 bulan saja, dan hal itu akan berdampak besar sehingga angka penyakit TB dapat berkurang secara signifikan di dunia,” ungkapnya.

Pengembangan vaksin tersebut telah selesai di akhir tahun 2019 setelah melalui uji klinis fase III dengan hasil yang memuaskan. Pada awal tahun 2020, Satria dan tim bertemu dengan Direktur Program TB WHO yang kemudian bersedia memberikan dukungan untuk vaksin tersebut. Agar dapat diterapkan di negara endemis TB seperti Indonesia dalam waktu dekat.

Riset vaksin TB tersebut juga telah dipresentasikan di beberapa kongres Internasional bergengsi seperti pada kongres European Society for Paediatric Infectious Diseases (ESPID) di Madrid, Spanyol pada Mei 2017, dan Ljubljana, Slovenia pada Mei 2019 lalu. Saat ini, vaksin tersebut sedang proses untuk mendapatkan lisensi.

Satria sendiri termasuk peneliti paling muda dalam penelitian riset vaksin di Eropa karena rata-rata usia peneliti di sana hampir 30 tahun. Sementara untuk peneliti senior rata-rata telah berusia di atas 40 tahun. Sehingga Satria perlu strategi berkomunikasi dan berinteraksi dengan baik dengan para koleganya.

Satria bahkan pernah harus menyampaikan presentasi tepat setelah seorang Associate Professor dari Havard menyampaikan presentasinya di sebuah kongres Internasional. Walau sempat grogi, namun presentasi Satria berjalan dengan baik dan mendapat masukan yang positif dari para pakar.

“Satu hal yang saya apresiasi dari negara maju adalah semua dinilai berdasarkan kapasitas. Jika seseorang dinilai mampu, usia bukan merupakan hambatan,” pungkasnya. (*)

Apa Tanggapan Anda ?