Daerah

Dinilai Unik, Museum Etnografi UNAIR Raih Penghargaan Kematian

SURABAYA – Museum dan Pusat Kajian Kematian Etnografi Departemen Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Airlangga (UNAIR), Surabaya, Jawa Timur menjadi satau-satunya museum terunik di Indonesia. Meskipun tema tata pamer museum ini menyeramkan, tetapi disajikan dengan cara populer. Dipilihnya tema kematian ini karena kematian adalah bagian dari siklus hidup yang paling tidak pernah dibicarakan, dihindari dan ditakuti.

Akan tetapi kenyataannya, kematian adalah hal yang paling penting yang dipikirkan manusia. Keunikan tersebut ternyata membuat museum ini menerima penghargaan dari pemerintah berupa Anugerah Purwakalagrha Indonesia Museum Awards  2018, bersama 435 museum yang lain di Indonesia pada 15 Oktober 2018. Menurut Kepala Museum Etnografi UNAIR, Toetik Koesbardiati mengatakan penghargaan ini merupakan sebuah prestasi yang tidak diduganya.

“Memang selama tiga tahun terkahir, Komunitas Jelajah sebagai penyelenggara mengamati proses perkembangan dan berbagai inovasi yang dilakukan oleh Museum Etnografi dan Pusat Kajian Kematian FISIP UNAIR,” ungkapnya seperti ditulis unair.ac.id.

Toetik menjelaskan, pemberian pengahargaan itu, tidak lain merupakan bagian dari berbagai upaya dan inovasi yang dilakukan oleh seluruh pihak Museum Etnografi dan Pusat Kajian Kematian FISIP UNAIR. Baginya, museum tidak hanya berfungsi sebagai sarana edukasi dan rekreasi. Namun menghidupkan fungsi museum sebagai wahana untuk riset atau penelitian.

Terkait tema museum, Toetik mengungkapkan, walaupun di masyarakat kematian cukup ditakuti dan jarang dibicarakan, namun kematian merupakan hal yang paling penting dipikirkan oleh manusia. Kematian juga memiliki keterkaitan yang erat dengan beragam budaya yang dalam hal itu juga menyangkut banyak aspek. Hal itulah yang menjadikan kematian merupakan sebuah objek yang sangat layak untuk diteliti guna memberikan edukasi kepada publik.

“Dalam kematian, akan banyak hal yang berpengaruh. Baik sektor ekonomi, sosial, dan budaya itu sendiri. Di Indonesia, budaya dalam proses kematian memiliki keunikan dan keberagaman yang luar biasa. Hal itu, masih belum banyak dikaji dan didalami,” ungkapnya.

Toetik mencontohkan, upacara kematian di Toraja misalnya, kematian bisa menjadi suatu hal untuk mengukur tinggi rendahnya strata sosial seseorang di masyarakat. Hal serupa juga terjadi di upacara Ngaben yang dilakukan masyarakat Bali.

Ke depan Museum Etnografi dan Pusat Kajian Kematian FISIP UNAIR akan terus melakukan berbagai inovasi dan gebrakan untuk terus mendalami beragam proses budaya kematian yang ada di Indonesia.

Sementara itu, Rektor UNAIR Prof. Nasih mengatakan bahwa, pihaknya sangat mengapresiasi prestasi yang telah dicapai oleh Museum Etnografi dan Pusat Kajian Kematian FISIP UNAIR. Mengenai capaian itu, Prof. Nasih berharap agar semua program studi yang ada di lingkungan UNAIR memiliki berbagai keunikan dan program yang khas seperti yang dimiliki oleh Program Studi Antropologi dengan mengelola Museum Etnografi dan Pusat Kajian Kematian FISIP UNAIR. Nasih berharap prestasi tersebut menjadi inspirasi bagi fakultas dan prodi yang lainnya. (Siedoo/NSK)

Apa Tanggapan Anda ?