Opini

Gladi Bersih Pesantren Memasuki New Normal

Siedoo, Lebih dari lima juta santri dalam posisi belajar di rumah. Ribuan pesantren sepi dari hiruk pikuk santri belajar ilmu pengetahuan agama dan umum. Seluruh pihak yang tekait dengan pesantren mulai dari pengurus, kiai, ustadz (ustadzah), pengasuh, juru masak, juru laundry, petugas kebersihan, hingga petugas keamanan. Para pedagang di sekitar pesantren sampai dengan pemasok berbagai kebutuhan penghuni pesantren terhenti dari aktivitasnya untuk mengikuti protokol kesehatan.

Orang tua yang biasanya hilir mudik menengok santri, menjadi sepi. Semua pesantren dengan keterbatasannya sedang berbenah untuk mencoba dan berusaha menerapkan protokol kesehatan, sambil menunggu suasana reda dari wabah Covid-19. Orang tua merupakan pihak yang paling khawatir dengan kesehatan anak, karena mayoritas pesantren menerapkan boarding system bagi para santrinya. Pesantren yang selama ini menyiapkan seluruh makan santri, juga akan kesulitan dalam menjaga kebersihan dan kesehatan bahan baku, proses pemasakan, dan penyajian.

Pengawasan santri oleh santri senior dan para ustadz untuk menggunakan masker, secara periodik cuci tangan, dan selalu menjaga jarak antarsantri akan menjadi tantangan tersendiri. Pengecekan kesehatan sebelum santri masuk pesantren harus dilakukan secara massal. Pengecekan suhu tubuh santri setiap pagi dan sore hari juga menjadi kemustahilan mengingat jumlah santri tidak sebanding dengan jumlah petugas. Kesiapan Petugas kesehatan dan ketersediaan obat di poliklinik pesantren juga menjadi pertimbangan sendiri bagi pesantren yang menginginkan penerapan New Normal.

New Normal ekonomi bukan untuk pesantren

Perlu diingat bersama bahwa, New Normal lebih terkait dengan upaya pemerintah dalam menggerakkan roda perekonomian. Sama sekali bukan untuk menggerakkan institusi pendidikan dan pesantren yang mempunyai risiko sangat besar bagi kesehatan dan keberlangsungan hidup anak-anak harapan bangsa.

New Normal di bidang ekonomi yang nantinya akan dievaluasi, diharapkan dapat menjadi dasar pembuatan kebijakan bagi lembaga pendidikan termasuk pesantren. Utamanya dalam melaksanakan proses pembelajaran yang benar-benar aman bagi anak. Ketika pengelola pesantren memaksakan diri untuk mewajibkan santrinya aktif di era New Normal, merupakan tindakan dan keputusan yang sangat ceroboh dan tidak memperhatikan keselamatan jiwa di atas segalanya.

Kekhawatiran orang tua

Sebagai orang tua, rasa was-was, gamang, dan ketakutan akan kesiapan pesantren menyambut New Normal, menjadi keprihatinan semua pihak. Jangan sampai, ketidakpercayaan orang tua terhadap pesantren dalam menerapkan protokol kesehatan, menjadi pemicu menurunkan partisipasi orang tua untuk mengantarkan kembali anaknya ke pesantren.

Jangan sampai euphoria New Normal itu justru menjadi cluster baru bagi penyebaran virus Corona. Jangan sampai santri yang sudah dua bulan lebih berkorban dengan tetap di rumah, menjadi sia-sia. Gegara dipaksa harus kembali ke pesantren yang belum siap secara maksimal menerapkan protokol kesehatan. Euphoria pesantren yang seperti itu harus direm terlebih dahulu. Sebelum mampu memberikan keyakinan utuh kepada orang tua yang akan menanggung seluruh akibat buruk yang kemungkinan terjadi pada anak.

Hak anak untuk bisa belajar dengan aman dan sehat tidak boleh digadaikan dengan euphoria pesantren. Ketika terjadi pemaksaan masuk aktif kepada santri, sementara pesantren belum mampu menerapkan protokol kesehatan, tentu akan menjadi “pikiran” tersendiri bagi orang tua.

Penguatan IT dan belajar online

Kelemahan pesantren secara umum khususnya pesantren yang belum dikelola secara modern adalah di bidang IT (Information Technology) termasuk sumber daya manusianya. Oleh karena itu, saat belajar di rumah, menjadi moment paling baik untuk meningkatkan sarana dan prasarana IT yang dapat memfasilitasi santri dengan tetap belajar di rumah.

Sudah saatnya, seluruh pesantren tidak melihat status dan stratanya, untuk mengembangkan IT di tengah tuntutan era revolusi industri 4.0. Apalagi di era pandemi seperti ini, tuntutan akan penguasaan IT bagi seluruh santri dan ustadz di pesantren sudah tidak dapat ditawar lagi. Keniscayaan seperti itu harus disadari dan dipahami semua oleh pengurus pesantren dalam mengantarkan santrinya menjadi insan kamil yang berguna bagi agama, bangsa dan negara.

Semoga saja, seluruh pesantren tidak terburu-buru menggunakan moment of New Normal dengan memasukkan santrinya kembali ke pesantren. Sebelum benar-benar siap dengan seluruh protokol yang diuraikan di atas. Sikap tidak peduli, covidiot, apalagi antisains tentu tidak boleh diterapkan dalam membina santri dan memberikan keyakinan kepada orang tua. Seluruhnya harus berjalan seiring antara religi dan sains apalagi dalam menyikapi wabah yang sangat membahayakan ini. (*)

Dr. H. Basrowi, S.Pd. M.Pd. M.E.sy.
Wali 2 santri di dua pesantren berbeda
Apa Tanggapan Anda ?