Sekolah Gender mulai dikembangkan di pesantren. (foto: voaindonesia.com)

Daerah

Tengok, Sekolah Gender Mulai Menjalar di Pesantren


SALATIGA – Di lingkungan pesantren, persoalan keadilan gender jarang dibicarakan. Sehingga perlu dikenalkan dan dikembangkan Sekolah Gender di pondok-pondok pesantren. Seperti di Pondok Pesantren Tarbiyatul Islam (PPTI) Al Falah, Salatiga, Jawa Tengah.

Di pesanteren ini, program Sekolah Gender diminati para santri, utamanya para santriwati. Dalam program ini, mereka berdiskusi bersama mengenai apa itu gender, pembahasan dari sisi agama dan juga psikologi.

Sekolah Gender itu justru tidak menarik bagi santri laki-laki. Mereka beranggapan, soal-soal terkait keadilan gender hanya urusan perempuan. Meskipun program Sekolah Gender ini didukung sepenuhnya oleh pimpinan pondok, hanya tiga santri laki-laki mengikuti program sampai berakhir di antara puluhan peserta santriwati.

Pimpinan Pondok Pesantren Tarbiyatul Islam (PPTI) Al Falah, Siti Rofiah mengaku minimnya santri laki-laki yang tertarik mengikuti Sekolah Gender. Padahal ini bukan hanya soal perempuan, tetapi soal relasi. Kalau ada ketimpangan, berarti harus kedua belah pihak.

“Tetapi karena ini baru yang pertama, kita masih perlu lakukan perbaikan di sana-sini. Jadi minimnya peserta santri laki-laki ini jadi catatan evaluasi,” kata Siti Rofiah seperti dilansir voaindonesia.com.

Rofiah menambahkan, di satu sisi berat memberikan kesadarkan santri laki-laki di sisi lain ada tantangan bagi santri perempuan karena mereka merasa inferior. Santri perempuan biasanya merasa tidak pantas membahas isu keadilan gender, apalagi bersama santri laki-laki dalam satu kegiatan bersama.

Faktor budaya juga menjadi penghambat, apalagi pesantren tumbuh di lingkungan Nahdlatul Ulama. Relasi perempuan dan laki-laki memiliki perbedaan tafsir yang sangat beragam.

Sumber dari Agama

Di balik tantangan itu, kata Siti, Sekolah Gender bagaimana pun adalah program strategis yang penting untuk menanamkan kesadaran adil gender di kalangan santri. Para santri kelak selesai belajar akan kembali ke masyarakat dan menjadi tokoh lokal. Pada titik inilah, santri memiliki posisi strategis dalam menyebarkan nilai-nilai keadilan gender itu.

Baca Juga :  Pelajar dan Mahasiswa Bersama Lintasi Alam Temanggung

Tradisi yang sudah terbangun sejauh ini, di dalam lingkungan agama biasanya perempuan di belakang, jarang tampil. Sekarang sudah mulai banyak yang bergerak untuk mencoba mempromosikan nilai-nilai ini, dan sumber-sumbernya tidak diambil jauh-jauh.

“Karena kecenderungannya, kajian gender sumbernya diambil dari Barat. Sekarang kita mulai mengenalkan bahwa ada sumber dari ajaran Islam sendiri,” papar Rofiah.

Wacana adil gender masih asing di lingkungan pesantren. Faktor agama dan budaya memberikan tantangan tersendiri dalam penyadarannya. Menurut Siti, agama memiliki legitimasi teks. Di Sekolah Gender, santri diajak menyikapi teks itu dengan metode penafsiran yang berbeda yang hasilnya jauh lebih adil gender.

Salah satu narasumber dalam Sekolah Gender ini adalah Wiwin Siti Aminah Rohmawati. Perempuan ini menjabat sebagai Wakil Direktur Pusat Studi Islam Asia Tenggara UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Secara umum,Wiwin mengatakan tantangan terkait kesadaran adil gender di lingkungan pesantren kini lebih ringan dibanding 20 atau 30 tahun yang lalu. Namun, bukan berarti isu ini sudah diterima dengan baik.

“Belum semua pesantren mau terbuka membicarakan relasi laki-laki dan perempuan. Dari 28 ribu lebih pesantren di Indonesia, saya tidak yakin 30 persennya sudah mau menerima isu gender masuk. Kalaupun sudah menerima, belum tentu mau melakukan pelatihan penyadaran gender bagi santrinya,” ujar perempuan yang juga aktif di Fatayat NU DIY ini. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?
Ucapan Pemkot