Opini

Kami Marah, Tapi Guru jangan Dibegitukan

Siedoo, Peristiwa duka yang menimpa siswa siswi SMP N 1 Turi Sleman Yogyakarta membuat marah semua pihak. Kejadian susur sungai yang akhirnya terseret banjir di sungai sempor Turi Sleman memakan korban meninggal 10 orang siswa. Hati kita sedih, marah dan berduka akan kejadian tersebut.

Semua pihak langsung tertuju kepada guru-guru, pembina pramuka dan juga kepala SMP N 1 Turi. Semua pihak menghujat, mengumpat, mem-bully dan marah akan ketelodoran para pengampu dan pembina kegiatan tersebut.

Saya pun marah kepada ketelodoran dan keras kepala dari pembina yang sudah sempat diingatkan oleh warga kalau jangan melakukan kegiatan susur sungai karena musim penghujan. Akan tetapi kegiatan tersebut tetap berjalan.

Sekarang evakuasi dan pencarian korban sudah selesai dilakukan. Saatnya beberapa pihak yaitu pembina, guru, kepala sekolah dan beberapa warga diminta keterangan oleh pihak kepolisian. Saya sangat setuju bahwa masalah tersebut harus diproses hukum sebagai bentuk pertanggungjawaban moral dari para penanggung jawab kegiatan yang lalai.

Akan tetapi, sekarang viral adalah perlakuan dari aparat penegak hukum yang memperlalukan para tersangka dengan tidak manusiawi. Tersangka digunduli kepalanya dan diperlalukan seperti pelaku kejahatan atau kriminal lainnya.

Pemandangan ini sangat kontras terhadap perlakuan kepada para koruptor dan para perampok negara ini. Para koruptor malah masih ketawa ketiwi seolah tak berdosa.

Guru tersebut juga manusia yang bisa khilaf dan lalai. Guru adalah insan pendidikan yang mencerdaskan anak-anak dan bangsa ini. Jangan diperlakukan yang tidak manuasiawi. Proses dan tegakkan hukum tapi tetap pegang sisi kemanusiaan. Kritik membangun untuk institusi penegak hukum.

Semoga hukum dan keadilan dapat ditegakkan di negeri ini. Hukum bukan hanya tajam ke bawah tetapi tumpul ke atas. (*)

 

Anang Imamuddin

Pemerhati Pendidikan

Apa Tanggapan Anda ?