Suasana saat para penulis berkumpul dan membedah buku Membaca Pasar Magelang.

Daerah

Ketika Para Penulis Membedah Buku

SMK Muhammadiyah 2 Muntilan

MAGELANG – Moment jarang, para penulis bisa berkumpul bersatu di satu moment. Mereka menggelar diksusi dan bedah buku “Membaca Pasar Magelang” di Atrium Artos Mall Magelang. Bekerjasama dengan komunitas penulis Magelang, acara ini mengupas tuntas buku yang diterbitkan penerbit Akar Media itu.

Buku tersebut karya 27 penulis asli Magelang dari berbagai latar belakang dan berbagai generasi. Buku ini memiliki tema besar tentang pasar-pasar di Kota dan Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Diskusi dan bedah buku yang berlangsung 2 jam tersebut, berhasil membawa pengunjung kepada suasana Magelang dan pasarnya di masa lalu. Pada acara itu juga ada sesi tanya jawab dilanjutkan dengan panggung hiburan.

Bagus Priyana, salah satu penulis yang hadir mengatakan, diskusi ini sekaligus merayakan kelahiran Membaca Pasar Magelang yang ke-4. Proyek buku sudah berjalan sejak 2012 lalu, yang merupakan proyek pertama. Proyek ke-2 pada 2014, proyek ke-4 pada 2016, dan proyek ke-4 di 2017 ini.

“Di setiap proyek, buku ini mengalami beberpa perubahan menyesuaikan dengan fakta di lapangan,” jelas Bagus.

Tak hanya Bagus, acara ini juga dihari dua penulis lainnya. Bagus Arif Budi Setiawan dan Ida Fitri Lusiana, serta moderator Nur Fahmia dari Komunitas Ulat Buku. Sepanjang diskusi, para penulis bercerita tentang potret pasar di Magelang tempoe doloe dan masa kini. Pengunjung mall dibawa untuk bernostalgia dan menyerap romantisme pasar tradisional di masa lalu.

Menurut Arif, pasar merupakan cerminan dari budaya masyaraktnya. Disanalah interaksi intens terjadi. Di sana juga rasa kemanusiaan terbentuk.

“Bagaimana tidak? Di pasar humanisme terasa kental sekali. Mulai dari toleransi, kerukunan, dan tolong menolong dalam hubungan pedagang dan pembeli,” kata Arif.

Sejumlah pasar tradisional, baik yang masih beroperasi ataupun sudah hilang di Magelang, antara lain Pasar Rejowinangun, Pasar Kebon Polo, Pasar Ngasem, Pasar Ampera, Pasar Cacaban, Pasar Gotong Royong, Pasar Tarumanegara, dan masih banyak yang lain. Pasar tradisional telah membuktikan peranan yang bukan sekadar tempat transaksi jual beli antara masyarakat yang membutuhkan barang kebutuhan dan penjual, yang menyediakan barang kebutuhan.

Lebih dari itu, pasar tradisional menjadi sarana relasi masyarakat dengan keragaman latar belakangnya. Pasar menjadi kekayaan sosial budaya yang bernilai.

“Akan tetapi, semua itu tergantung dari masyaraktnya. Apakah memilih untuk melestarikan atau membumihanguskan,” ujar Ida Fitriana.

Apa Tanggapan Anda ?