Melestarikan budaya, Disdikbud gelar lomba antar pelajar.

Daerah

Budaya Jawa Mulai Hilang, Siswa Berupaya Lestarikan Kebudayaan

SMK Muhammadiyah 2 Muntilan

MAGELANG – Para siswa Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, dan Sekolah Menengah Atas berkumpul di Hotel Safira, Kota Magelang, Jawa Tengah. Mereka mengikuti lomba pendidikan dengan tema, Menggali Kebudayaan. Lomba ini diselenggarakan langsung Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Magelang.

Beberapa jenis lomba yang digelar yaitu macapat, lomba tari klasik gaya surakarta dan lomba akustik. Lomba digelar selama dua hari di Aula hotel. Dengan melestarikan budaya daerah dan budaya nasional, merupakan sebagai bentuk cinta tanah air dan sejarah.

“Banyak anak-anak yang kurang tahu lagu-lagu daerah dan lagu nasional. Dengan adanya lomba ini, anak bisa bangga dengan lagu daerah dan nasional negaranya yang banyak sekali,” kata Kasi Seni Tradisi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Magelang Indri Astuti.

Lomba tersebut untuk lebih mengangkat dan melestarikan kebudayaan jawa. Peserta lomba dari tingkat SD, SMP dan SMA/SMK. Lomba bertujuan untuk melestarikan kebudayaan nenek moyang yang saat ini dinilai mulai luntur.

“Lomba untuk nguri-nguri budaya Jawa yang mulai hilang. Para pelajar merupakan jati diri suatu bangsa,” jelasnya.

Lomba seperti ini baru diadakan pada tahun ini. Meski baru pertama kalinya, banyak sekolah yang antusias dan siap mengikuti lomba tersebut. Lomba-lomba tersebut diadakan untuk mencari bakat pelajar dan melestarikan budaya.

“Sekarang ini sudah mulai jarang pelajar bisa macapat, tari tradisional surakarta dan menyanyikan lagu nasional dan daerah,” ungkapnya.

Sementara itu salah satu pelatih lomba akustik dari SMAN 1 Magelang Laras mengaku even seperti ini sangat bagus. Apalagi mengedepankan budaya sehingga pelajar bangga dengan kebudayaan bangsanya.

“Lagu-lagu nasional dan daerah sekarang ini mulai asing dikenal oleh para pelajar,” ujar dia.

Hanya dengan waktu singkat anak-anak mempersiapkan latihannya. Ada pengumuman lomba lalu mengumpulkan anak, hingga kemudian diskusi latihan dan langsung mengikuti lomba.

“Seminggu mereka latihan, saya hanya bisa memdampingi tiga hari saja selanjutnya mereka belajar sendiri,” katanya.

Apa Tanggapan Anda ?