Internasional

Di Kancah Dunia, UGM Naik 71 Peringkat

YOGYAKARTA - Peringkat Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta di kancah dunia mengalami kenaikan 71 peringkat. Setelah di tahun sebelumnya menempati posisi 391, pada tahun ini berhasil menempatkan pada peringkat 320 universitas terbaik dunia. Peringkat tersebut dirilis Quacquarelli Symonds (QS-WUR), dalam QS-WUR 2020 pada bulan ini.

Kepala Kantor Jaminan Mutu (KJM) UGM, Prof. Dr. Indra Wijaya Kusuma, M.B.A., menjelaskan pemeringkatan ini dilakukan melalui survei terhadap akademisi dunia, pemberi kerja, dan pihak-pihak lain yang terkait.

Indikator penilaian bagi perguruan tinggi meliputi reputasi akademik, reputasi pemberi kerja, rasio mahasiswa dan dosen, jumlah sitasi, jumlah dosen asing, serta jumlah mahasiswa internasional.

“Kenaikan peringkat bukan sesuatu yang bisa dicapai secara instan karena data yang digunakan adalah rata-rata selama lima tahun. Ada banyak hal yang perlu terus kita tingkatkan, harapannya perlahan-lahan hasilnya akan terlihat dari peringkat yang juga meningkat,” tuturnya.

Rektor UGM, Prof. Ir. Panut Mulyono, M.Eng., D.Eng menjelaskan upaya-upaya perbaikan proses yang dilakukan UGM terbukti mampu meningkatkan posisi UGM, menaikkan 71 peringkat dari tahun sebelumnya.

Hasil pemeringkatan tersebut menempatkan UGM sebagai universitas nomor satu di Indonesia dalam hal reputasi akademik.

Panut menuturkan, dalam waktu ke depan UGM akan terus melakukan berbagai perbaikan dalam proses dan sistem akademik. Hal ini agar misi dan mandat yang telah secara konsisten dikerjakan UGM sejak berdirinya dapat semakin diakui, menjadi rujukan dan acuan perubahan, serta memimpin di dunia internasional.

Pemeringkatan oleh lembaga-lembaga pemeringkat dunia, imbuhnya, bukan menjadi tujuan yang dikejar oleh UGM. Meski demikian, peringkat universitas menjadi salah satu indikator yang dapat digunakan untuk mendongkrak kepercayaan dunia internasional terhadap UGM.

"Tantangan bagi UGM untuk mewujudkan kepemimpinan dalam berbagai bidang semakin berat. Upaya-upaya strategis yang sifatnya jangka panjang harus dapat digeser menjadi strategi pencapaian jangka pendek dan menengah," ungkap Rektor.

Kualitas karya-karya akademik UGM, jelasnya, harus ditingkatkan agar dapat menjadi rujukan serta menghasilkan impak yang dapat dirasakan dunia internasional.

Civitas akademika UGM menurut Panut perlu mengukir lebih banyak artefak ilmiah yang kontributif terhadap kemanusiaan.

Impak ini salah satunya dapat diukur dari sitasi karya-karya sivitas akademika UGM oleh masyarakat internasional. Buku, karya seni, desain, dan inovasi UGM yang melimpah perlu dikelola sedemikian rupa agar keterbacaannya meningkat.

"Salah satu indikatornya adalah karya-karya tersebut harus memiliki sitasi yang tinggi," lanjut Panut.

Ia memaparkan, data yang diolah berdasarkan SciVal (salah satu alat analisis karya akademik) menunjukkan bahwa sitasi per dosen UGM meningkat dari 1,4 di tahun sebelumnya menjadi >1,5 pada tahun ini. Namun demikian, terobosan dan lompatan untuk meningkatkan kualitas karya-karya UGM harus secara konsisten dijalankan.

Di samping itu, peningkatan kepercayaan terhadap UGM juga terlihat dari semakin tingginya proporsi masyarakat internasional yang melakukan kegiatan Tridharma bersama sivitas akademika UGM, salah satunya dengan melakukan studi di UGM.

"Alih-alih mengeluarkan devisa untuk mengirim mahasiswa belajar di luar negeri, akan lebih baik bila pemerintah bersama perguruan tinggi di Indonesia, termasuk UGM, membangun jejaring pendidikan tinggi yang menarik dunia internasional, baik akademisi, industriawan, dan mahasiswa, untuk berkarya bersama di Indonesia, membangun suasana akademik dengan kualitas yang setara dengan perguruan tinggi di luar negeri," pungkasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Panut mengucapkan terima kasih atas dukungan berbagai pihak, baik pemerintah, dekan, dosen, peneliti, Majelis Wali Amanat, Senat Akademik, Dewan Guru Besar maupun pemangku kepentingan lainnya terkait capaian ini. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?