Internasional Tokoh

Ditarikan Mahasiswa UGM, Tari Aceh Ratoeh Jaroe Berjaya di Dunia

YOGYAKARTA – Jangan dianggap seni tari tradisional itu ketinggalan zaman. Keberadaanya sebagai warisan dari nenek moyang patut untuk tetap dilestarikan.

Tari Aceh Ratoeh Jaroe yang ditampilkan oleh komunitas seni tari tradisional Aceh Rampoe Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta berhasil menyisihkan 38 tim dari 13 negara di dunia.

Sebanyak 16 mahasiswa di universitas ternama tersebut dalam menarikan Tari Aceh Ratoeh Jaroe berhasil menjadi juara I dalam Wonju Dynamic Dancing Carnival 2018 di Korea Selatan awal pekan September 2018.

Ketua Rampoe UGM, Asih Laraswati menyampaikan dalam misi kebudayaan di Korea Selatan, pihaknya menurunkan 16 penari putri dengan didukung 3 pemusik, 1 penyanyi, 1 manajer, dan 1 fotografer.

“Kami menampilkan tarian Aceh Ratoeh Jaroe pada kompetisi di Korea Selatan kemarin,” katanya sebagaimana dilansir dari ugm.ac.id

Tari Aceh Ratoeh Jaroe merupakan tari yang menggambarkan kehidupan masyarakat Aceh sehari-hari yang menjunjung tinggi solidaritas. Dalam penampilannya diiringi dengan syair-syair Islam.

Keberhasilan Rampoe UGM dalam misi kebudayaan Korea ini, tidak lepas dari kerja keras dan latihan yang dilakukan oleh para anggotanya awal tahun 2018. Selain itu, juga dukungan dari FIB dan UGM.

“Prestasi yang diraih ini menjadi kebanggaan bagi kami karena bisa mengenalkan budaya Indonesia di tingkat internasional. Sekaligus meraih penghargaan yang mengharumkan nama UGM dan bangsa,” tuturnya.

Perjalanan Tari Aceh Ratoeh Jaroe

Sebagaimana ditulis detik.com, pembuat tari tersebut adalah putra kelahiran Aceh bernama Yusri yang merantau ke ibu kota Indonesia pada 1999 silam.

Setelah berada di Jakarta, Yusri mulai membuat tarian kreasi baru. Pada 2001, tarian ini pertama sekali diperkenalkan dan lambat laun mulai terkenal.

Awalnya, Yusri melatih tarian ini untuk pelajar di SMA 70 di Jakarta. Berselang setahun kemudian, tarian yang menggambarkan tentang kebersamaan ini mulai diikutkan dalam kompetisi.

Pria yang akrap disapa Dek Gam ini berkisah, pada 2002-2003, festival yang digelar di Jakarta masih terbatas. Setahun paling sekali. Namun sejak 2006, event-event festival mulai kerap digelar. Yusri menyebutnya, sehari bisa tiga kali.

"Jadi tari ini menjadi sebuah tarian urban, tarian pendatang baru di Jakarta. Saya tidak bilang (tarian ini) tidak muncul di Aceh, memang tidak ada di Aceh kan, memang berkembangnya di Jakarta," kata Yusri.

Kemunculan tarian ini disambut baik pelajar di Jakarta. Saat ini, sudah puluhan sekolah yang menjadikan Yusri sebagai pelatih tari Ratoh Jaroe.

Menurut Dek Gam, tari Ratoh Jaroe berbeda dengan tari Saman yang sudah dulu kesohor. Dalam tarian Ratoh Jaroe, para penarinya yaitu anak-anak perempuan, diiringi oleh rapai dan menggunakan ikat kepala dan pakaian dari Aceh.

Untuk syair dalam Ratoh Jaroe juga menggunakan lagu Aceh. Selain itu, jumlah penarinya juga tidak ganjil alias genap dan tidak terbatas.

Penarinya paling sedikit berjumlah 10 orang. Hal ini berbeda dengan tari Saman yang dimainkan pria dalam jumlah ganjil. Untuk pakaian, tari Saman juga mengenakan baju khas Gayo.

"(Jadi tarian ini) muncul di Jakarta. Di Aceh (tariannya) rateb meusekat, likok pulo. Saya tidak bilang tarian ini hanya ada di Jakarta," ungkap Yusri.

Makna yang terkandung dalam gerakan tarian Ratoh Jaroe ini yaitu tentang kebersamaan, dan kekompakan. Gerakan dalam tarian ini juga diadopsi dari tari-tari yang ada di Aceh. Seperti Rateb Meusekat, Likok Pulo, Rapai Geleng dan lainnya.

Beberapa bulan lalu, Yusri sudah menggelar workshop di Aceh tentang Tarian Ratoh Jaroe. Rencananya, Yusri akan menampilkan tarian yang memiliki arti bermain tangan sambil berzikir ini, di Aceh pada Oktober 2018 mendatang.

"Waktu saya bikin workshop di Aceh itu orang bertanya-tanya oh begini ya Ratoh Jaroe sebenarnya," jelas pria kelahiran 5 Februari 1977 ini.

"Jadi yang tampil di pembukaan Asian Games itu tarian Ratoh Jaroe, bukan tari Saman," ujar Dek Gam. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?