Nasional

Akademisi UGM, Indonesia Pasar Terbesar Transaksi Online

YOGYAKARTA – Ada informasi yang cukup mengejutkan dalam  International Conference on Economic and Bisnis (GAMAICEB 2018) yang digelar Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gajah Mada (FEB UGM) Yogyakarta, Rabu (12/9/2018).

Dalam acara yang mengusung tema "Shaping the Future of Digital Economy: Trends, Opportunity, and Challenge", Indonesia disebut merupakan pasar terbesar transaksi online di Asia Tenggara.

Dikatakan akademisi dari UGM, Prof. Didi Achjari, Ph.D, bahwa di Indonesia tercatat mencapai 5 miliar dolar AS transaksi praktik jual barang ritel melalui internet.

Sedangkan 3 miliar dolar AS transaksi dilakukan melalui informal e-commerce. Diperkirakan 30 juta penduduk telah melakukan transaksi belanja secara online.

"Pasar perdagangan online ini diproyeksikan akan tumbuh hingga delapan kali lipat dari 2017 hingga 2022. Dari 8 miliar dolar AS  pembelanjaan pada 2017, menjadi 55 miliar hingga 65 miliar dolar AS pada 2022," ujarnya dilansir dari ugm.ac.id

Penggunaan Teknologi yang Tinggi

Menurutnya, ada beberapa yang menyebabkan e-commerce tumbuh pesat di Indonesia. Diantaranya penggunaan telepon seluler yang tinggi dengan teknologi android, termasuk keberadaan generasi millenial yang cerdas dan akrab di dunia digital.

Selain itu, juga semakin banyaknya keterlibatan pengusaha atau UKM dalam perdagangan online, investasi dalam perdagangan online serta dukungan kebijakan pemerintah.

Masih Didominasi di Pulau Jawa

Sementara itu, Destya Danang Pradiptyo, MBA dari PT Bukalapak mengatakan, pesatnya digital ekonomi karena didukung banyaknya pengguna internet di Indonesia.

Pihaknya berharap ada pertumbuhan pesat penggunaan teknologi informasi di luar Jawa. Sebab dalam pandangannya terjadi gap antara perdagangan online Jawa dan luar Jawa.

"Dengan dukungan infrastruktur yang semakin mantap, maka tentunya pertumbuhan ekonomi digital di luar Jawa diharapkan akan semakin meningkat pesat," katanya.

Di sisi lain, Dekan FEB UGM, Eko Suwardi, M.Sc., Ph.D mengungkapkan kehadiran digital ekonomi memberi banyak wacana yang sangat berbeda dengan ekonomi selama ini.

Kehadirannya begitu banyak diikuti oleh para generasi millenial yang sangat berbeda dengan generasi sebelumnya.

"Ciri-cirinya tidak bertele-tele, langsung dan sangat efisien. Semua arus barang dengan cara delivery service," katanya.

Bijak Menggunakan Digitalisasi

Dipilihnya topik tersebut karena saat ini sedang tren dan banyak pihak fokus mengenai pengaruh digitalisasi ekonomi terhadap ekonomi dan bisnis.

Digitalisasi teknologi sudah menjadi keharusan dan FEB UGM mencoba melakukan sesuatu agar dapat berkontribusi dalam pemikiran dan riset untuk menjawab kebutuhan masyarakat.

"Harapan kita harus perhatian dengan apa yang terjadi di sekitar kita. Kita berada dalam dunia yang berbeda, di era milenial yang semuanya serba finger tips. Makanya kita harus bijak terhadap digitalisasi teknologi, baik secara individu maupun sebagai bagian dari masyarakat," kata salah satu panitia, Arief Surya Irawan, SE, M.Com.Ak.

GAMAICEB 2018 diikuti 130 peserta dari berbagai perguruan tinggi ini, menghadirkan dua pembicara asing. Yaitu Prof. Noel Scott dari Griffith University, Brisbane, Australia dan Vanessa Ratten, Ph.D dari La Trobe University, Melbourne, Australia. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?