Kebiasaan anak adalah corat-coret dinding. (ilustrasi: fimela.com)

Opini

Anak Suka Corat-Coret Dinding, Ini Cara Menyikapinya


Siedoo, Kreativitas adalah karakteristik paling menonjol dari anak-anak. Bahkan berbagai studi menyimpulkan bahwa orang dewasa kalah jauh dengan mereka untuk hal yang satu ini.

Kita tahu bahwa setiap anak memiliki jiwa petualang yang luar biasa, dan daya eksploratifnya sangat tinggi sehingga apapun ingin dicoba. Salah satu yang umum kita jumpai adalah kebiasaan mereka suka mencoret-coret dinding.

Sebagai orangtua kita harus menyadari, apa yang dilakukan buah hati itu adalah bagian dari kreativitasnya atau ekspresi dari daya eksploratifnya. Karena itu janganlah kita larang, karena melarangnya berarti kita tidak mendukung eksplorasinya.

Orangtua harus memahami semakin banyak jumlah larangan yang kita berikan, anak bisa menjadi kurang kreatif, kurang inisiatif, lebih sering takut atau malu. Sehingga, menjadi tidak memiliki rasa percaya diri.

Justru karena aplikasi atau penggunaan kreativitas itu masih belum tepat, maka keharusan orangtua adalah mengarahkannya. Jangan sampai kita membiarkan lalu si anak merasa perilakunya diperbolehkan.

Menurut Pakar

Dalam hal ini, ada baiknya kita merujuk kepada saran para ahli atau pakar pendidikan anak, dokter, atau psikolog. Karena kita sebagai orangtua pun perlu belajar bagaimana mengarahkan anak agar tumbuhkembangnya tidak terganggu.

Menurut Dokter Herbowo Agung Soetomenggolo, SpA, orang tua sebaiknya tidak melarang anak yang bereksplorasi dengan mencoret-coret dinding. Karena, ketika orang tua melarang akibatnya anak tidak berani bereksplorasi kembali.

“Hal tersebut (anak mencoret-coret dinding) terkadang memang membuat orang tua kesal. Tapi itu bukan alasan untuk melarang anak bereksplorasi," ucap dokter yang praktik di RSIA Hermina Jatinegara, Jakarta, dilansir detikHealth (28/12/2016).

Dinding/tembok memang sasaran anak untuk corat-coret, dinding kosong/bersih tanpa coretan membuat anak geregetan. Kita lengah maka gambar benang kusut pun menghiasi dinding rumah.

Sebetulnya, anak suka mencoret dinding karena memang dia menikmati warna, tekstur krayon, dan keleluasaan gerakan mencoret di dinding. Selain itu, aksi coret-coret lebih mudah dalam posisi berdiri dibandingkan menggambar di atas meja dalam posisi duduk.

“Posisi berdiri membuat koordinasi tangan dan matanya lebih baik dan terasa lebih nyaman,” kata Beckey Bailey, PhD., penulis buku There’s Gotta be a Better Way.

Kita sebagai orangtua harusnya tetap mendorong dan mengarahkan anak supaya potensinya keluar di jalur yang pas. Bukan sekedar melarang atau membiarkan semata.

Misalnya, anak kita dorong untuk mencoret-coret di kertas kosong yang telah kita sediakan. Menyediakan ruangan atau tempat yang membuat dia bebas dan aman mengekspresikan imajinasinya, kreasinya atau eksplorasinya.

Namun meskipun sudah kita sediakan ruangan atau fasilitas selain dinding untuk dicoret-coret, tidak berarti ini akan berjalan dengan tertib. Pasti ada kemungkinan dia akan kembali mencoret dinding atau perabotan yang kita jaga keindahannya.

Cara Menyikapi

Berikut beberapa cara menyikapi anak untuk tidak corat-coret dinding, namun daya kreatif dan eksplorasinya tersalurkan.

1. Siapkan satu area dinding untuk dia coret-coret

Yang kita lakukan misalnya disiapkan pada tembok di kamar tidurnya, kamar bermainnya, atau area yang tak terlihat tamu. Beri tahu anak, dia boleh mencoret-coret sepuasnya di dinding itu saja. Bila tak ada dinding kosong, gantungkan white board di pojok favoritnya.

2. Sediakan krayon, pensil warna, dan spidol yang tak mengandung zat berbahaya.

Hal ini perlu dilakukan karena pada usia mereka, anak masih suka penasaran menjilat atau menggigit krayonnya. Bahkan mengoleskannya di bibir meniru ibu atau kakak perempuannya saat memakai lipstick.

3. Jadwalkan waktu untuk anak mencoret-coret

Pada usianya, anak-anak memang menyukai kegiatan-kegiatan yang terpola, dan dengan jadwal rutin setiap hari. Kita bisa membagi-bagi waktunya untuk mengasah kemampuan yang lain, seperti melatih motorik kasar, memori, dan lain-lain.

Selain itu, di saat jam coret-coret, kita bisa mengajak anak beralih mencoret kertas atau karton lebar. Gelar saja di atas lantai, jika di atas meja dirasa tidak cukup, dan biarkan dia memenuhi karton itu dengan coretan.

4. Hindari memarahi anak saat mencoret dinding/tembok

Di depan telah disarankan orangtua jangan memarahi anak bila mereka corat-coret dinding. Karena itu berarti orangtua menghambat kreativitas anak, dan satu langkah besar dalam pencapaian kemampuan motoriknya.

Bila anak telanjur mencoret di luar tempat yang sudah disepakati, ajak dia membersihkan bagian itu, dan ingatkan lagi bahwa dia punya area khusus untuk dicoret-coret. Semoga tulisan ini bermanfaat, dan selamat mempraktikkan!. (*)

 

 

*Yayan Rusyanto
Pemerhati pendidikan tinggal di Cilacap, Jawa Tengah

Apa Tanggapan Anda ?