Siedoo.com -
Nasional

KBBI Braille Bantu Tuna Netra Belajar Bahasa Indonesia

JAKARTA – KBBI Braille telah dicetak sejak tahun 2018. KBBI Braille diluncurkan dalam Kongres Bahasa Indonesia XI pada 28 Oktober 2018 di Hotel Grand Sahid Jaya Jakarta. Kehadirannya diharapkan membantu penyandang tunanetra dalam belajar Bahasa Indonesia.

Kepala Badan Bahasa Kemendikbud, Dadang Sunendar berharap masyarakat penyandang tunanetra memanfaatkan KBBI Braille ini. Saat ini KBBI Braille juga tersedia di Perpustakaan Nasional.

“Kami berharap masyarakat penyandang tunanetra memanfaatkan KBBI Braille,” katanya dilansir dari kemdikbud.go.id.

Pihaknya telah menyerahkan satu set KBBI Braille dan satu buku Sejarah KBBI kepada kepada Direktur Perpusnas Muhammad Syarif Bando akhir Januari 2019.

Dijelaskan, pencetakan KBBI Braille merupakan hasil kerja sama antara Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan Balai Penerbitan Braille Indonesia (BPBI) “Abiyoso” Kementerian Sosial (Kemensos).

KBBI Braille disusun untuk mewujudkan keadilan dan kesamarataan informasi untuk semua kalangan masyarakat. Hal ini sejalan dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas.

Alih huruf menjadi KBBI Braille dilakukan dengan melibatkan penyandang tunanetra langsung sebagai pengguna kamus. Setelah pengalihan huruf ke huruf Braille selesai dan dicetak, dilaksanakan penyuntingan oleh penyandang disabilitas netra untuk menghindari kesalahan penulisan, keterbacaan, dan sebagainya. Setelah itu, KBBI Braille dicetak dan dijilid secara khusus.

Dalam setiap jilidnya, KBBI Braille berisi lima puluh lembar kertas khusus cetakan Braille. Secara keseluruhan, KBBI Braille terbagi menjadi 139 jilid. Setiap jilidnya terdiri atas bagian depan kamus yang berisi petunjuk pemakaian. Bagian batang tubuh berupa entri kamus dari A—Z, dan bagian belakang yang berisi lampiran.

Dari segi isi, KBBI Braille tidak berbeda dari KBBI V. Tampilan luar KBBI Braille berupa jenis serta ukuran huruf, warna, logo Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dan sebagainya juga sama dengan KBBI V. Perbedaannya hanyalah pada tambahan nama instansi pengalih huruf berikut pencetaknya serta logo Braille. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?