Ahmad Haris saat tampil di acara Hitam Putih.

Tokoh

Haris, Guru Penakluk Selat, Ketiban Penghargaan dari Kemenag


Siedoo, Nama Ahmad Haris sempat viral di dunia media sosial (medsos) belakangan ini. Ia adalah seorang guru di MI Pulau Bua, Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT). Setiap hari pria 40 tahun ini harus keluar rumah pada pagi buta, berjalan 3 kilometer melewati hutan. Lalu terkadang berenang menyeberangi selat sejauh satu mil, hanya untuk mengajar.

“Kadang kalau tidak ada kapal, berenang,” kata Haris dalam acara Hitam Putih yang disiarkan salah satu televisi swasta nasional.

Diakuinya, tidak adanya kapal tersebut karena tidak beroperasi. Gelombang selatnya sangat tinggi. Meski menyeberangi derasnya air itu penuh resiko, tetapi tetap ia lakukan. Hal ini sudah dilakukan hampir 15 tahun lamanya.

“Pernah berpikiran untuk pindah. Kalau pindah siapa yang akan menggantikan. Maka saya bertahan,” katanya lebih lanjut.

Atas kegigihan dalam memberi pelajaran ke siswa, mengundang rasa haru dari Kementerian Agama (Kemenag). Karenanya, Haris menjadi guru madrasah yang dinilai menginspirasi di Indonesia. Ia mendapat penghargaan.

Secara simbolis, penghargaan diberikan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dalam acara Talkshow & Penghargaan Guru Inspiratif, di Bandung, Jawa Barat.

Selain Haris, Kemenag telah memilih lima sosok guru inspiratif lainnya. Seperti Untung, guru MI Miftahul Ulum, Sumenep, Jawa Timur, Suraidah, guru MI Darul Furqan, Sebatik, Nunukan, Kalimantan Utara, Indra Ariwibowo, guru MI Luar Biasa Budi Asih, Semarang, Jateng dan Supena dari MI al-Ishlah, Bani Menoy, Lebak, Banten.

“Mereka adalah sosok guru istimewa yang spirit dan perjuangannya menginspirasi kita semua. Negara dan bangsa ini berhutang kepada mereka,” kata Menag dalam rilisnya.

Mendengar kisah mereka, Menag menilai para penerima penghargaan ini memiliki kesamaan, yaitu menghadapi keterbatasan fasilitas, minim kesejahteraan, dan bergelimang kisah-kisah menyedihkan. “Tetapi mereka menaklukkan semua tantangan itu dengan kekuatan keikhlasan tingkat tinggi. Kalau kita refleksikan kepada diri kita, belum tentu kita sanggup melakukannya,” akunya,

Baca Juga :  Sisihkan 19 Negara, Indonesia Juara Umum WSA, Boyong 6 Emas

Kekuatan mereka, dibentuk oleh kecintaan yang luar biasa kepada anak-anak didik. Para guru yang mendapat penghargaan, seluruhnya berasal dari daerah-daerah terpencil.

Sementara itu, Indra Ariwibowo, guru MI Luar Biasa Budi Asih, Semarang, Jateng harus berjuang bersama muridnya. Pada awalnya hanya berjumlah empat orang di kelas yang selalu banjir jika musim hujan tiba.

Bersama beberapa rekannya ia berhasil menghidupkan kembali sekolah tua yang sudah hampir tutup. Ia mengubahnya menjadi sekolah untuk anak berkebutuhan khusus, yang kini telah memiliki gedung tanah dan sendiri.

Suraidah, seorang guru yang juga kepala MI Darul Furqan, Sebatik, Nunukan, Kalimantan Utara harus mengabdi di daerah yang merupakan kawasan terpencil yang bergelimang kemiskinan. “Ada murid saya kakak beradik yang harus memakai satu baju seragam secara bergantian dengan adiknya yang mengambil kelas sore,” katanya.

Secara umum, siswa di daerahnya merupakan siswa miskin yang masih menghadapi masalah dengan baju seragam, sepatu, dan alat-alat sekolah.

Direktur Guru Dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kemenag Suyitno meminta, guru terus berinovasi dalam menyebarkan ilmu dan moderasi Islam untuk masa depan agama dan negara yang baik. “Teruslah melahirkan inovasi dalam menebarkan ilmu kepada anak didik. Anda tidak sendirian karena kami selalu mendorong dan mengafirmasi di tingkat kebijakan,” katanya.

Di Indonesia, terdapat 49.337 madrasah, dari tingkat madrasah ibtidaiyah (MI) sampai madrasah aliyah (MA). Dari jumlah itu, 92,1% adalah madrasah swasta, sisanya merupakan Madrasah Negeri.

Dalam perjalanannya, madrasah selalu melahirkan sosok guru stimewa yang mendedikasikan hidupnya untuk dunia pendidikan. (*)

Apa Tanggapan Anda ?
SD Mutual Kota Magelang