Meski usianya tergolong sepuh, namun tidak menyurutkan para sekretaris desa untuk terus belajar.

Daerah

Ketika Sekdes Sepuh Diperkenalkan Teknologi Komputer

SMK Muhammadiyah 2 Muntilan

MAGELANG – Sekitar 60 sekretaris desa (Sekdes) dari berbagai kecamatan mengikuti pelatihan komputer yang diselenggarakan Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Pelatihan ini untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan dan pelayanan pemerintahan di Kabupaten Magelang.

Acara diawali dengan sosialisasi di kampus 2 Universitas Muhammadiyah Magelang (UM Magelang) terlebih dahulu. Pemateri pertama disampaikan oleh Nila Feby Puspitasari MKom, akademisi dari Amikom Yogyakarta.

Agenda dilanjutkan dengan pemateri lain dari UM Magelang Ardhin Primadewi SSi MTI dan Bambang Pujiantoro MKom, yang juga bertindak sebagai penanggung jawab acara. Setelah sosialisasi pada hari pertama berakhir, selanjutnya para peserta mendapatkan pelatihan di Laboratorium Infromatika UM Magelang.

Pelatihan berlangsung dua hari, mulai 24 – 25 Maret 2017. Pada hari pertama, peserta diberikan materi pelatihan seputar office yang meliputi document, spreadsheet dan presentation. Selanjutnya pada hari terakhir masih melanjutkan materi sebelumnya, yaitu seputar office. Pada sesi ini peserta juga diberikan materi khusus tentang pengenalan internet, yang meliputi pembuatan email dan sharing file dengan menggunakan layanan cloud.

Ada peristiwa yang sangat berkesan bagi para tutor dalam kegiatan ini. Yaitu, terkait antusiasme peserta dalam usahanya untuk mengikuti materi yang disampaikan.

“Walupun usia beberapa peserta sudah terbilang sepuh, tapi justru suasana pelatihan menjadi hidup. Salah satunya dengan banyaknya interaksi yang terjadi dan kemauan keras para peserta untuk bisa,” kata Ahmad Arif, salah satu tutor pelatihan.

Adapun target dari kegiatan ini untuk memperkenalkan teknologi komputer dan penggunaannya kepada aparat desa. Dengan demikian, pelayanan pada tingkat desa dapat dilaksanakan dengan baik.

“Kedepan kegiatan seperti ini harus dilaksanakan secara berkesinambungan, dengan waktu yang lebih panjang. Ini karena materi dasar yang disampaikan terbilang cukup banyak,” kata Bambang Pujiantoro.

Ia pun mengaku bahwa selama pelatihan, pendeknya waktu menjadi masalah utama. Hal ini kemudian berdampak pada materi yang terbilang cukup banyak, namun dipadatkan dan dipersingkat. Keadaan seperti ini, menjadi tantangan tersendiri bagi para tutor pendamping pelatihan, bagaimana mereka menyampaikan materi dengan jelas dalam waktu singkat. Serta, materi dapat dimengerti oleh semua peserta.

“Semoga ini menjadi langkah awal yang baik untuk mewujudkan penerapan smart village di Kabupaten Magelang,” kata Bambang.

Apa Tanggapan Anda ?