PALAGAN MAGELANG. Aksi teatrikal pertempuran pejuang Magelang melawan pasukan Kido Butai, Jepang diperagakan oleh Komunitas Magelang Kembali, Komunitas Djokdjakarta 1945, Roodeburg Soerabaia, dan Semarang Historical Reenactment, beberapa waktu lalu di halaman SMP Negeri 1 Kota Magelang (Foto: Narwan SK)

Opini

Hari Pahlawan, Mengenang Aksi Heroik Prapto Ketjik Membebaskan Gurunya


Siedoo, Memperingati Hari Pahlawan ke-73 diambil tema ‘Semangat Pahlwan di Dadaku’, dengan slogan “Jadilah Pahlawan Masa Kini yang Memiliki Kepedulian Terhadap Sesama”. Slogan motivasi kepahlawanan itu terpampang di sekolah-sekolah dalam minggu – minggu ini. Hal itu menindaklanjuti perintah dari dinas pendidikan di masing-masing daerah, dalam menanamkan jiwa kepahlawanan kepada para pelajar.

Pendidikan kepahlawanan memang perlu ditanamkan kepada generasi muda Indonesia. Termasuk kepada para pelajar. Sehingga, di zaman merdeka ini, mereka bisa mewarisi semangat untuk membangun Indonesia lebih maju.

Kepahlawanan Prapto Ketjik

Berikut ini, penulis menukil sekelumit sejarah yang terjadi di Magelang, Jawa Tengah 73 tahun lalu, yang dikenal dengan Palagan Magelang. Sebuah aksi heroik seorang siswa Sekolah Rantai Kentjana (sekarang SMP Negeri 1 Kota Magelang). Perjuangan seorang siswa dalam membebaskan gurunya.

Tanggal 31 Oktober 1946, sekira pukul 07.30 terdengar tembakan dari tentara Inggris. Pecahlah pertempuran dan serta merta rakyat Magelang bergerak mengepung pasukan Inggris, dari segala penjuru. Akhirnya tentara Inggris terjepit dan putus hubungan satu dengan yang lain.

Pesawat terbang Sekutu pun datang mencari kontak dengan tentara Inggris. Akhirnya mendapatkan berita bohong dari pasukan NICA yang mengabarkan Mayor Jenderal Nakamura ditawan pemuda Magelang. Akibat pembohongan berita oleh NICA tersebut, datanglah 7 truk pasukan Kido Butai (Jepang) yang bermarkas di Semarang. Mereka menyerbu Magelang dengan aksi balas dendam.

Pasukan Kido Butai membabi buta menyerang penduduk di Kampung Tulung, Botton, Magelang. Kampung ini merupakan markas para pejuang Magelang saat itu. Serangan pasukan Jepang yang mendadak itu menimbulkan banyak korban di pihak pejuang Magelang.

Sekolah Rantai Kentjana pun tak lepas menjadi sasaran amukan pasukan Jepang. Mereka menggiring para pejuang masuk ke komplek sekolah, kemudian menyandera beberapa siswa dan guru di dalamnya.

Pada saat itu seorang siswa bernama Prapto Ketjik dengan topi bajanya berlari mendekati tentara Jepang. Dia hendak menyelamatkan guru dan teman-temannya. Kedatangan Prapto Ketjik menarik perhatian tentara Jepang.

Tanpa diduga seorang tentara Jepang menembak kepala siswa yang bertopi baja itu. Gugurlah seketika Prapto Ketjik di hadapan guru dan siswa lain.

Akibat kekejaman pasukan Inggris dan Jepang itu, tanggal 3 November 1945 ditemukan korban 87 orang termasuk wanita, anak-anak dan murid-murid sekolah, yang saat ini menjadi gedung SMP Negeri 1 Kota Magelang.

ILUSTRASI. Prapto Ketjik, siswa Sekolah Rantai Kentjana gugur dalam aksi menyelamatkan gurunya yang ditawan pasukan Jepang. (foto: Narwan SK)

Menjadi Pahlawan Masa Kini

Itulah sekelumit kepahlawanan dari seorang Prapto Ketjik. Berani menghadapi keganasan pasukan Kido Butai. Apakah kita terutama para pelajar harus seperti Prapto Ketjik?

Tentu tidak. Namun semangat kepahlawanan Prapto Ketjik harus kita miliki. Tetapi tidak perlu dengan mengangkat senjata, cukup dengan pendidikan dan prestasi kita.

Musuh kita sekarang adalah kebodohan. Setiap bangsa Indonesia harus memiliki pendidikan dan prestasi setinggi-tingginya. Bila kita melawan Jepang, bisa jadi di ajang kontes robot.

Kita melawan Inggris atau Belanda, bisa jadi dalam olimpiade iptek. Paling tidak, kita harus menjadi pahlawan masa kini yang memiliki kepedulian terhadap sesama. Selamat Hari Pahlawan.

 

 

*Narwan, S.Pd

Guru SD Negeri Jogomulyo, Tempuran

Magelang, Jawa Tengah

Apa Tanggapan Anda ?