Opini

Efektivitas Pendidikan Nasionalisme Melalui Prime Time

Siedoo, KEINGINAN pemerintah menanamkan nasionalisme melalui media televisi, merupakan langkah bagus. Namun seberapa efektifkah nantinya, hanya dengan sekedar menayangkan lagu-lagu nasional, melalui media layar kaca tersebut?

Melalui Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam), Luhut Binsar Pandjaitan, pemerintah meminta semua stasiun televisi memutar lagu kebangsaan pada jam-jam prime time. Keharusan memutar lagu-lagu kebangsaan, termasuk lagu Indonesia Raya, adalah untuk menumbuhkan rasa cinta tanah air serta mempererat persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Selain itu, mencegah munculnya radikalisme (viva.co.id).

Keharusan itu dinilai bagus karena diberlakukan bagi semua stasiun televisi di negeri ini. Namun, keefektifannya masih perlu dikaji lebih jauh. Mengingat keharusan hanya pada saat prime time.

Dalam dunia pertelevisian prime time dikenal sebagai bagian hari atau bagian jadwal yang diprogramkan dengan sebagian besar pemirsa dan umumnya di mana jaringan televisi dan stasiun lokal menuai banyak pendapatan iklan mereka.

Prime time terjadi antara pukul 18.00-22.00. Bagi pengiklan atau produsen, di sinilah saat yang tepat untuk mempromosikan produk-produk yang ingin dijual. Maka pada rentang waktu tersebut banyak penonton yang mengeluhkan iklan yang cukup banyak dan berbanding terbalik dengan jam tayang program favorit mereka.

Banyaknya penonton pada jam prime time mendorong pihak televisi dengan tim kreatif mereka membuat acara yang menarik. Acara yang dapat dinikmati pemirsa sambil melepas lelah setelah seharian bekerja. Sehingga, pengiklan akan berusaha iklan produknya bisa ditonton banyak pemirsa sebagai konsumen atau calon konsumen.

Pemutaran lagu-lagu nasional pada ‘jam tayang utama’ ini kebanyakan, pemirsa dewasa. Mengingat anak-anak usia sekolah antara jam 18.00-22.00 merupakan jam belajar. Sehingga, yang mendengarkan pemutaran lagu-lagu nasional hanya pemirsa dewasa. Itu pun kalau tidak pindah-pindah channel lain, saat lagu diputar.

Dengan demikian program pemerintah tersebut kurang efektif. Menumbuhkan nasionalisme dalam dada setiap warga Indonesia tentu tidak cukup bagi kalangan dewasa saja. Justru kepada anak-anak lebih ditekankan sebagai penerus bangsa.

Jangan Kesampingkan Acara Anak-Anak

Anak-anak pun menjadi pemirsa televisi pada jam-jam luangnya. Biasanya pada sore hari, mereka menikmati sajian program acara anak-anak dari berbagai stasiun televisi. Pada acara itu pengiklan pun berlomba menawarkan produk dengan sasaran anak-anak sebagai konsumen. Jangan heran bila banyak anak hafal mars lagu sebuah parpol, akibat sering ditayangkan di berbagai acara termasuk acara anak-anak.

Maka, penanaman nasionalisme lewat media televisi sangat perlu pada jam-jam di luar prime time. Bahkan perlu diselipkan di semua program acara. Tentu tidak hanya dengan keharusan memutar lagu-lagu nasional atau dengan khutbah-khutbah yang menyejukkan di pagi hari. Namun perlu tayangan atau selipan acara dalam bentuk lain.

Bentuk lain dimaksud adalah cuplikan atau videoklip berdurasi pendek namun mampu menembus sasaran pemirsa. Di mana videoklip itu bisa saja berupa gambaran karakter nasionalisme atau aktualisasi bangsa Indonesia yang mampu menumbuhkan pendidikan karakter bagi pemirsa, utamanya kepada anak-anak.

Meskipun belum jelas kapan akan diberlakukan kewajiban dan apa sanksi bila tidak memutar lagu-lagu nasional bagi setiap stasiun televisi, rencana itu perlu disambut baik dan disikapi sebagai suatu peluang kreativitas bagi anak-anak bangsa. Terutama mereka yang berkecimpung di dunia pertelevisian, sinematografi dan dunia pendidikan.

Pemerintah memang berharap program tersebut untuk memepererat persatuan dan kesatuan Indonesia. Selain itu nuansa-nuansa kebangsaan yang ditayangkan bertujuan mencegah radikalisme dan pemahaman masyarakat.

Bagi mereka yang menggeluti dunia sinematografi dan periklanan, tentu dapat berkreativitas membuat videoklip baik beriklan maupun tidak untuk bisa ditawarkan ke berbagai stasiun televisi sebagai materi tayangan mematuhi kewajiban dari pemerintah itu.

Anak-anak sangat asyik bila di depan televisi. Tak jarang mereka menikmati film animasi produksi impor yang semakin membuat anak enggan meninggalkan tempat duduk. Seperti Upin dan Ipin, Doraemon atau Naruto. Juga, animasi superhero mancanegara.

Keasyikan anak-anak di depan televisi ini hendaknya dimanfaatkan bukan hanya untuk menjual produk melalui iklan yang ditayangkan pada acara kesukaan mereka. Namun perlu ditayangkan berbagai cuplikan bernuansa edukasi termasuk pendidikan karakter.

Rasa nasionalisme dan kebanggaan sebagai bangsa Indonesia memang makin terkikis oleh kemajuan zaman yang serba mengglobal. Masyarakat hanya terdorong menjadi bagian dari masyarakat dunia, tanpa memperhatikan kearifan lokal dan nasional di negaranya.

Pemerintah perlu membuat regulasi lebih baik dan lebih mengedepankan efektivitasnya. Karena televisi merupakan salah satu media ampuh dalam menyampaikan berbagai informasi dan mengubah perilaku masyarakat dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Apa pun alasannya menjalin persatuan dan kesatuan Indonesia atau mencegah radikalisme dan pemahaman masyarakat, tidak cukup ditujukan untuk kalangan dewasa. Justru kepada anak-anak lebih ditekankan, mengingat mereka adalah penerus kelangsungan hidup bangsa Indonesia. Sehingga acara televisi untuk anak-anak jangan dikesampingkan dengan mengutamakan jam-jam prime time untuk penanaman nasionalisme lewat media televisi.

 

*Narwan, S.Pd

Guru SD Negeri Jogomulyo Kecamatan Tempuran

Kabupaten Magelang Provinsi Jawa Tengah

 

Apa Tanggapan Anda ?