Daerah

Menristekdikti dan Rektor Ajak Lulusan Untad Lakukan Ini

PALU – Meskipun beratapkan tenda di Lapangan Universitas Tadulako (Untad), Kota Palu, Sulawesi Tengah, acara Wisuda ke-94 Untad berlangsung lancar. Pada acara itu Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir hadir bersama Dirjen Sumberdaya Iptek Dikti Ali Ghufron. Dalam orasi ilmiahnya Mohamad Nasir mengajak seluruh civitas akademik Untad lakukan perbaikan di semua sektor.

Gedung yang sedianya akan digunakan wisuda masih rusak akibat bencana gempa beberapa waktu lalu. Nasir menyampaikan, jangan sampai kampus yang rusak menjadi penghalang untuk bangkit dan menghilangkan rasa semangat Untad. Nasir juga jelaskan bahwa dirinya telah mengajak Kementerian PUPR untuk merevitalisasi bangunan kampus.

“Saya telah berkoordinasi dengan menteri PUPR. Oleh Pak Menteri PUPR rencananya dianggarkan untuk menyelesaikan perbaikan kampus pada tahun 2019, sebesar Rp 283 miliar. Akan kita selesaikan di tahun 2019,” ujar Nasir, seperti dikutip dari ristekdikti.go.id. 

Dalam acara itu, Menristekdikti memberikan Beasiswa Bidikmisi kepada 896 mahasiswa korban gempa dan tsunami di Untad yang diwakili secara simbolis kepada 5 mahasiswa. Wisuda ke-94 Universitas Tadulako (Untad) dipimpin Rektor Untad M. Basyir Cyio yang meluluskan ratusan mahasiswa Untad dari program pascasarjana, sarjana, dan diploma.

“Dalam wisuda ke-94 kali ini kami sengaja melakukan penyesuaian item-item acara tanpa mengurangi makna yang dikandungnya,” ujar Rektor Untad M. Basyir Cyio.

Ia mengajak wisudawan jangan menanyakan hakikat apa yang ada di dalam tenda sederhana itu. Selain tidak bisa ditakar dengan rupiah, juga akan menjadi kisah nyata dalam perjalanan para wisudawan di masa mendatang.

Basyir juga mengingatkan bahwa tidak dilarang untuk bersedih, bahkan boleh saja menangis dan terisak. Namun tidak boleh larut keberkepanjangan dalam duka. Basyir mengajak untuk menjadikan duka sebagai awal kehidupan.

“Cobaan gempa bumi, tsunami, likuifaksi, yang Tuhan tunjukkan adalah sebuah pembelajaran. Bahwa kita di hadapan Tuhan, bukan siapa-siapa,” jelas Basyir. (Siedoo/NSK)

Apa Tanggapan Anda ?