Daerah

Generasi Alfa Perlu Pendidikan Karakter dengan Porsi Lebih

SEMARANG - Generasi, X, Y, dan Z sudah lewat. Generasi itu akan digantikan Generasi Alfa, anak-anak yang lahir mulai 2010 hingga sekarang. Generasi Alfa yang saat ini paling tua masih di pendidikan dasar, perlu diberi pendidikan karakter yang nantinya sebagai bekal masa selanjutnya.

Porsi pendidikan karakter perlu dengan yang lebih besar. Mengingat tantangan global ke depan lebih berat.

Saat ini, usia Generasi Y paling tua setidaknya 27-28 tahun, sedangkan Generazi Z tertua berusia 22-23 tahun. Sebagian generasi yang sudah melek teknologi itu telah memiliki anak yang masuk kategori Generasi Alfa. Kemudahan bagi generasi sebelumnya menimbulkan ketakutan terhadap generasi selanjutnya.

“Demikian pula Generasi Y dan Z yang hidup pada era melek teknologi cenderung memiliki ketakutan tersendiri pada Generasi Alfa,” ungkap pengelola Klub Merby, Semarang, Krisna Phiyastika.

Klub Merby merupakan sebuah klub di Semarang, Jawa Tengah yang fokus ke pendidikan, seni, dan budaya. Klub Merby memiliki berbagai kegiatan untuk membentuk karakter anak.

Krisna mengatakan hal itu terjadi karena Generasi Alfa telah mengenal teknologi bahkan sejak dalam kandungan. Jika generasi-generasi sebelumnya mengenal teknologi saat dewasa dan remaja, Generasi Alfa mengenal teknologi bahkan sejak dalam kandungan. Misalnya, orang tua sudah memperdengarkan musik pada bayi dalam kandungan.

“Generasi Alfa sebagian besar dilahirkan orang tua Generasi Y dan Z. Mereka memiliki ketakutan soal kemudahan teknologi yang dapat diakses anak-anak,” katanya.

Menurut Krisna, dari generasi ke generasi, pendidikan formal akan diterima lebih awal. Jika sebelumnya pendidikan awal dimulai sejak taman kanak-kanak (TK), lalu generasi berikutnya beralih mulai kelompok bermain, saat ini kelas bayi (baby class) hadir untuk melatih peningkatan motorik anak.

Baby class bisa diikuti orang tua dan bayi. Para orang tua tidak perlu takut atas kemudahan teknologi saat ini yang bisa dinikmati anak-anak. Justru peran orang tua yang bisa membentuk karakter anak,” katanya.

Dijelaskan Krisna, Generasi Alfa memiliki banyak hal positif. Mereka memiliki intelektual lebih tinggi, melek teknologi, hingga bisa mengakses informasi lebih cepat dan mudah. Namun itu juga bisa menjadi bumerang jika orang tua tidak bisa memberikan treatment yang baik untuk anak.

Orang tua takut anak-anak Generasi Alfa cenderung individualis dan mudah terkena obesitas. Generasi Alfa cenderung menjadi generasi dengan daya juang rendah karena semua serba mudah dan instan. “Nah, di sini orang tua yang paling tahu porsinya,” ujar dia.

Pendidikan karakter menjadi penting ditanamkan ke anak. Untuk itu, Klub Merby mengutamakan penumbuhan karakter anak, menghargai perbedaan, menghormati orang lain, saling peduli, dan mencintai alam.

“Bayangkan, Generasi Alfa akan jadi orang-orang cerdas. Jika tidak saling menghargai perbedaan, akan kacau,” ucap dia.

Sementara itu, pendiri Small Initiatives, Semarang, Ike Purwaningsih, menyatakan Generasi Alfa akan lebih pintar dan melek teknologi. Jika orang tua pintar mengarahkan, generasi itu akan tumbuh lebih mandiri dan kreatif.

”Generasi Alfa ini cenderung berpikiran lebih kritis dan multitasking kalau diarahkan dengan baik. Mereka cukup akrab dan pintar bermain gawai, sehingga membuat hubungan komunikasi dengan teman- teman kurang dekat,” katanya dilansir suaramerdeka.com.

Untuk menanggulangi hal itu, Ike bersama anggota Small Initiatives mengajak anak meminimalisasi penggunaan gawai dengan membuat kegiatan yang mengajak anak lebih aktif bergerak dan bersosialisasi. Mulai dari dolanan tradisional, bereksperimen dengan ilmu sains, dan membuat karya seni berupa gambar atau tarian.

Sesekali anak juga perlu diajari memanfaatkan kemudahan teknologi. Salah satunya dengan melatih anak peduli sesama yang terkena musibah dengan mengumpulkan donasi lewat video yang mereka buat dengan gawai.

“Mereka menyebarkannya lewat media sosial. Kegiatan itu tetap dalam pengawasan kami,” katanya.

Ike mengungkapkan, Small Initiatives menerapkan pendidikan literasi penggunaan gawai. Karena tidak mungkin membuat Generasi Alfa tidak bersinggungan dengan gawai. Perkembangan teknologi pada era mereka sudah sangat canggih.

Siapa tidak bisa mengikuti akan tertinggal. Perkembangan zaman mereka nanti lebih mengerikan.

“Jadi anak-anak tetap perlu diedukasi untuk melek teknologi agar bisa menghadapi persaingan yang makin ketat dan cepat,” jelas Ike. (Siedoo/NSK)

Apa Tanggapan Anda ?