Nasional

Berikut Langkah Kemendikbud Menghidupkan Pendidikan Paska Tsunami

JAKARTA - Menyikapi dampak bencana gempa dan tsunami di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah (Sulteng) terutama terkait bidang pendidikan, Kemendikbud akan segera bertindak. Diketahui lebih dari 100 ribu siswa dan 20 ribu terdampak bencana hebat tersebut. Belum lagi ada 2.736 sekolah yang rusak.

Bantuan yang disiapkan di antaranya pendirian tenda untuk digunakan sebagai ruang kelas darurat, pengiriman tim pemulihan trauma (trauma healing) untuk pendampingan psikologis, rehabilitasi sekolah, dan tunjangan khusus bagi guru yang menjadi korban bencana.

“Sedang kami pertimbangkan, seperti kemarin di NTB, kami ada tunjangan khusus dan itu amanah undang-undang. Nanti kami akan lihat kemampuan Kemendikbud,” ujarnya dilansir dari kemdikbud.go.id.

Pihaknya akan mengumpulkan guru-guru yang terdampak bencana. Mereka akan diberikan pendampingan dan motivasi. Hal ini dilakukan agar mereka bisa kembali menjalankan tugasnya mengajar setelah situasi dianggap mulai kondusif.

Ia berharap, kegiatan belajar mengajar di wilayah Sulteng bisa segera dimulai.

“Kalau sekolahnya roboh, nanti kita siapkan ruang kelas darurat berupa tenda,” tutur Mendikbud.

Ia menambahkan, penanganan seluruh dampak bencana berada di bawah koordinasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), termasuk bidang pendidikan.

"Jika memungkinkan, sekolah dibangun di lokasi asal. Jika harus direlokasi, nanti dibangun di tempat lain," jelasnya.

Mendikbud mengakui, pendataan sulit dilakukan karena Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) juga terdampak bencana, baik gedung instansi maupun pegawainya.

Kemendikbud akan berupaya semaksimal mungkin untuk melakukan pendataan dan mengirimkan bantuan untuk pendidikan di Sulteng.

"Kemendikbud tetap akan beri bantuan, peralatan belajar, pendampingan psikologis, dan rehabilitasi sekolah yang rusak ringan. Karena pendidikan juga menjadi urusan pemerintahan yang dilimpahkan ke daerah, sehingga Kemendikbud mengambil alih sebagian tugas daerah terutama yang tidak mungkin ditangani daerah," katanya.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat jumlah korban meninggal akibat gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah mencapai 1.424 orang hingga Kamis (4/10/2018) pukul 13.00 WIB.

"Korban meninggal dunia yang sudah dimakamkan 1.407 orang setelah diidentifikasi," kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dilansir dari tirto.id.

Korban meninggal terbanyak ditemukan di Kota Palu, yaitu mencapai 1.203 orang. Korban juga ditemukan di Kabupaten Donggala 144 orang, Kabupaten Sigi 64 orang, Kabupaten Parigi Moutong 12 orang dan Pasangkayu, Sulawesi Barat satu orang.

"Prioritas pertama penanganan gempa dan tsunami di sana adalah melanjutkan evakuasi, pencarian dan pertolongan korban," jelas Sutopo. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?