Daerah

Pelajar Yogyakarta Ikuti Mitigasi Bencana Lewat Teleconference

YOGYAKARTA – Sekolah menjadi salah satu sasaran upaya mitigasi bencana. Dalam hal ini pembelajaran mitigasi bencana tidak hanya melalui buku atau tatap muka langsung. Namum dapat dilakukan jarak jauh dengan metode teleconference. Seperti yang dilakukan sejumlah pelajar di bawah naungan Muhammadiyah di kawasan Jalan Kapas, Sukonandi, Yogyakarta.

Kegiatan diprakarsai SMA Muhammadiyah 2 (Muha) Yogyakarta. Sebagai pemateri adalah seorang pakar kebencanaan sekaligus peneliti khusus bencana lulusan Universitas Tokyo, Alfin Rahman, Ph.D. Pada saat terjadi gempa dan tsunami yang melanda Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) tahun 2004 silam, kebetulan Alfin ikut merasakan dahsyatnya.

Teleconference dilaksanakan di sekolah setempat, diikuti 50 pelajar SD, pelajar SMA Muha dan beberapa dari sekolah lain. Mereka mendengarkan, menyimak secara seksama dan menulis penjelasan Alfin Rahman. Alfin melakukan teleconference langsung dari Banda Aceh menjelaskan gempa bumi dan tsunami di Aceh.

Dijelaskan Alfin, gempa bumi dan tsunami Aceh, 26 Desember 2004, menelan korban jiwa 127 ribu orang tewas dan 93 ribu lainnya dinyatakan hilang. Dosen di Universitas Syah Kuala NAD itu juga menjelaskan tentang adanya kearifan lokal dari warga di Pulau Simeulue, sebuah pulau di Aceh yang turut terdampak bencana tersebut.

Fenomena alam yang terjadi akibat gempa dan tsunami di Pulau Simeulue, saat ini ada daratan yang muncul dari bawah laut. Masyarakat pulau ini menyebut tsunami dengan istilah Smong. Mereka punya kearifan lokal di mana warga setempat sudah terbiasa menghadapi bencana tersebut.

“Secara otomatis, warga pulau Simeulue langsung mengungsi begitu mengetahui akan adanya tsunami. Caranya, ketika permukaan air laut surut, mereka langsung mendekatkan kuping ke pinggir pantai begitu mendengar seperti suara gemuruh, warga langsung mengungsi,” papar Alfin lewat saluran teleconference.

Kepala SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta, Slamet Purwo, mengungkapkan pihaknya rutin melakukan teleconference dengan sejumlah narasumber sebagai salah satu metode pembelajaran. Dikutip dari suaramerdeka.com, narasumber yang dipilih juga disesuiakan dengan tema yang kekinian.

Dengan kegiatan ini, pihak sekolah berharap anak-anak selalu siap dan punya cara antisipasi jika terjadi adanya bencana.

“Apalagi DIY merupakan salah satu daerah yang rawan bencana alam,” kata Slamet Purwo. (Siedoo) 

Apa Tanggapan Anda ?