SMK Muhammadiyah 2 Mertoyudan menjalankan program "career center". Salah satu binaannya yaitu Kelompok Giri Mina Maju di Giri Kulon, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang.

Daerah

Gerakkan Ekonomi, Sekolah Dampingi Warga Budidaya Lele

KoMMBes Penggalangan Dana Lombok

MAGELANG – Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Muhammadiyah 2 Mertoyudan, Kabupaten Magelang mampu menggerakkan perekonomian warga desa dengan program career center. Program ini merupakan hasil kerjasama warga desa dengan pihak sekolah dalam hal pembudidayaan ikan.

Melalui program kerjasama ini, warga mendapatkan pendidikan keterampilan (live skill) dan konsultasi secara intens tentang budidaya ikan lele. Keterampilan yang diberikan kepada warga, khususnya dalam hal pembenihan dan pembesaran ikan.

Program ini merupakan program dari Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah yang diamanahkan pada SMK Muhammadiyah 2 Mertoyudan, Kabupaten Magelang. Dengan berbagai pertimbangan, dari sisi aspek teknis, sosial dan ekonomi, maka Desa Giri Kulon, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang dipilih menjadi desa binaan oleh pihak sekolah.

Kelompok budidaya ikan yang diberi nama Giri Mina Maju ini sudah melakukan budidaya ikan lele sejak 2011. Desa ini kemudian berkembang menjadi salah satu sentra pembudidaya ikan lele di wilayah Kabupaten Magelang.

Sampai saat ini, produksi ikan lele dari Desa Giri Kulon mencapai 90.000 ekor per minggu. Jumlah tersebut meningkat cukup tajam, setelah keberanian warga melakukan berbagai inovasi dari hasil pelatihan.

Dihitung dari sisi aspek bisnisnya, setiap keluarga yang tergabung dalam kelompok budidaya ikan lele ini terbilang cukup menguntungkan. Dalam hitungannya, setiap keluarga mampu memproduksi sekitar 70.000 ekor benih lele setiap bulan. Adapun harga dipasaran untuk setiap benih lele yang dihasilkan tersebut berkisar Rp 100,-.

“Bila dihitung, harga dipasaran dengan jumlah rata – rata produksi lele per keluarga per bulan hasilnya sekitar Rp 7.000.000,- dengan perkiraan pendapatan bersih sekitar Rp 3.5000.000,- setelah dikurangi biaya operasional,” kata Aliyah S Pd, Ketua Jurusan Perikanan SMK Muhammadiyah 2 Mertoyudan.

Dengan simulasi perhitungan tersebut jika dikaitkan dengan upah minimum regional (UMR) kabupaten Magelang, pendapatan warga terbilang cukup untuk memenuhi standar kelayakan pemenuhan kebutuhan hidup. Budidaya perikanan ini dapat dikembangkan menjadi mata pencaharian pokok dan sebagai sarana bagi warga untuk meningkatkan kualitas kehidupan mereka.

“Harapannya kerjasama dan komunikasi dapat terus terjalin antara warga dengan pihak sekolah. Sehingga, dapat lebih mengoptimalkan pontesi yang ada dan memperluas persebaran career center ke desa – desa yang lain,” katanya.

Apa Tanggapan Anda ?