Internasional

Beasiswa dari Kanada, Menyikapi Minimnya Ahli Aktuaria

SURABAYA - Jumlah tenaga aktuaris di Indonesia dinilai masih minim. Selama ini, tenaga aktuaris lebih condong datang dari luar negeri.

"Kami menerima pengakuan langsung dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK, red) bahwa Indonesia masih kekurangan ahli dalam bidang aktuaria. Kebanyakan tenaga ahli dalam bidang tersebut selama ini direkrut dari luar negeri," kata Dekan Fakultas Matematika, Komputasi dan Sains Data (FMKSD) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Jawa Timur Prof Dr Basuki Widodo MSc saat acara penyerahan beasiswa yang berlangsung di Ruang Sidang Matematika.

Tahun ini, sebanyak 28 mahasiswa di antaranya dari Departemen Matematika dan Departemen Statistika masing-masing sebanyak 10 orang, serta Departemen Aktuaria sebanyak delapan orang menerima beasiswa dari Kanada. Kerja sama dengan pemerintah Kanada ini dalam bentuk beasiswa Risk Management, Economic Sustainability, and Actuarial Science Development in Indonesia (Readi) 2018 bagi mahasiswa Fakultas Matematika, Komputasi dan Sains Data (FMKSD).

"Jumlah tersebut meningkat dibandingkan tahun lalu yang hanya menfasilitasi 18 orang," jelasnya.

Bantuan yang diberikan kepada mahasiswa berupa dana pendidikan sebesar Rp 2,5 juta per bulan, pembebasan biaya kuliah tunggal, uang sebesar Rp 1 juta yang diberikan setiap awal semester. Serta bantuan biaya tes aktuaria di Persatuan Aktuaris Indonesia (PAI) untuk setiap lulus ujian.

"Beasiswa ini diberikan selama satu tahun ajaran, dan akan diperpanjang bila memenuhi syarat pada evaluasi tahun berikutnya," jelas Basuki.

Readi adalah proyek pengembangan kompentensi aktuaria di Indonesia yang didanai sepenuhnya oleh Pemerintah Kanada. Tujuan dari program ini untuk mencetak lebih banyak lagi aktuaris handal dari Indonesia.

Kanada sendiri merupakan negara yang memelopori keilmuan aktuaria. Besarnya potensi pasar aktuaria di masa depan, membuat pemerintah Kanada tertarik untuk mengembangkan juga keilmuan tersebut di Indonesia.

Dikatakan Basuki, Indonesia memiliki peluang yang sangat besar sebagai pasar tenaga aktuaria, yang mana hanya bisa terwujud jika terdapat banyak aktuaris.

“Timbal balik yang diharapkan oleh pemerintah Kanada dalam kerjasama ini bersifat jangka panjang. Yakni, ketika ekosistem aktuaria telah tercipta di Indonesia," ungkapnya.

Dijelaskan bahwa, proses seleksi dilakukan sepenuhnya oleh pihak Readi. ITS hanya perlu memberikan daftar sejumlah mahasiswa dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) tertinggi di departemennya. Selanjutnya pihak Readi yang akan menyeleksinya dengan metode mereka sendiri.

"Mereka yang saat ini menerima beasiswa Readi adalah yang terbaik dari yang terbaik. Sebab telah terseleksi sejak awal," katanya.

Guru Besar yang dilantik tahun 2008 ini menjelaskan, selain ITS terdapat delapan perguruan tinggi lain di Indonesia yang menjadi bagian dalam kerjasama proyek Readi ini. Adapun University of Waterloo, Kanada berperan sebagai partner penelitian dari pihak pemerintah Kanada.

Di antara sembilan universitas tersebut, ITS adalah satu-satunya yang telah berhasil mengembangkan keilmuan aktuaria hingga tahap menjadi Departemen Aktuaria. Untuk perguruan tinggi lain masih dalam tahap pengembangan awal, yakni berupa program studi (Prodi) di bawah departemen lain.

“Hal ini menjadikan ITS sebagai satu satunya perguruan tinggi di Indonesia yang memiliki Departemen Aktuaria," urai dosen Matematika ini.

Sementara itu, salah satu penerima beasiswa dari Departemen Aktuaria, Wisnowan Hendy Saputra berharap dapat meraih lebih banyak prestasi baik akademik maupun nonakademik di ITS.

"Nantinya saya juga ingin melanjutkan pendidikan saya ke jenjang yang lebih tinggi lagi tanpa harus merepotkan orang tua dalam hal biaya," ucapnya. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?