Budi Wahyono saat menerima trophy Juara I Lomba Menulis Geguritan 2018 memperebutkan Trophy Gubernur Jawa Tengah, Sabtu (01/09/2018). Foto:Net

Tokoh

Budi Wahyono Juara Menulis Geguritan Jateng


SEMARANG – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Tengah bekerjasama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menggelar Lomba Membaca dan Menulis Geguritan 2018 memperebutkan trophy gubernur Jawa Tengah dan tolal hadiah sebesar Rp 36 juta. Lomba dimulai sejak pengiriman karya 15 Juli hingga 25 Agustus 2018. Sedangkan lomba membaca geguritan dilangsungkan 26 Agustus 2018.

Lomba ini dalam dua jenis, yakni menulis geguritan dan membaca geguritan. Untuk membaca geguritan dikhususkan bagi siswa SMA, SMK, MA, dan yang sederajat. Geguritan yang dibaca disediakan satu geguritan wajib dan satu pilihan.

Jadi setiap pesertageguritan membaca dua karya. Sedangkan untuk lomba menulis geguritan, terdapat dua kategori, yaitu yang pertama untuk siswa SMA, SMK, MA, dan yang sederajat serta kategori umum.

Tema geguritan adalah ‘Jawa Tengah Dalam Kebhinekaan’, yang bisa dimaknakan keberagaman di Jawa Tengah ini menjadikan semuanya serba indah. Final lomba membaca dan pengumuman lomba dilaksanakan di halaman Kantor Gubernur Jawa Tengah, Sabtu (1/09/2018).

Dalam lomba menulis geguritan kategori umum, keluar sebagai Juara I adalah Budi Wahyono, dengan geguritan berjudul ‘Lasem’. Geguritan karya guru SMKN 7 Semarang ini mendapat nilai tertinggi dan berhak meraih trophy Juara I serta hadiah sebesar Rp 6 juta. Disusul Parpal Poerwanto (Wonogiri) sebagai Juara II, dan Windu Setyaningsih (Purbalingga) sebagai Juara III.

Budi Wahyono adalah salah satu guru yang aktif menulis dan aktif berkecimpung di dunia sastra, utamanya di Jawa Tengah.

Laki-laki kelahiran Wonogiri ini tahun 2016 lalu juga berhasil menjuarai Lomba Cipta Puisi Tingkat Jawa Tengah dengan tema ‘Aku Cinta Jawa Tengah’. Saat itu puisinya berjudul ‘Narasi Rasa Kagum’ berhasil menyabet Juara I.

Budi tidak pernah pilih-pilih dalam mengikuti lomba bidang sastra. Selagi ada kesempatan dia selalu mengikuti. Menurutnya mengikuti lomba berarti mengukur sekaligus mengasah kemampuan berimajinasi di belantara sastra.

Baik sastra Indonesia maupun sastra Jawa. Maka tidak heran bila setiap hari Budi selalu menulis sastra di rumahnya Jalan Gergaji Pelem No. 92 Kota Semarang.

 

Siedoo/net/NSK

Apa Tanggapan Anda ?