Yohanes Gama Marchal alias Joni Kala. foto: twiter

Tokoh

Usai Panjat Tiang Bendera, Joni Keruntuhan Berkah yang Tak Terduga


Siedoo, SEDIH! Bendera Merah Putih di perbatasan Indonesia dan Timur Leste, tepatnya di Motaain, Desa Silawan, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT) nyaris tak berkibar saat Upacara Bendara HUT ke-73 Kemerdekaan RI, Jumat (17/8/2018) pagi.

Itu terjadi karena tali pemintas tak bergerak lantaran tersangkut di ujung tiang, alias keluar dari as roda. Atas kejadian ini camat Tasifeto Timur langsung meminta siapa saja yang bisa memanjat tiang bendera setinggi 23 meter tersebut.

Tak lama kemudian, Yohanes Gama Marchal alias Joni Kala, Siswa SMPN 7 Silawan sebagai salah satu peserta upacara memberanikan diri untuk memanjat.

Bocah berusia 13 tahun ini memanjat tiang tanpa rasa takut sedikit pun. Kedua kakinya merekat erat tiang yang terbuatdari besi. Meski tiang terlihat bergoyang, Joni tetap terus naik hingga mencapai puncak.

Usai membetulkan tali ke posisi semula, dia lantas turun dari tiang. Berkat aksi heroic Joni ini, bendera pun bisa dikibarkan. Lega semua.

Yohanes Gama Marchal saat memanjat tiang bendera. foto: detik

Selamatkan Wajah Bangsa di Perbatasan

Kades Silawan Ferdi Mones membenarkan kejadian itu. Menurut dia, upacara bendera itu berlangsung di Desa Silawan, NTT yang termasuk daerah tapal batas NKRI.

“Anak itu sebagai pahlawan,” ujar Ferdi dilansir liputan6.com.

Ferdi menilai, pahlawan layak disematkan kepada anak tersebut lantaran telah menyelamatkan wajah Indonesia di tapal batal NKRI. Saat itu, proses upacara bendera disaksikan pejabat daerah dan delegasi negara perbatasan.

“Di samping menyelematkan bendera, juga menyelamatkan wajah NKRI di tapal perbatasan,” ujarnya

Diberi Hadiah 

Saat Wakil Bupati Belu JT Ose Luan yang bertindak selaku inspektur upacara memberikan sambutan, ia memanggil Joni Kala ke depan. Joni berdiri di samping wakil bupati yang memuji keberanian Joni.

Sebagaimana ditulis pojoksatu.id, Joni setelah upacara dipanggil ke Kantor Wakil Bupati untuk mendapatkan hadiah. Wakil Bupati Belu JT Ose Luan mengatakan, peristiwa ini jangan ditafsirkan macam-macam. Ia memuji Joni Kala yang berani memanjat tiang bendera.

“Ini pahlawan kecil penyelamat kita pagi ini. Seorang anak pelajar yang menjadi penyelamat dalam upacara kemerdekaan. Terimakasih pahlawan kecil, kejadian ini menggugah saya. Kau adalah pahlawan,” ucap J.T Ose Luan.

Yohanes Gama Marchal saat berada disamping wakil bupati. foto: twitter

Dapat Beasiswa dari PLN

Sebagaimana ditulis detik.com, PLN memberikan beasiswa sampai lulus S1 kepada Joni. Pihak PLN kagum atas jiwa nasionalisnya.

“Aksi Yohanis sangat nasionalis sekali. Kami salut dengan anak ini. Mulai saat ini Yohanis menjadi ‘Putra PLN’ dan akan mendapatkan beasiswa sampai dengan tingkat S1,” kata Direktur Human Capital Management PLN Muhamad Ali.

Menurut Ali, tindakannya patut dicontoh. Joni tinggal di kawasan perbatasan dengan Timor Timur yang memiliki rasa cinta kepada tanah air.

“Yohanis memiliki inisiatif yang tinggi, berani mengambil keputusan dalam waktu singkat. Berani mengambil risiko, membanggakan dan bisa menjadi tauladan bagi generasi muda Indonesia,” pungkas Ali.

Cita-Citanya Menjadi TNI

Pihak PLN pun sudah mendatangi kediaman dari Yohanis. Termasuk bertemu dengan kedua orang tua Yohanis, Victorino Fahik Marschal dan Lorenca Gama.

“Mengabarkan bahwa anaknya akan mendapatkan beasiswa pendidikan hingga kuliah S1. Kelak besar nanti, Yohanis bercita-cita menjadi seorang tentara,” katanya.

Beasiswa Juga Datang dari Gubernur

Beasiswa untuknya juga datang diberikan Penjabat Gubernur NTT Robert Simbolon.

“Penjabat malam tadi sudah memutuskan memberi beasiswa. Pada Minggu malam atau Senin pagi akan bertemu di rumah penjabat gubernur,” kata Karo Humas Pemprov NTT Samuel Pakereng.

Samuel mengatakan, beasiswa itu diberikan sebagai hadiah karena ia dianggap punya spontanitas yang baik. Keputusan Joni untuk memanjat tiang untuk membetulkan tali bendera itu dianggap wujud sikap nasionalisme.

Dianggap Tak Jauh Beda dengan Perjuangan Atlet di Asian Games

Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi memuji aksi heroik Joni Kala. Imam menyebut, Joni adalah figur pemberani yang telah menyelamatkan bendera merah putih dan seluruh rakyat Indonesia.

“Ini tentu perjuangan yang sangat heroik. Joni secara nyata tanpa ada persiapan, tanpa disuruh, tanpa dipaksa dan bahkan ada yang minta dia turun, ternyata tekadnya tidak pupus,” ujarnya dilansir liputan6.com.

Menurut Imam, perjuangan Joni tidak jauh beda dengan para atlet Asian Games. Joni, berjuang menyelamatkan bendera merah putih. Sedangkan para atlet berjuang meraih prestasi di ajang olahraga.

Imam berjanji akan mengundang Joni ke Jakarta. Ini sebagai bentuk penghargaan kepadanya.

“Saya akan panggil Joni ke Jakarta. Karena inilah sesungguhnya figur dan idola baru kita,” tutur dia.

Ihwal kapan akan diundang ke Jakarta, Imam belum bisa memastikan. Namun, Imam berencana mengajak Joni untuk menyaksikan pertandingan salah satu cabang olahraga di perhelatan Asian Games 2018.

“Saya kira enggak akan lama lah,” pungkasnya.

Apa Tanggapan Anda ?