Tim saat melakukan percobaan pengeringan gabah di laboratorium.

Inovasi

Wind Corona, Tawaran Solusi Pengeringan Gabah dari Mahasiswa


Siedoo, Tiga mahasiswa Institut Teknologi Surabaya, Jawa Timur menemukan inovasi baru di bidang pengeringan gabah. Membandingkan metode pengeringan gabah yang ada selama ini, dinilai masih ada beberapa kekurangan. Maka dari itu, mahasiswa ITS menciptakan metode pengeringan gabah yang efektif dan ramah lingkungan, dengan istilah pengering berbasis wind corona.

Pencipta inovasi itu yaitu tim yang terdiri dari Ahmad Bariq Al Fahri, Pinanggih Rahayu dan I Wayan Ersa Saputra. Wind corona sendiri merupakan fenomena tegangan tinggi yang timbul ketika level tegangan belum mencapai kondisi untuk dapat mengalirkan alur listrik (pre- breakdown). Wind corona ini akan menimbulkan suatu medan di antara dua elektroda.

“Dalam kasus ini, elektroda berbentuk jarum pada bagian atas dan lingkaran sebagai tempat diletakkannya gabah,” urai pria 21 tahun tersebut.

Dalam prosesnya, usai meletakkan gabah basah di antara kedua elektroda, tegangan akan dinaikkan secara perlahan hingga mencapai kondisi pre-breakdown. Kemunculan wind corona akan ditandai dengan desis listrik lalu gabah didiamkan hingga mengering.

“Dibandingkan dengan pengeringan konvensional, metode ini berhasil menurunkan massa air dua kali lipat lebih banyak,” jelas Bariq.

Bariq yang juga ketua tim memaparkan bahwa, selama ini terdapat dua metode pengeringan gabah yang diterapkan di Indonesia. Selain menggunakan sinar matahari langsung, ada petani yang memanfaatkan alat pengering berbasis teknologi termal.

Sayangnya, dari hasil riset timnya ditemukan adanya celah pada dua metode tersebut. Pengeringan menggunakan sinar matahari langsung, membutuhkan waktu minimal tiga hari untuk mendapatkan gabah yang kering sempurna. Dengan catatan, kondisi panas matahari stabil dan cukup selama waktu pengeringan.

“Cuaca di Indonesia yang tidak menentu beberapa tahun belakang ini tentunya sangat merugikan petani yang mengandalkan metode ini (dengan menggunakan sinar matahari langsung, red),” ungkap Bariq.

Sebenarnya, alat pengering modern berbasis termal juga bisa menjadi solusi. Namun, penggunaan alat pengering modern ini mengakibatkan penurunan nilai gizi dari gabah, kehigienisan tidak terjamin, serta membutuhkan konsumsi energi listrik yang cukup tinggi.

“Padahal saat ini dunia sedang ramai mengurangi penggunaan energy, termasuk energi listrik,” jelas mahasiswa Teknik Elektro ITS tersebut.

Lain halnya dengan pengering berbasis wind corona temuan Bariq dan tim. Dengan menggunakan alat ini, proses pengeringan padi hanya berlangsung selama sejam tanpa mengurangi nilai gizi dan struktur gabah.

Alat pengering gabah yang ramah lingkungan.

“Dengan metode yang kami kembangkan ini, tidak ada penurunan kualitas gizi, selain itu juga lebih ramah lingkungan,” jelas Bariq yang melakukan uji kualitas gizi di Laboratorium Kimia Instrumen ITS.

Penelitian mahasiswa ini tidak lepas dari kondisi Indonesia. Sebagai negara yang mayoritas penduduknya mengonsumsi beras sebagai bahan pangan utama, tanaman padi tentunya menjadi salah satu komoditas terbesar di Indonesia. Namun sayangnya, masih banyak proses pengolahan padi menjadi beras seperti pengeringan gabah yang dilakukan secara konvensional.

Kondisi ini kemudian mengilhami tiga mahasiswa ITS untuk menciptakan metode pengeringan gabah yang efektif dan ramah lingkungan. Dengan inovasi memanfaatkan fenomena wind corona sebagai solusi baru pengeringan gabah.

Bariq pun berharap penelitian ini dapat digunakan sebagai metode baru yang efektif dan ramah lingkungan dalam proses pengeringan gabah.

“Semoga terdapat tindak lanjut dari pemerintah atau badan dan institusi terkait untuk penelitian yang lebih lanjut,” tandasnya.

Apa Tanggapan Anda ?