Daerah

Prihatin, Pengidap HIV/AIDS Tertinggi di DIY Itu Mahasiswa

YOGYAKARTA - Human Immunodeficiency Virus / Acquired Immune Deficiency Syndrome (HIV/AIDS) bisa menyasar siapa saja, dari kalangan manapun, termasuk mahasiswa. Kehidupan mahasiswa yang tidak terkontrol, dengan pergaulan yang bebas bisa terjangkit penyakit mematikan tersebut.

Di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) terbukti. Dari data akumulatif Dinas Kesehatan provinsi setempat, sejak tahun 1993 hingga saat ini terdapat 4.472 penderita HIV, 1.654 penderita AIDS.

"Paling banyak kalangan mahasiswa, 739 orang,” kata Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Dinkes DIY Setyarini Hestu Lestari seperti diberitakan radarjogja.com.

Khusus di tahun 2018, pada triwulan kedua, sudah ditemukan  315 penderita HIV, 39 diantaranya AIDS. Sedangkan pada 2017 tercatat ada 398 pengidap HIV, dengan 27 di antaranya positif AIDS.

“Jumlah pendidap HIV/AIDS didominasi laki-laki,” jelasnya.

Guna menekan angka pertumbuhan pengidap HIV/AIDS, Dinkes DIY berupaya melakukan tindakan promotif dan preventif. Pencegahan penularan HIV/AIDS bisa dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya, penanaman nilai agama.

Dinyatakan, perkembangan teknologi turut berpengaruh pada peningkatan jumlah pengidap penyakit tersebut. Namun, sejauh ini belum semua rumah sakit bisa melakukan penanganan HIV/AIDS karena belum memiliki layanan ARV (antiretroviral).

Adapun beberapa fasilitas kesehatan (faskes) yang memiliki layanan ARV, antara lain, Rumah Sakit Panti Rapih, RS PKU Muhammadiyah, dan RS Bethesda. Lalu Puskesmas Mantrijeron, Umbulharjo 1,Gedongtengen, Tegalrejo, Ponjong 1 (Gunungkidul), Tempel (Sleman), dan Kretek (Bantul). Serta seluruh rumah sakit umum daerah (RSUD) se-Provinsi DIY.

“Kalau sekadar untuk konsultasi bisa dilakukan di semua puskesmas,” tutur Hestu.

Menyasar Usai Produktif

Sementara itu secara nasional, berdasarkan data Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian kesehatan RI, hingga Maret 2017 tercatat jumlah penderita HIV sudah mencapai 242.699 jiwa dan penderita AIDS mencapai 87.453 jiwa.

Dari data tersebut, DKI Jakarta masuk ke dalam provinsi dengan penderita HIV/AIDS terbanyak secara nasional. Data tersebut juga menggambarkan bahwa pengidap AIDS terbanyak ada pada usia produktif, yakni 20 – 29 tahun

Melansir dari okezone, HIV biasanya berkembang menjadi AIDS dalam waktu kurang lebih 10 tahun. Hal ini berarti, terdapat banyak penderita AIDS yang sudah menderita HIV sejak usia anak.

“Dari data Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Kemenkes RI dapat diketahui bahwa anak-anak pun bisa menderita HIV," ujar Plt. Deputi Perlindungan Anak Kementerian PPPA, Lies Rosdianty.

Dalam kehidupan sehari-hari, HIV/AIDS memang belum banyak diketahui masyarakat. Bahkan, masih tabu dan jarang menjadi topik pembicaraan antara orangtua dan anak. Padahal, ketidaktahuan merupakan awal dari bahaya yang sangat mengancam karena pada dasarnya HIV/AIDS merupakan penyakit menular.

“Siapapun, bahkan termasuk anak kita, dapat terkena HIV/AIDS jika tidak melindungi diri dengan benar,” jelasnya.

Kasus HIV secara kumulatif sejak dilaporkan 1987 hingga 2017 terungkap sekitar 220 ribu kasus HIV.

Penderita HIV dalam beberapa tahun ini secara nasional

  1. Tahun 2012 sebanyak 21.511 kasus HIV dan kasus AIDS sebanyak 10.862
  2. Tahun 2013 sebanyak 29.037 kasus HIV dan AIDS sebanyak 11.741 kasus
  3. Tahun 2014, jumlah kasus HIV sebanyak 32.711 dan kasus AIDS sebanyak 7.963
  4. Tahun 2015 sebanyak 30.935 HIV dan kasus AIDS sebanyak 7.185
  5. Tahun 2016 sebanyak 41.250 kasus HIV dan kasus AIDS sebanyak 7.491

Ibu hamil positif HIV

  1. Tahun 2013  ada 3.126 ibu
  2. Tahun 2014 ad 2.593 ibu
  3. Tahun 2015 ada 3.548 ibu
  4. Tahun 2016 ada 4.389 ibu
  5. Tahun 2017 ada 3.079 ibu. (Siedoo)
Apa Tanggapan Anda ?