Tim Jalapatih ITS raih Juara 3 di Belanda.

Internasional

Indonesia Juara III Solar Sport One di Belanda

SMK Muhammadiyah 2 Muntilan

SURABAYA – Berbagai usaha yang dilakukan Tim Jalapatih Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Jawa Timur akhirnya berbuah manis.  Saat mengikuti lomba internasional, kategori Top Speed Record di ajang Solar Sport One 2018 di Groningen, Belanda, perwakilan Indonesia keluar sebagai juara III. Tim Jalapatih yang tergabung dalam ITS Marine Solar Boat Team (MSBT) sukses, setelah berjuang sekuat tenaga.

Pada kategori Top Speed Record yang dilakukan di kota Groningen, ITS mendapat posisi terbaik ketiga dari 21 tim yang berpartisipasi. Jalapatih 3 berhasil menembus kecepatan hingga 23,5 km/jam. Hasil ini membuat ITS mengungguli berbagai tim dari Belanda, Polandia, Belgia, dan Portugal. Peringkat ITS juga berada paling atas diantara tim-tim se Asia.

Pada kategori Stage(s) dari kota Esonstêd ke kota Leeuwarden, Jalapatih 3 mampu berlayar sejauh 39 kilometer nonstop.

“Saat itu kondisi cuaca sangat minim intensitas cahaya matahari,” kata Manajer Tim ITS Marine Solar Boat Fadilah Kurnia.

Berlangsung selama empat hari, Tim Jalapatih dengan kapal Jalapatih 3 harus berjuang dalam kompetisi yang mengambil tempat di beberapa kota di Belanda. Solar Sport One 2018 sendiri merupakan ajang kompetisi untuk kapal bertenaga surya yang digelar oleh Solar Sport One Foundation dan diikuti 29 tim dari delapan negara. Event tahun 2018 ini merupakan kali ketiga bagi ITS untuk berpartisipasi, setelah mengirim perwakilannya pada tahun 2014 dan 2016.

Sementara itu, pada kategori Sprint lomba dilakukan dua kali yaitu di kota Groningen dan Leeuwarden.

“Di kota Groningen, kami berhasil menyelesaikan race dengan perolehan waktu 15 detik dan masuk peringkat enam besar,” ungkap mahasiswa yang biasa disapa Fadil ini bangga.

Kapal Jalapatih 3 saat menyusuri sungai.

Pada kategori Sprint di kota Leeuwarden, Jalapatih 3 mampu finish dengan perolehan waktu dua menit dan masuk peringkat 10 besar. Namun, perjuangan mendapatkan juara tak dilalui Jalapatih dengan mulus. Tidak sedikit permasalahan yang muncul di tengah perlombaan.

“Ada banyak permasalahan yang kami temui seperti kondisi kesehatan anggota tim yang harus bermalam di tengah dinginnya camping site. Juga minimnya intensitas cahaya matahari ketika perlombaan,” jelas mahasiswa Departemen Teknik Sistem Perkapalan (Siskal) ITS ini.

Perubahan-perubahan mendadak terkait regulasi oleh panitia pun sempat menjadi hambatan tersendiri bagi Jalapatih. Karena perubahan regulasi itu, tim Jalapatih harus harus memutar otak untuk bisa lolos inspeksi dan mendapatkan hasil yang terbaik pada beberapa kategori.

“Kami sadar hasil ini masih jauh dari kata sempurna, namun kami cukup bangga dengan hal ini dikarenakan perkembangan yang sangat pesat dari kompetisi sebelumnya di tahun 2016,” jelasnya.

Apa Tanggapan Anda ?