Inovasi

Majukan IKM, Akademisi Dampingi Desain Kemasan Produk Lokal Go Nasional

Siedoo, Si Bonggi merupakan salah satu produk Industri Kecil dan Menengah (IKM) berupa makanan kemasan oleh Kelompok Wanita Mandiri Balongsari yang dibentuk dari program Corporate Social Responsibility (CSR) di bidang pemberdayaan ekonomi masyarakat. Produk ini memiliki potensi besar, namun kemasannya belum memiliki diferensiasi dengan produk sejenis.

Pada tahun lalu telah dikembangkan logo resmi untuk Si Bonggi. Logo tersebut telah didaftarkan ke Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual sebagai perlindungan merek. Sehingga pada tahun ini dilanjutkan dengan pengembangan kemasan yang lebih representatif.

Jenis kemasan yang digunakan Si Bonggi ini masih sederhana dengan desain yang kurang memiliki nilai jual. “Sebagai jenis usaha produk makanan, maka desain kemasan juga menjadi hal yang perlu diperhitungkan,” kata Putri Dwitasari ST MDs, Ketua Tim pengabdian kepada masyarakat (Abmas).

Apa yang disampaikan itu berkaitan dengan Laboratorium Media Kreatif Digital Departemen Desain Komunikasi Visual (DKV) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) melakukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Kali ini dengan merancangkan desain visual kemasan dengan mengusung kearifan lokal, terhadap suatu produk IKM di Jombang bernama Si Bonggi.

Kegiatan bersama ASTRA Infra Toll Road Jombang-Mojokerto ini turut menyertakan beberapa pihak, antara lain enam dosen, delapan mahasiswa, karyawan Astra, serta masyarakat di balik produksi Si Bonggi. “Kegiatan ini turut mendukung program Sustainable Development Goals (SDGs) ITS poin ke delapan,” jelas Putri.

Keberlanjutan pengembangan kemasan ini merupakan salah satu tahapan pada program pengembangan strategi branding yang terintegrasi. Membagikan sudut pandangnya, strategi branding ini bertujuan memberikan citra positif sebuah produk olahan camilan sebagai potensi daerah. Dalam hal ini Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

Dalam proses pembentukan kemasan ini, terdapat langkah-langkah yang dilakukan. Yakni pengumpulan data melalui studi lapangan atau observasi, wawancara, serta studi pasar. Tahap berikutnya adalah pengumpulan informasi yang telah didapat sebagai bahan riset, memetakan konsep, analisis konsep desain, dan merancang alternatif desain.

Menurut dosen Desain Komunikasi Visual ITS ini, hasil dari penelitian ini berupa desain kemasan yang representatif dengan tema budaya dan kearifan lokal Jombang. Hal ini dimaksudkan agar kemasan tersebut mampu mencerminkan dan mempresentasikan keunggulan produk keripik bonggol pisang sebagai oleh-oleh khas Jombang.

Melalui program ini, kemasan yang dikembangkan oleh tim telah berhasil diluncurkan dan saat ini telah memiliki Point of Purchase (POP) sendiri pada outlet pemasarannya. Selanjutnya, akan dilakukan proses promosi yang terintegrasi.

“Tim kami berencana untuk mengajarkan bagaimana cara mempromosikan produk yang baik. Mulai dari teknik pengambilan foto, pembentukan hashtag, penulisan caption, dan lain-lain,” bebernya.

Kemasan memiliki pengaruh penting terhadap brand awareness yang mempengaruhi citra dari sebuah brand. Putri mengungkapkan harapannya agar lebih banyak IKM yang akan memperhatikan peran penting kemasan dalam pemasaran produk.

“Kami ingin untuk dapat turut mengedukasi urgensi kemasan ini. Kedepannya agar tidak hanya Si Bonggi, tapi banyak juga IKM lainnya dapat terlibat,” tandasnya. (*)

Apa Tanggapan Anda ?