Inovasi

Berinovasi dengan Limbah Beracun, Mahasiswa ITS Harapkan Emas di Pimnas

SURABAYA - Mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Jawa Timur sangat berharap dapat meraih prestasi tingkat nasional. Karya mahasiswa diharapkan bisa mengantarkan untuk meraih medali emas pada Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas). Rencananya, acara bergengsi ini digelar pada Agustus 2018 mendatang.

Karya yang dipamerkan yaitu mengubah logam Kromium 6 menjadi logam yang lebih ramah lingkungan. Inovasi ini merupakan hasil pikir dari mahasiswa dari Departemen Kimia ITS, Wulan Aulia, Rahadian Abdul Rachman dan Ulva Tri Ita Martia.

Munculnya inovasi ini tidak lepas dari keberadaan industri elektroplating atau penyepuhan kerap yang menghasilkan limbah berbahaya bagi lingkungan maupun makhluk hidup lain. Terlebih, jika limbah tersebut mengandung logam berat seperti Kromium 6. Beranjak dari kondisi itu, tiga mahasiswa berhasil mengubah logam Kromium 6 menjadi logam yang lebih ramah lingkungan.

“Prinsip kerjanya yaitu logam kromium direduksi terlebih dahulu kemudian dilakukan absorbsi,” kata Wulan, Ketua Tim.

Wulan menjelaskan, penggunaan logam kromium saat ini banyak digunakan dalam industri elektroplating untuk menghindari terjadinya korosi. Banyaknya penggunaan logam kromium ini lantas akan berdampak buruk jika limbahnya tidak diolah dengan baik.

“Dampaknya seperti menyebabkan mutagen pada manusia serta proses pertumbuhan tanaman di sekitar pembuangan limbah akan terhambat,” jelasnya.

Oleh karenanya, agar limbah dari logam kromium 6 tidak lagi berbahaya, timnya mereduksinya menjadi logam kromium 3 dengan sistem Microbial Full Cell(MFC). Pereduksian menjadi logam kromium 3, dinilai memiliki toksisitas yang lebih rendah jika dibandingkan dengan kromium 6. Sedangkan untuk ukurannya sendiri, kromium 3 memiliki ukuran molekul yang lebih kecil.

“Ukuran molekul yang kecil ini akan membantu pada proses penyerapan saat limbah kromium 6 tidak dapat tereduksi,” ujarnya.

Dalam hal ini, timnya menggunakan material adsorbsi Zeolit Y untuk menyerap limbah dari logam kromium 6 yang tak tereduksi. Permukaan sisi aktif dari Zeolit Y yang luas akan meningkatkan kinerja dari penyerapan limbah logam kromium 6. Mekanismenya dimulai dari menambahkan sumber bakteri Saccharomyces cerevisiae pada kutub anoda sistem reaktor. Kemudian, elektron yang dihasilkan akan bergerak menuju kutub katoda.

“Pada kutub katoda ini, limbah kromium 6 yang terkumpul akan diserap oleh Zeolit Y,” ungkapnya.

Dalam prosesnya, variasi waktu penyerapan dilakukan setiap selang 15 menit hingga dua jam. Di setiap menitnya, dilakukan pengukuran kadar logam kromium yang telah terserap oleh Zeolit Y. Mahasiswa asal Madiun ini menambahkan, jika penelitiannya tidak hanya diperuntukkan logam kromium.

“Reduksi juga bisa dilakukan untuk logam yang memiliki toksisitas tinggi seperti timbal (Pb) dan merkuri (Hg),” kata dia.

Apa Tanggapan Anda ?