Daerah

Rektor, Mahasiswa dan Kapolres Deklarasi Anti Terorisme

MAGELANG - Aksi terorisme di beberapa daerah di Indonesia mendapat perhatian khusus dari perguruan tinggi. Para mahasiswa diingatkan agar mereka bisa membatasi diri dari media sosial yang dapat mengantarkan pada terorisme.

“Kita harus pintar, jangan sampai mudah di brainwash oleh arus informasi yang masuk ke smartphone kita. Apalagi jika informasi tersebut berunsur radikalisme,” kata Rektor UM Magelang, Jawa Tengah Ir Eko Muh Widodo, M.T.

Rektor menyampaikan itu saat talkshow “Radikalisme, Terorisme, dan Deklarasi Anti Terorisme Universitas Muhammayah Magelang” yang diadakan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UM Magelang di Aula Fikes, kampus 2 UM Magelang. Dalam kegiatan talkshow tersebut juga disampaikan deklarasi anti terorisme dari mahasiswa UM Magelang.

Deklarasi dibacakan Presiden Mahasiswa (Presma) UM Magelang Gusti Givan Putra Pratama mewakili mahasiswa. Dalam deklarasi tersebut, mahasiswa menolak secara tegas segala bentuk terorisme.

Selanjutnya deklarasi tersebut ditandatangani Rektor, Kapolres, Presma dan Sekretaris BEM UM Magelang. Disaksikan langsung Komandan Kodim dan perwakilan dari Kementerian Agama Kabupaten Magelang yang hadir pada acara tersebut, serta para aktivis BEM Magelang.

“Terorisme sejatinya berasal dari paham radikalisme yang berkembang di masyarakat. Terorisme bukan hanya musuh dari TNI, Polri saja, namun merupakan musuh kita bersama,” jelas Kapolres Magelang AKBP Hari Purnomo, SIK, SH saat berbicara di talkshow itu.

Dihadapan 40 peserta yang terdiri dari aktivis BEM di Kota dan Kabupaten Magelang, Hari menjelaskan tentang tugas aparat keamanan negara. Tugas Polisi adalah upaya preventif melalui undang-undang terorisme yang baru, dan tim khusus anti terorisme, seperti Densus 88 serta Babinsa. Selain itu, masyarakat juga bisa ikut berperan dengan melaporkan apabila ada paham radikalisme yang terindikasi menyimpang.

"Kami sangat membutuhkan kerja sama masyarakat,” kata hari.

Menurut dia, perlu adanya langkah cerdas yang lebih humanis dari semua pihak untuk memerangi terorisme dari hulu sampai ke hilir. Karena terorisme bersumber dari paham radikal yang menyusup di lingkungan, termasuk kampus.

Ia juga menghimbau kepada para mahasiswa untuk lebih kritis terhadap diskusi keagamaan di lingkungan mahasiswa yang bisa saja mendoktrinkan paham radikal pada diri mahasiswa. Sebagai pemuda yang sedang mencari jati diri, mahasisiwa adalah sasaran empuk para teroris.

Mereka akan memilih para pemuda untuk dijadikan umpan dalam menjalankan misi mereka. Terbukti kebanyakan teroris yang sudah tertangkap adalah para pemuda.

"Untuk itu kami mengajak semua mahasiswa menjadi pioner untuk memerangi radikalisme di masyarakat,” tegas Hari.

Apa Tanggapan Anda ?