Opini

Belajar Baca Tulis dengan Huruf Kapital

Siedoo, GURU kelas 1 sekolah/madrasah sering mengalami kesulitan dalam membimbing siswanya dalam pembelajaran membaca dan menulis. Proses pengenalan huruf berlangsung lama. Begitu pun dalam pelafalan atau pengejaannya.

Tahap membuat garis lengkung, garis lurus, menghubungkan titik-titik, bahkan menebalkan garis samar yang sudah berpola huruf tertentu juga sudah dilakukan. Namun demikian, hal itu juga masih menyisakan masalah. Karakter anak yang masih suka angin-anginan jika menghadapi situasi yang tidak familier akan melemahkan minat baca-tulisnya juga.

Salah satu situasi sulit yang dihadapi siswa adalah ketika ia diarahkan oleh guru untuk menulis dengan huruf kecil. Secara prosedur dan merujuk pada kurikulum pembelajaran, menulis permulaan memang menggunakan huruf kecil yang menurut cara pandang orang dewasa lebih sederhana dan mudah daripada memulai belajar menulis dengan huruf besar (kapital).

Jika ternyata guru masih mempunyai keluhan atas minimnya hasil pembelajaran baca-tulis siswanya, kiranya guru perlu menelaah fenomena yang terjadi sekarang ini. Melalui indera penglihatannya anak-anak (siswa) usia dini mengenali huruf di baliho, spanduk, banner, bahkan papan nama sekolahnya berhuruf kapital. Iklan dan tulisan-tulisan tentang berbagai kampanye, pengenalan produk dan even tertentu mayoritas menggunakan huruf besar.

Begitu pula naskah dalam cerita bergambar (komik) umumnya menggunakan huruf kapital. Maka yang dilihat, coba-coba dibaca, coba-coba ditiru, dan ditulis oleh siswa adalah huruf besar. Kalau diperhatikan dengan cermat, coretan anak-anak prasekolah maupun siswa baru kelas 1, jika maksudnya membuat huruf adalah huruf kapital .

Orangtua, kakak atau saudara di rumah yang notabene awam pada kaidah penulisan huruf, dalam memberikan contoh atau mengajari anak-anak menulis, biasanya menggunakan huruf besar atau mereka mereka menyebutnya "huruf balok". Sudah lazim orang dewasa diminta mengisi formulir apapun dengan huruf balok.

Maka dalam asumsi mereka, huruf besar lebih afdol diajarkan pada siswa karena jelas kebakuan dan kegunaannya.
Kesimpulannya, siswa usia dini, lebih paham huruf kapital lebih dahulu, daripada huruf kecil. Dengan huruf kapital ia menuliskan nama diri dan nama anggota keluarga.

Mereka senang dan bergairah dalam berlatih membaca dan menulis. Untuk menjaga kesenangan dan gairah belajar baca-tulis itu, kiranya para guru bisa bersikap bijak. Siswa yang secara normal bisa belajar baca-tulis menggunakan huruf kecil, kemudian diperkenalkan dengan huruf besar, untuk penulisan nama tertentu tetaplah berjalan.

Sementara siswa yang mengalami kesulitan belajar baca-tulis dengan latar belakang, sebagaimana terungkap di atas, pelatihannya tetap menggunakan huruf besar. Guru rajin memberikan contoh huruf, kata, dan kalimat berhuruf besar. Siswa diberikan keleluasaan sementara untuk menulis huruf serupa untuk dibaca berulang-ulang sampai fasih. Hal ini dimaksudkan siswa merasa enjoy dan tetap terjaga minat/gairah belajarnya.

Setelah siswa lancar membaca dan mempunyai rasa percaya diri yang tinggi, tiba saatnya guru memperkenalkan huruf-huruf kecil. Yakinkan kepada mereka bahwa, huruf besar dan huruf kecil bentuknya berbeda tetapi bunyinya sama. Kalau sudah lancar membaca dan menulis dengan huruf besar, pasti akan lancar membaca dan menulis dengan huruf kecil.

Dalam latihan menulis huruf kecil ini paling mudah dan sederhana dituliskan berurutan tepat di bawah huruf kapitalnya. Misal :
B O L A
b o l a
E G I  B E R M A I N  B O L A
e g i  b e r m a i n  b o l a

Demikianlah salah satu kiat untuk mendukung kelancaran pembelajaran membaca dan menulis bagi siswa usia dini. Kiat ini tetap merujuk pada teori, bahwa pembelajaran dimulai dari hal yang mudah ke hal yang (dianggap) sulit.

 

*Usman Setiadi, S.Pd
Guru SD Negeri Ngemplak, Kecamatan Windusari, 
Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah.

Apa Tanggapan Anda ?