Opini

Sekilas Tentang Peringatan Hari Guru Sedunia

Siedoo, PERINGATAN Hari Guru Sedunia (World Teacher’s Day) diadakan setiap tahun dalam rangka memperingati ulang tahun penandatanganan Rekomendasi ILO/UNESCO 1966 tentang Status Guru. Rekomendasi ini menetapkan hak dan tanggung jawab guru dan hal terkait lainnya, termasuk kesempatan belajar lebih tinggi bagi guru, rekrutmen guru, penempatan kerja guru, serta lingkungan belajar mengajar yang kondusif bagi guru.

Untuk melengkapi Rekomendasi 1966, pada tahun 1997, UNESCO mengeluarkan rekomendasi terkait status pengajar pendidikan tinggi yang mencakup tenaga pengajar dan tenaga peneliti pada pendidikan tinggi.

Peringatan Hari Guru Sedunia mengikutsertakan pemerintah dan lembaga pemerintah, organisasi multilateral dan bilateral, lembaga swadaya masyarakat (LSM), sektor swasta, akademisi dan perguruan tinggi, guru dan ahli di bidang pendidikan. Dengan diadopsinya Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama SDG4 tentang Pendidikan Berkualitas, dan target khusus (SDG 4.c) yang mengakui bahwa guru sebagai kunci pencapaian agenda pendidikan pada tahun 2030.

Hari Guru Sedunia menjadi kesempatan meraih pencapaian SDG4 dan juga memberikan langkah-langkah nyata untuk mengatasi tantangan dalam bidang pendidikan. Terutama terkait dengan profesi dan profesionalisme guru. Secara global, menurut UNESCO Institute of Statistics (UIS), dunia membutuhkan 69 juta guru jika kita ingin mencapai pendidikan dasar dan menengah universal pada tahun 2030.

Tema Hari Guru se-Dunia 2018 adalah “Hak Atas Pendidikan Berarti Hak untuk Guru dan Tenaga Kependidikan yang Berkualitas,” dipilih untuk mengingatkan masyarakat dunia bahwa hak atas pendidikan tidak dapat dicapai tanpa hak untuk guru yang terampil dan berkualitas. Bahkan saat ini, tantangan terbesar di seluruh dunia adalah kekurangan jumlah guru. Diperkirakan ada 264 juta anak dan remaja yang masih putus sekolah secara global.

Untuk mencapai Tujuan Pendidikan (SDG4-Pendidikan Berkualitas 2030), terutama pendidikan dasar dan menengah, dunia perlu merekrut hampir 69 juta guru baru. Kesenjangan akan jumlah guru lebih menonjol di antara populasi rentan.

Seperti anak perempuan, anak-anak cacat, pengungsi dan anak-anak migran, atau anak-anak miskin yang tinggal di daerah pedesaan atau terpencil.

Tahun ini Hari Guru se-Dunia diselenggarakan bersama di Paris, Perancis dalam kemitraan dengan UNICEF, UNDP, Organisasi Perburuhan Internasional (ILO), dan beberapa institusi pendidikan internasional.

Peringatan Hari Guru se-Dunia tahun 2018 menekankan pembahasan tentang empat hal, yakni

1) Kisah sukses sekolah atau komunitas, di mana guru telah membuat perbedaan bagi anak-anak yang terpinggirkan atau rentan yang hidup dalam situasi darurat atau krisis;

2) Contoh bagaimana negara telah berhasil menyebarkan guru yang terlatih dan berkualitas ke daerah terpencil atau pedesaan;

3) Pemerintah, organisasi guru, dan sektor swasta dapat bekerja bersama untuk memobilisasi pembiayaan yang dibutuhkan untuk meningkatkan perekrutan dan pelatihan guru; dan

4) Pendekatan inovatif untuk menjaga guru termotivasi untuk tetap dalam profesi dan untuk meningkatkan kualitas pengajaran. (kemdikbud.go.id)

 

*Narwan, S.Pd

Guru SD Negeri Jogomulyo Kecamatan Tempuran

Kabupaten Magelang Provinsi Jawa Tengah

Apa Tanggapan Anda ?