Nasional

Semangat Peserta Difabel Kerjakan Soal SBMPTN

SURABAYA - Pemerintah tidak membedakan soal bagi peserta Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) tahun 2018. Antara peserta biasa dan peserta difabel diberikan soal yang sama. Hanya saja yang membedakan itu, pada bentuk tulisan bagi peserta yang difabel.

"Soal SBMPTN yang diberikan untuk peserta difabel, tidak akan dibedakan dengan peserta reguler lainnya. Hanya saja soal kita sesuaikan dengan kekurangan fisik mereka. Misalkan, yang tuna netra maka kita akan sediakan soal dengan huruf braille,” kata Sekretaris Jenderal Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) Prof Ainun Na’im PhD MBA.

Ia menyampaikan itu saat meninjau langsung pelaksanaan SBMPTN di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Jawa Timur, dengan ditemani Rektor ITS yang juga Sekretaris Panitia Pusat SBMPTN Prof Ir Joni Hermana MSc ES PhD. Pada kesempatan itu, ia meninjau langsung peserta yang sedang melaksanakan tes SBMPTN di ruang-ruang ujian yang berada di Departemen Teknik Informatika.

“Pelaksanaan (tes SBMPTN, red) di ITS lancar dan tak ada masalah maupun keterlambatan. Bagi yang menggunakan sistem komputer juga berjalan dengan baik. Listrik dan internetnya lancar tidak ada yang mati,” ungkapnya.

Prof Ainun berpesan kepada seluruh peserta SBMPTN di ITS. Bahwa, peserta harus tetap optimis dan banyak jalan untuk bisa belajar.

"SBMPTN bukan satu-satunya jalan untuk menggapai itu,” pesannya.

Guru Besar Universitas Gadjah Mada ini menyampaikan bahwa, Kemenristekdikti juga membuat mekanisme antara Peguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) semakin terhubung dengan adanya pelayanan kuliah online.

"Banyak cara untuk menjadi lebih pintar dalam meningkatkan kompeten," ujarnya.

Seperti pada tahun sebelumnya, ITS merupakan salah satu perguruan tinggi negeri yang paling diminati di Indonesia. Khususnya di Jawa Timur untuk bidang studi Sains dan Teknologi.

Menurut Kasubdit Penerimaan Mahasiswa dan Pengelolaan Kuliah Bersama ITS, Dr Eng Siti Machmudah ST M Eng, alokasi daya tampung mahasiswa untuk tahun ini di SBMPTN ITS sebesar 40 persen dari kuota keseluruhan jalur pendaftaran. Yaitu, SNMPTN, SBMPTN dan jalur Program Kemitraan dan Mandiri (PKM).

“Daya tampung yang disediakan ITS untuk SBMPTN 2018 ini adalah 1.480 kuota. Sedangkan untuk total peminat yang mendaftarkan dirinya di kampus ITS sebesar 34.446 peminat. Naik 3.144 peminat dari tahun sebelumnya,” tuturnya.

Pada SBMPTN tahun ini terdapat dua peserta difabel yang mengikuti tes di ITS. Keduanya adalah Rahman Tri Arfias Putra, peserta penyandang tuna daksa dan Achmad Nuzul Amri, peserta penyandang tuna rungu. Meski difabel, tidak menghambat semangat keduanya untuk mengikuti tes di dua tempat yang berbeda yaitu di gedung Unit Pengelola Mata Kuliah Bersama (UPMB) dan gedung Teknik Industri ITS.

Terkait fasilitas khusus yang didapatkan dua siswa difabel ini, ITS dan Kemenristekdikti juga telah menyediakan panitia khusus. Tugasnya untuk mendampingi peserta difabel dari Pusat Studi dan Layanan Disabilitas Surabaya.

Zero Error

Sementara itu, Prof Joni Hermana menuturkan, peralihan tes dari tulis menjadi computer based test (CBT) dirasa lebih efektif dan tidak membutuhkan waktu lama baik dalam distribusi soal maupun sistem koreksinya. Dalam pengaplikasian SBMPTN CBT di ITS, dari segi kesalahan kalau dilihat dari data, tingkat kesalahan dalam proses pengisian data lebih baik. Hampir zero error.

Sedangkan yang paper based test (PBT), ada sekitar satu persen peserta yang masih salah saat mengisi data identitas. Sehingga, menyebabkan kertas jawaban tidak bisa dibaca oleh sistem dan dibuang.

“Biasanya banyak siswa yang tidak lulus hanya karena salah dalam pengisian data identitas,” terang Prof Joni menjelaskan keunggulan sistem CBT di SBMPTN 2018 ini.

Rahman Tri Arfias Putra menuturkan, keterbatasan fisiknya tidak menghalangi langkahnya untuk meraih mimpi-mimpinya. Waktu masih kecil, ia mengaku mengalami sakit-sakitan hingga umur 13 tahun. Kemudian suatu hari rasa sakit tersebut hilang.

"Tetapi kaki saya tiba-tiba tidak bisa digerakkan total alias lumpuh. Namun ini tidak menyurutkan semangat saya untuk masuk Departemen Desain Komunikasi Visual ITS,” ungkapnya.

Apa Tanggapan Anda ?