Mauluddin Harahap. foto: jawapos

Tokoh

Kaki Kiri Hilang, Mauluddin Tak Patah Arang

SMK Muhammadiyah 2 Muntilan

Siedoo, Diamputasi, itulah nasib yang harus dialami Mauluddin Harahap. Takdir itu tidak bisa ia tolak. Laki-laki paruh baya ini kehilangan kaki kirinya. Meski begitu, tak ada rasa minder untuk membantu pemerintah dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

Hasrat untuk mengajar di sekolah dasar kampung halamannya, Desa Napa Gadung Laut, Kecamatan Padang Bolak, Kabupaten Padang Lawas Utara, Sumatera Utara tergerak setelah di sekolah tersebut minim guru. Para pendidik datang silih berganti.

“Perasaan saya semenjak mengajar ini kadang-kadang senang,” katanya sebagaimana ditulis Jawa Pos.

Sekolah tersebut termasuk di pelosok, bangunannya jauh dari kata sempurna. Lantainya tidak mulus. Dindingnya dari kayu, meja belajarnya sudah memprihatinkan, muridnya bisa dihitung dengan jari. Meski begitu, semangat Mauluddin membara.

“Mengajar itu sudah seperti sebuah hobi,” tambahnya.

Dengan keterbatasannya, tak membuat keinginannya mengajar menjadi surut. Ia mengajar murid kelas I sampai VI. Semua mata pelajaran diajarkan bergantian dengan guru lain di SDN 101190 Napa Gadung Laut.

Menjadi pengajar murid SD bukanlah hal mudah. Apalagi Mauluddin hanyalah lulusan SMP. Pendidikan SMA yang dienyamnya di daerah Rantau Prapat tidak selesai, karena kesulitan ekonomi usai ayahnya meninggal.

Kisah Mauluddin sampai menjadi pengajar di kampung halamannya cukup panjang. Pada 1992, Mauluddin sempat merantau Pekanbaru dan Kota Medan. Namun, dia kembali lagi ke kampung halamannya. Dua tahun berada di kampung, akhirnya dia berangkat ke Jakarta. Di sana Mauluddin bekerja serabutan.

Nahas, Mauluddin menjadi korban tabrak lari ketika mengendarai sepeda motor. Untuk menyelamatkan nyawanya, dokter mengamputasi kaki kirinya.

Mauluddin frustasi, bahkan dia nyaris bunuh diri setelah sadar kakinya sudah diamputasi.

“Saya bisa bangkit lagi karena mengikuti bimbingan rohani,” akunya.

Pascakecelakaan tragis itu, Mauluddin ikut bimbingan anak disabilitas. Dia mendapat pengajaran keterampilan grafika.

Kemudian dia kembali ke kampung pada 1997. Tak banyak yang dilakukannya di kampung halaman. Keterampilan bidang grafika yang dimilikinya, seakan sia-sia.

Rasa bosan membuat Mauluddin berangkat ke Medan untuk mengadu nasib pada 2000. Dia pergi ke daerah Pelabuhan Belawan. Mauluddin kembali bekerja serabutan untuk memenuhi penghidupannya.

Kemudian, 15 tahun dia berada di Kota Medan. Pahitnya kehidupan ibu kota menjadi pelengkap hidupnya. Akhir 2015, Mauluddin memutuskan untuk kembali pulang ke kampung halaman.

Ketika pulang, dia melihat sekolah dasar yang letaknya dekat rumah tidak memiliki tenaga pengajar. Semangat murid yang bersekolah mendorongnya untuk menjadi tenaga pengajar.

“Tapi, melihat murid-murid di sini terlalu prihatin, terus berniat untuk mengajar. Saya kasihan,” tuturnya.

Selama mengajar, Mauluddin diupah Rp 500 ribu perbulannya. Pendapatan yang diperolehnya tidak sebanding dengan jasanya sebagai tenaga pendidik.

Mauluddin juga tidak berstatus sebagai honorer. Hanya masyarakat yang diangkat sebagai tenaga pengajar.

Apa Tanggapan Anda ?