Ilustrasi kegiatan belajar mengajar.

Opini

Trik Memecah Kebekuan di Ruang Kelas


Siedoo, SEBAGIAN besar guru menerapkan model pembelajaran klasik yang monoton. Dari pagi sampai siang, siswa dijejali dengan ceramah. Guru yang mengajar silih berganti tetapi metode pembelajaran tidak pernah berubah. Ya, tetap ceramah, terkadang diselingi dengan ocehan dan omelan dari sang guru.

Maka dari itu, diharapkan kreativitas guru dalam mengelola pembelajaran agar lebih menarik, menantang, menyenangkan dan menyehatkan. Salah satu metodenya adalah melakukan ice breaking (memecahkan kebekuan) atau energizer (isi ulang energi).

Hal tersebut ditandaskan Zulpen,
Guru SMAN Plus Provinsi Riau.

Dijelaskan, ice breaking dan energizer dapat dilakukan melalui games (permainan), bernyanyi, berpantun ataupun bersyair. Semua orang suka bermain. Maka jadikan pemainan sebagai model pembelajaran.

Dengan permainan, siswa menjadi rileks dan happy. Jika mereka merasa senang maka loyo berubah bersemangat, bosan menjadi menggairahkan. Dan materi sulit akan menjadi lebih mudah.

Ice breaking dan energizer dapat dilakukan pada kegiatan pendahuluan, kegiatan inti atau penutup pembelajaran,” tandasnya sebagaimana ditulis Riaupos.

Pertama, pre activity (kegiatan pendahuluan)

Pada saat guru memulai proses pembelajaran, maka 5 persen-10 persen dari waktu belajar digunakan untuk kegiatan pendahuluan.

Siswa datang ke kelas membawa berbagai macam pikiran di dalam memori otaknya. Sehingga, mereka belum siap untuk menerima pelajaran. Mereka masih galau. Untuk mengatasi kegalauan ini maka perlu dilakukan pencairan suasana.

“Pencairan suasana penting dilakukan untuk memotivasi dan memfokuskan pikiran siswa untuk siap belajar,” tegasnya.

Jika siswa sudah konsentrasi maka akan mudah baginya mencerna materi pelajaran. Meskipun materi tersebut memiliki tingkat kesukaran tinggi.

Seandainya seorang guru sukses mengambil hati siswa pada tahap ini, maka siswa sudah berada dalam genggamannya. Tetapi, jika guru gagal maka siswa akan seperti banteng liar yang sulit dikendalikan.

Banyak cara yang dapat dilakukan guru pada sesi pendahuluan ini. Misalnya, guru mengajak siswa untuk berdiri. Masing-masing siswa diminta untuk membuat motto atau yel-yel sebagai penggugah semangat belajar. Kemudian guru meminta setiap siswa untuk menyampaikan motto atau yel-yel tersebut dengan semangat di depan kawan-kawannya.

“Contohnya, saya harus sukses hari ini. Saya serius belajar hari ini. Dunia ada dalam genggaman saya dan lain sebagainya. Cara ini sangat sederhana bukan?,” tuturnya.

Kedua, while activity (kegiatan inti)

Pada kegiatan inti agenda pembelajaran dibahas tuntas oleh siswa dan guru. Biasanya tahap ini menghabiskan waktu yang paling lama. Jika guru tidak dapat mengelola dengan baik, maka tujuan pembelajaran tidak akan tercapai.

Oleh sebab itu, di sela-sela pembelajaran perlu dilakukan energizer (menambah stamina) untuk mengendurkan syaraf atau otot yang tegang.

Sama seperti ice breaking, energizer dapat dilakukan dengan games, bernyanyi, bersyair ataupun berpantun.

Salah satu contoh permainan menyambung kata. Siswa diminta menyebut kelompok buah-buahan atau sayuran. Guru meminta salah seorang siswa menyebut satu buah misalnya manggis, siswa berikutnya menyebut salak, siswa berikutnya menjawab kelapa dan seterusnya.

Kemudian jika ada siswa tak bisa menjawab dengan benar maka, guru meminta siswa tersebut untuk bernyanyi ataupun berpantun. Asyik bukan?

“Jika siswa sudah fresh guru dapat melanjutkan agenda pembelajaran berikutnya,” tegasnya.

Ketiga, post activity (kegiatan penutup)

Untuk mengetahui pencapaian hasil belajar, guru memberikan evaluasi atau test. Biasanya siswa mendengar kata evaluasi, tes, ujian sudah takut duluan. Agar siswa tidak takut, guru haruslah bijaksana dan memiliki banyak cara.

Salah satu caranya mengganti tes dengan kuis. Misalnya kuis tebak kata, atau sang juara seperti yang ada di tayangan televisi. Selamat mencoba.

Apa Tanggapan Anda ?