Suasana pembelajaran di kelas. foto: kompasiana.com

Opini

Begini Seharusnya Guru Membentuk Suasana Pembelajaran

SMK Muhammadiyah 2 Muntilan

Siedoo, KETENANGAN suasana kelas saat kegiatan belajar mengajar menjadi salah satu ukuran suksesnya pembelajaran. Tetapi, bagaimana jika ketenangan itu terbentuk dari rasa ketakutan siswa terhadap guru? Masih relevankah?

Ini pertanyaan cukup penting yang dilontarkan M Rasyid Nur, Pendidik di Karimun, sebagaimana ditulis Riaupos.

Dijelaskan, guru memang memerlukan ketenangan dalam proses pembelajaran. Setiap guru pasti akan berharap proses pembelajaran yang dilaksanakannya di depan kelas berjalan dengan baik dan lancar.

“Sayangnya pemahaman baik dan lancar diartikan sebagai suasana tenang tanpa gangguan apapun. Terutama dari peserta didik,” ujarnya.

Di sinilah persoalan akan muncul. Lalu, suasana tenang tanpa gangguan jika diartikan sebagai suasana tanpa suara ribut sedikitpun dari peserta didik tentulah suasana seperti itu akan menyerupai suasana semedi yang memang tanpa bunyi.

“Yang hanya menghasilkan perasaan seram dan menakutkan,” tandasnya.

Dan suasana pembelajaran tanpa keterlibatan peserta didik, sesungguhnya itulah problem yang mesti diatasi guru.

Baginya, problema pengelolaan kelas seharusnya tidak lagi diartikan sebagai mengatasi keributan di dalam kelas. Bahwa keributan yang akan mengganggu proses pembelajaran tidak dibenarkan, itu sudah pasti.

“Tapi suasana gaduh karena keterlibatan peserta didik dalam proses pembelajaran, itulah suasana yang baik yang mesti diciptakan guru,” bebernya.

Guru kreatif dan inovatif, menurutnya, adalah guru yang justru harus mampu membuat susana hidup dan berkembang di depan kelas. Itu artinya para peserta didik tidak boleh dikekang untuk sekadar tenang.

“Beberapa orang diantara kita sebagai guru boleh jadi masih mempertahankan pola pikir pertama di atas,” terangnya.

Guru seperti ini, beranggapan lebih baik suasana tenang dari pada suasana riuh-rendah. Dan, ribut oleh suara-suara peserta didik yang dianggap mengganggu konsentrasi guru dalam mengajar.

“Suasana tenang akan memudahkan guru menyampaikan materi pelajaran dari pada dibumbui dengan suasana ribut. Dengan ketenangan yang tercipta dalam proses pembelajaran, guru akan lebih banyak waktu untuk menyampaikan materi pelajaran. Inilah pandangan sebagian kita yang sesungguhnya teramat keliru,” tegasnya.

Tidak ada yang salah dengan penciptaan suasana tenang selama proses pembelajaran berlangsung. Justru suasana ribut akan mengganggu proses pembelajaran itu sendiri.

“Sepintas, ini memang benar. Hanya saja jika ketenangan yang dimaksud itu adalah ketenangan yang membuat peserta didik ketakutan untuk berkreasi dan berinovasi. Itu sudah jelas sangat bertentangan dengan perinsip pembelajaran yang menyenangkan di K-13. Kurikulum baru ini sama sekali tidak dapat diimplementasikan dengan cara pandang seperti itu,” tandasnya.

Prinsip proses pembelajaran menyenangkan, baginya, adalah prinsip yang mementingkan partisipasi peserta didik lebih aktif dan kreatif dari pada gurunya sendiri.

“Keterlibatannya haruslah lebih tinggi dalam proses pembelajaran tersebut. Waktu-waktu yang tersedia di ruang kelas sejatinya lebih banyak dipakai oleh peserta didik dari pada oleh guru,” tuturnya.

Guru, tidak lagi menjadi tokoh sentral yang mendominasi dalam usaha penyampaian dan pencapaian materi ajar kepada dan oleh peserta didik.

“Jika guru masih berharap peserta didiknya untuk tenang, duduk dan diam saja di kursi masing-masing dengan melipatkan tangan di atas meja, lalu gurunya mendominasi waktu (berceramah dan lainnya) maka itu sama sekali tidak akan mampu menciptakan proses pembelajaran partisipatif yang dituntut K-13,” bebernya.

Suasana seperti itu, lebih banyak melahirkan peserta didik yang penakut dari pada peserta didik yang berani dan jujur. Kejujuran mutlak diutamakan dalam pendidikan.

“Dan itu tentu dimulai dari ruang kelas. Rasa takut sudah jelas akan menjauhkan peserta didik dari kejujuran karena terbinanya keberanian yang baik pada peserta didik,” tambahnya.

Untuk itu, guru sudah sejatinya berpikir bagaimana membuat peserta didik yang menghormati gurunya. Tapi bukan menakuti gurunya.

Ditegaskan, peserta didik yang merasa takut kepada guru akan cenderung berperilaku tidak jujur kepada gurunya. Sebaliknya, peserta didik yang sudah dilatih untuk berani mengemukakan pendapatnya di depan kelas akan cenderung jujur dan apa adanya kepada gurunya.

“Inilah sebenarnya yang diharapkan muncul dari setiap peserta didik. Kelak mereka akan memerlukan sikap jujur dan berani itu ketika sudah berhadapan dan mendapat tanggung jawab di tengah-tengah masyarakat,” katanya.

Apa Tanggapan Anda ?