Tokoh

Evaluasi Ketersediaan Obat di Rumah Sakit, Antarkan Elmi Raih Gelar Doktor

MAGELANG – Berbagai masalah ketersediaan obat di rumah sakit saat ini begitu kompleks. Sedangkan indikator ketersediaan obat yang ada saat ini belum cukup untuk mengevaluasi ketersediaan obat.

“Oleh karena itu, berbagai rumah sakit di Indonesia membutuhkan kanal atau instrumen guna memantau ketersediaan obat sewaktu-waktu,” kata Dr. Apt. Elmiawati Latifah, M.Sc, salah satu dosen pogram studi (Prodi) Farmasi Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Magelang (UNIMMA) yang resmi menyandang gelar doktornya dalam bidang keahlian Manajemen Farmasi dan Farmasi Sosial dari Program Doktor Ilmu Farmasi, Fakultas Farmasi, Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta.

Elmi menyampaikan sidang disertasinya mengenai instrumen evaluasi ketersediaan obat di rumah sakit. Berdasarkan hasil temuannya yang berupa 50 item obat indikator dapat dirumuskan dan diujicobakan untuk menganalisis ketersediaan obat dan keamanan stok pada enam rumah sakit. Terdiri atas 14 item obat global dan 14 item obat regional serta 22 obat nasional.

Sembilan variable dapat diujicobakan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi ketidaktersediaan obat. Dengan jumlah indikator keseluruhan 114 item indikator yang terbagi dalam 22 domain.

Selain itu, hasil temuan Elmi juga menunjukkan model obat indikator dan instrument evaluasi ketersediaan obat cukup efektif dan efisien diterapkan di rumah sakit sebagai rapid assessment. Serta dapat diujicobakan secara berkelanjutan untuk peningkatan akseptabilitas instrumen.

Ditemui di Kampus 2 UNIMMA, Elmi berharap riset yang dilakukannya dapat memberikan dampak terhadap perbaikan pengelolaan obat di rumah sakit. Selain itu, ia berharap, hasil penelitian ini bisa dijadikan instrument praktis yang siap pakai bagi pengelola obat di rumah sakit sebagai rapid assessment ketersediaan obat.

“Sehingga hasil evaluasi tersebut dapat digunakan sebagai dasar pengambilan kebijakan,” tuturnya.

Elmi juga menjelaskan untuk tindak lanjutnya, akan dilakukan sosialisasi untuk meningkatkan akseptabilitas instrumen di rumah sakit dan perumusan policy brief. Selama menempuh pendidikan, Elmi mendapatkan beasiswa dalam masa studi doktornya.

“Tidak mudah menjadi ibu rumah tangga yang bekerja sekaligus menempuh pendidikan. Sampai di akhir masa studi pun masih terus belajar menyeimbangkan semuanya. Salah satu caranya dengan membuat skala prioritas dan manajemen waktu karena keterbatasan masa studi dan beasiswa yang harus dipertimbangkan,” bebernya.

Namun demikian, usaha menyelesaikan studi tersebut mendapat dukungan penuh dari keluarganya. “Alhamdulillah, secara garis besar keluarga mendukung, namun dengan tetap menyeimbangkan peran tanpa mengesampingkan kodrat kita yang utama di dalam keluarga,” urainya.

Selesai sidang itu, Universitas Muhammadiyah Magelang kembali menambah deretan dosen bergelar Doktor. Ibu satu anak ini dalam sidangnya dipromotori oleh (1) Prof. Dr. apt. Satibi, M.Si, (2) Prof. Dr. apt. Dra. Sri Suryawati, dan (3) Dr. apt. Susi Ari Kristina, M.Kes.

Elmi memaparkan penelitiannya yang menggunakan metode penelitian kombinasi (mix methods) kualitatif dan kuantitatif, dengan desain sequential explanatory, yang terbagi menjadi 5 tahap penelitian di enam rumah sakit di Yogyakarta.

Penelitian yang dilakukannya juga menggunakan instrument software NVIVO 12 dalam proses analisis data. Sementara itu, dalam perumusan obat indikator dan instrument evaluasi menggunakan metode WHO HAI (Health Action International) dan MSH (Management Sciences for Health). (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?