Nasional

Empat Tipe Aparatur Sipil Negara

YOGYAKARTA – Aparatur Sipil Negara (ASN) dibagi menjadi empat tipe. Pertama tipe Deadwood yaitu ASN yang berkinerja buruk, tidak bersemangat dan kurang bersyukur. Tipe kedua Trainee yang ingin belajar, antusias dan berpikiran terbuka. Tipe ketiga Workhorse yang memiliki kompetensi, sering mengeluh dan merasa lebih berhak.

“Dan tipe terakhir yang terbaik adalah Star yang selalu memperbaiki diri, berinisiatif dan suka membagi pengetahuan,” kata Plt. Kepala Badan Kepegawaian Negara Bima Haria Wibisana, Ph.D.

Ia mengatakan, menyitir arahan Presiden RI Joko Widodo, prioritas tahun 2019-2024 adalah pengembangan sumber daya manusia menuju era teknologi dan informasi, melanjutkan pembangunan infrastruktur, menyederhanakan regulasi, reformasi birokrasi dan transformasi ekonomi. Hal ini sesuai dengan perubahan di tempat kerja. Diantaranya banyak jenis pekerjaan yang akan digantikan teknologi informasi, inovasi tempat bekerja dan perubahan pola interaksi kerja.

“Keterampilan umum Aparatur Sipil Negara di era new normal adalah keterampilan bidang informasi, media dan teknologi, keterampilan pembelajaran dan berinovasi, keterampilan kehidupan dan karir, serta keterampilan berkomunikasi,” jelasnya.

Sedangkan kompetensi pada masa depan adalah kreativitas, persuasif, kemampuan berkolaborasi, adaptif, manajemen waktu, cloud computing, kecerdasan buatan dan penalaran analitis. Ia menyampaikan itu dalam forum diskusi pengembangan kompetensi aparatur sipil negara di era digital di UNY.

Lebih lanjut Bima mengatakan bahwa tren normal baru pekerjaan ASN yaitu peningkatan volume dan konektivitas data kerja, peningkatan tuntutan analisis dan pengolahan big data. Serta peningkatan transaksi dan interaksi pekerjaan secara digital.

“Aparatus sipil negara tidak hanya bekerja dari rumah namun juga bisa bekerja paruh waktu dan membagi pekerjaan,” katanya.

Pria kelahiran Jakarta 19 Juli 1961 tersebut memaparkan bahwa pengembangan talenta ASN berbasis profil adalah melalui dua hal. Yaitu kompetensi dan prestasi.

“Dalam hal ini ASN yang berprestasi dan berkompetensi tinggi dapat diberi penghargaan, promosi jabatan, pendampingan dan pengayaan pekerjaan. Juga diberikan pelatihan, training serta perluasan pekerjaan,” jelas Doktor lulusan University of Pittsburgh, USA tersebut.

Sementara itu, kegiatan dibuka oleh Kepala Biro UPK UNY Sukirdjo, M.Pd yang mengatakan bahwa kegiatan ini diselenggarakan dalam rangka pencerahan tentang kinerja ASN di era digital. “Harapannya dengan diskusi ini bisa memberi wawasan pengetahuan dalam penyusunan kebijakan dalam pengembangan kompetensi ASN,” kata Sukirdjo.

Hasil diskusi juga bisa menjadi tindaklanjut individu maupun kelembagaan untuk langkah kedepan yang lebih baik. Diskusi dilakukan secara luring dan daring dengan mengundang sejumlah mitra kerja seperti LLDikti, BPCB DIY dan perguruan tinggi seperti UGM, ISI, Untidar dan sebagainya. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?