KARYA. Buku sastra karya Pramoedya Ananta Toer. (sumber: tirto.id)
Opini

Perpaduan Bahasa: Campur Kode dalam Karya Sastra Novel Indonesia

Siedoo, Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat yang menjunjung tinggi budaya daerahnya masing-masing, termasuk bahasa yang menjadi khas suatu etnik tertentu. Namun, masyarakat Indonesia juga menggunakan bahasa Indonesia sebagai alat berbahasa nasional, serta bahasa asing (bahasa Inggris, bahasa Mandarin, bahasa Arab, dan lain-lain) yang muncul akibat pengaruh globalisasi.

Oleh karena itu, masyarakat Indonesia disebut masyarakat bilingual atau multilingual, yakni masyarakat yang mampu berkomunikasi dengan menggunakan dua bahasa atau lebih. Namun, perbendaharaan bahasa yang banyak tersebut akhirnya membuat masyarakat Indonesia sulit untuk menggunakan satu bahasa saja.

Saat mengomunikasikan pikiran, masyarakat Indonesia cenderung menggunakan beberapa bahasa yang dicampuradukkan sehingga memunculkan suatu kasus campur kode dalam kehidupan.

Campur kode atau code mixing adalah percampuran dua atau lebih bahasa atau ragam bahasa dalam suatu tindak bahasa tanpa ada sesuatu dalam situasi berbahasa itu yang menuntut percampuran bahasa itu (Nababan, 1991: 32).

Sebagai masyarakat bilingual, campur kode telah menjadi hal yang lazim di kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Tidak hanya dalam proses komunikasi, campur kode di Indonesia bahkan telah merebak sampai ke dunia kepenulisan.

Karya sastra novel merupakan salah satu karangan prosa bebas yang paling banyak ditemukan campur kode di dalam penulisannya. Campur kode dalam novel Indonesia seolah menjadi hal yang keren dan kekinian yang harus dilakukan. Eksistensi campur kode semakin terlihat nyata ketika banyak buku yang memuat campur kode yang mampu meraih penjualan terbaik (best seller).

“Man jadda wajada[sic!],” teriakku pada diri sendiri. Sepotong syair Arab yang diajarkan di hari pertama masuk kelas membakar tekadku. Siapa yang bersungguh-sungguh akan sukses. Dan sore ini, dalam 3 jam ini, aku bertekad akan bersungguh sungguh menjadi jasus. Aku percaya Tuhan dan alam-Nya akan membantuku, karena imbalan kesungguhan hanyalah kesuksesan. Bismillah [sic!] (Fuadi, 2009: 72).

Baca Juga :  Atasi Jerawat dengan Jahe, Karya Mahasiswa UNY

Kutipan tersebut adalah kutipan dari salah satu buku karya Ahmad Fuadi, pengarang yang tak segan menggunakan campur kode dengan melibatkan pemakaian delapan bahasa sekaligus, yakni: bahasa Indonesia, bahasa Arab, bahasa Inggris, bahasa Perancis, dan bahasa daerah yang terdiri dari bahasa Sunda, bahasa Minang, bahasa Jawa, dan bahasa Batak dalam novelnya yang berjudul Negeri 5 Menara.

Meskipun terbilang cukup rumit untuk dipahami dengan banyaknya bahasa yang digunakan, terbukti novel tersebut mampu masuk ke jajaran best seller toko buku Gramedia pada tahun 2009 saat novel ini pertama kali diterbitkan.

Namun berbeda dengan penulis Negeri 5 Menara, Pramoedya Ananta Toer, penulis Indonesia yang telah mendunia itu dalam novelnya yang berjudul Bumi Manusia tetap mengedepankan pemakaian bahasa Indonesia secara utuh walaupun tokoh-tokoh tersebut berasal dari latar belakang kebudayaan dan negara yang berbeda.

Malah, novel tersebut mampu masuk ke jajaran best seller dan menarik perhatian penerbit luar negeri meskipun Pramoedya Ananta Toer dalam novelnya tidak menuliskan dialog berbahasa asing. Ia hanya memberikan keterangan di awal atau di akhir kalimat dialog tersebut menggunakan bahasa apa.

“Mengapa kau diam saja?” tegur Annelies dengan suara manis dalam bahasa Belanda pergaulan (Toer, 2011: 12).

Dari kutipan-kutipan novel tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa campur kode biasanya ditampilkan dalam dialog-dialog dengan beberapa sebab. Selain penulis ingin mempertegas pembaca bahwa tokoh adalah orang asing, tujuan dari penggunaan campur kode adalah agar pembaca lebih dekat dengan cerita karangannya.

Dengan percampuran bahasa, pembaca akan lebih mendalami peran dan alur dari cerita tersebut. Penggunaan campur kode juga berfungsi untuk mengedukasi pembaca terhadap bahasa-bahasa asing yang terdapat dalam novel tersebut dengan tidak melupakan bahasa Indonesia sebagai bahasa utamanya. Edukasi yang dimaksud adalah agar pembaca dapat mempelajari bahasa yang digunakan dalam novel tersebut selain bahasa utamanya.

Baca Juga :  Dosen Tidak Hanya Transfer Ilmu, Tetapi Transfer Nilai Pendidikan

Penggunaan campur kode juga berkaitan dengan bahasa ibu, yakni bahasa yang menjadi awal atau dasar seseorang mengenal bahasa (biasanya bahasa daerah) dan dipakai di kehidupan sehari-hari yang sebelum mengenal bahasa Indonesia.

Penulis menggunakan bahasa ibu (bahasa daerah) untuk mempermudahkan diri dalam mengungkapkan gagasan atau ide terhadap karangannya tatkala sulit untuk menemukan kata yang sesuai dengan bahasa utama yang dipakai untuk menulis novel tersebut. Hal ini juga berhubungan dengan keterbatasan perbendaharaan kata seorang penulis (biasanya dialami oleh penulis pemula).

Selain itu, istilah-istilah populer yang tidak baku yang beredar di lingkungan karena pegaruh globalisasi juga turut mendorong penulis untuk melakukan percampuran bahasa atau campur kode supaya novel yang dibuat terlihat lebih kekinian dan mengikuti perkembangan zaman.

Berbagai penyebab dari campur kode dalam karya sastra novel Indonesia yang telah dijelaskan tentu berdampak langsung terhadap novel itu sendiri. Apabila penulis memiliki keterampilan yang mumpuni untuk menggunakan campur kode, maka hal tersebut dapat menambah kualitas novel yang akan berpengaruh langsung terhadap ketertarikan pembaca serta peningkatan penjualan novel tersebut.

Sebaliknya, apabila campur kode yang digunakan tidak ditempatkan dengan baik, maka hal tersebut hanya akan menimbulkan keruwetan dan kesulitan pembaca dalam memahami novel tersebut. Namun terlepas dari dampaknya, campur kode boleh saja dilakukan oleh penulis manapun mengingat tidak adanya aturan baku yang membatasi dalam dunia kepenulisan novel.

Pada intinya, campur kode dalam novel Indonesia adalah percampuran dua bahasa atau lebih yang digunakan pada sebuah novel sebagai upaya untuk menarik perhatian pembaca novel tersebut. (*)

Alfian Nur Azizah

Mahasiswa UNY

Apa Tanggapan Anda ?